.comments-page { background-color: #00BFFF;} #blogger-comments-page { padding: 0px 5px; display: none;} .comments-tab { float: left; padding: 5px; margin-right: 3px; cursor: pointer; background-color: #f2f2f2;} .comments-tab-icon { height: 14px; width: auto; margin-right: 3px;} .comments-tab:hover { background-color: #eeeeee;} .inactive-select-tab { background-color: #d1d1d1;} -->

Friday, June 7, 2013

DAERAH KARST

Keberadaan kawasan karst di Indonesia, dewasa ini dianggap memiliki nilainilai yang sangat strategis. Di seluruh wilayah kepulauan Indonesia, luas kawasan karst mencapai hampir 20 % dari total luas wilayah. Nilai-nilai strategis yan dimaksud, selain merupakan kawasan sebagai pemasok dan tandon air untuk keperluan domestik (PBB memperkirakan persediaan air sekitar 25 % penduduk dunia merupakan sumber air karst, Ko 1997), juga mempunyai sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan menambah devisa negara seperti pariwisata, penambangan bahan galian, penghasil sarang burung walet, bahkan sangat terkaitpula dengan bidang HANKAM/militer, serta intelijen.
Disamping beberapa nilai strategis diatas, oleh para ilmuwan/scientist, kawasan karst dianggap sebagai laboratorium alam yang sarat akan obyek-obyek yang dapat dikaji/diteliti. Banyak hasil penelitian skripsi, thesis, maupun disertasi, telah dihasilkan oleh kawasan ini pada berbagai macam disiplin ilmu. Setiap tahunselalu ada saja para karstolog, baik asing maupun domestik yang berkunjung untuk melakukan riset. Dari pernyataan ini dapat dilihat betapa besar sumbangan kawasan karst dalam dunia ilmu pengetahuan. Oleh para penelusur goa, yang jumlahnya semakin banyak, kawasan karst dengan goa-goa bawah tanah yangdapat ditelusuri dianggap sebagai lahan petualangan mereka, untuk menikmati fenomena bawah permukaan yang menakjubkan, tentu saja tanpa meninggalkanazas-azas konservasi goa.
TERMINOLOGI
Istilah karst yang dikenal di Indonesia sebenarnya diadopsi dari bahasa Yugoslavia/Slovenia. Istilah aslinya adalah ‘krst / krast’ yang merupakan nama suatu kawasan di perbatasan antara Yugoslavia dengan Italia Utara, dekat kota Trieste. Moore and Sullivan (197 8) menyebutkan bahwa istilah karst diperoleh dari bahasa Slovenia, terdiri dari kar (batuan) dan hrast (oak), dan digunakan pertama kali oleh pembuat peta- peta Austria mulai tahun 1774 sebagai suatu nama untuk daerah berbatuan gamping berhutan oak di daerah yang bergoa di sebelah Barat laut Yugoslavia dan sebelah Timur Laut Italia.
Beberapa ilmuwan lain menyebutkan pula bahwa asal mula ditemukannya daerah yang akhirnya dinamakan karst adalah karena akibat adanya perumputan (grassing) oleh ternak-ternak pada suatu kawasan, sehingga tersingkaplah batuan dan fenomena didalamnya yang ternyata sangat khas dan unik. Istilah karst ini akhirnya dipakai untuk menyebut semua kawasan berbatuan gamping di seluruh dunia yang mempunyai keunikan dan spesifikasi yang sama, karena proses pelarutan (solusional), bahkan berlaku pula untuk fenomena pelarutan pada batuan lain seperti gypsum, serta batuan garam dan anhidratnya. Beberapa istilah dalam karst yang juga diambil dari daerah ini diantaranya adalah bentukan Polje yang merupakan nama suatu kota di Yugoslavia, Beberapa istilah bentukan karst yang lain diantaranya adalah bukit dan tower karst, diaklas, pinacle, cockpit, uvala, doline, sinkhole, goa, lapies, speleothem, sungai bawah tanah, dll.
Beberapa ahli menggunakan karst sebagai istilah untuk medan dengan batuan gamping yang dicirikan oleh drainase permukaan yang langka, solum tanah tipis dan hanya setempat-setempat, terdapatnya cekungan-sekungan tertutup (dolin), dan terdapatnya sistem drainase bawah tanah (Summerfield, 1991). Ford dan Wiliam (1996) mendefinisikan secara lebih umum sebagai medan dengan karakteristik hidrologi dan bentuklahan yang diakibatkan oleh kombinasi dari batuan mudah larut dan mempunyai porositas sekunder yang berkembang baik. Karst sebenarnya tidak hanya terjadi di batuan karbonat, namun sebagian besar karst berkembang di batugamping. Ciri utama kawasan karst adalah terdapatnya cekungan-cekungan tertutup yang disebut sebagai dolin. Apabila dolin saling menyatu membentuk uvala. Di beberapa tempat, dolin dapat terisi air membentuk danau dolin. Kenampakan permukaan daerah karst selain doline dan uvala adalah polje, ponor, pinacle, menara karst, atau kubah karst. Kombinasi dolin dan kubah menyebabkan panorama karst menjadi unik dengan bukit-bukit yang terhampar luas.
Keunikan lain dari kawasan karst adalah keberadaan goa dan sungai bawah tanah. Goa-goa tersebut pada umumnya bertingkat dengan ukuran kurang dari satu meter hingga ratusan meter persegi dengan bentuk vertikal miring maupun horisontal. Goa-goa karst hampir semuanya dihiasi dengan ornamen (speleothem) yang sangat beragam dari mulai yang sangat kecil (helectite) hingga yang sangat besar (column) dengan bentuk dan warna yang bervariasi.
SEBARAN KARST DI INDONESIA
Sebagian besar kawasan karst di Indonesia tersusun oleh batuan karbonat, dan hampir tidak ada yang tersusun oleh batuan lain seperti gipsum, batugaram, maupun batuan evaporit. Hampir di setiap pulau di Indonesia memiliki batuan karbonat, tapi tidak semuanya terkartsifikasi menjadi kawasan karst. Menurut Balazs (196 8) terdapat 17 lokasi yang dapat dikategorikan sebagai kawasan karst.
Karst di indonesia seperti yang ditulis oleh Balazs tersebar di sebagian besar pulau-pulau di Indonesia, namun demikian tidak semuanya berkembang dengan baik. Balazs (196 8) selanjutnya mengidentifikasi terdapat tujuhbelas kawasan karst mayor di Indonesia seperti ditunjukkan pada Lampiran 1. Diantara kawasan karst tersebut, terdapat dua kawasan karst yang paling baik dan dianggap sebagai prototipe dari karst daerah tropis, yaitu karst Maros dan Gunung Sewu.
Karst Maros dicirikan dengan berkembangnya Menara Karst (Mogote), yaitu bentukan positif dengan dinding-dinding terjal yang relatif tinggi. Ketinggian dari muka laut berkisa antara 300 – 550 meter, sedangkan relief bervariasi dari 100 – 250 meter. Batuan gamping di karst Maros diendapkan pada Eosen. Luas karst Maros secara keseluruhan mencapai 650 km2 dengan intikarst sekitar 300 km2.
Karst Gunung Sewu dicirikan dengan berkembangnya kubah karst (Kegle Karst), yaitu bentukan positif yang tumpul, tidak terjal atau sering diistilahkan kubah sinusoidal (Lehman, 1936). Ketinggian tempat berkisar antara 300 – 500 meter dari muka laut dan relief bervariasi antara 50 – 150 meter. Batuan gamping di Karst Gunung Sewu berumur Miosen dan mengalami karstifikasi mulai akhir pliosen hingga awal pleistosen. Karst gunung sewu juga dicirikan dengan bentukan doline yang setiap musim penghujan selalu terisi air yang kemudian disebut telaga, yang jumlahnya ratusan. Luas karst Gunung Sewu mencapai 3300 km2 yang meliputi Propinsi DIY, Jawa Tengah, dan Propinsi Jawa Timur.
SUMBERDAYA ALAM KARST
Sumberdaya mineral
Salah satu sumberdaya mineral yang terbesar di kawasan karst Indonesia adalah batuan kerbonat. Batuan karbonat merupakan sumberdaya mineral yang penting baik sebagai bahan bangunan, batu hias, dan industri. Sebagai bahan bangunan batuan karbonat digunakan untuk fondasi rumah, jalan, jembatan, dan isian bendungan. Pemanfaatan terbesar batugamping di Indonesia adalah sebagai bahan baku semen. Penambangan batu gamping di Indonesia telah dilakukan besar-besaran di Cibinang, Gresik, Tuban, Nusakambangan, Gombong, Padang, dan Tonasa. Untuk memproduksi satu ton semen diperlukan paling sedikit satu ton batugamping di samping lempung dan kuarsa.
Batuan karbonat juga digunakan sebagai bahan baku industri dalam pembuatan karbid, peleburan baja, bahan pemutih, soda abu, penggosok, pembuatan logam magnesium, pembuatan alumina, plotasi, pembasmi hama, penjernih air, bahan pupuk, dan keramik. Manfaat batuan karbonat terutama marmer yang tidak kalah pentingnya adalah sebagai batu hias, yaitu sebagai lantai, dinding, atau cindera mata.
Sumberdaya lahan
Sumberdaya lahan di kawasan karst tidak begitu besar, namun demikian nilai manfaatnya sangat berarti bagi penduduk yang tinggal di tempat tersebut sebagai penghasil bahan pangan sehari-hari. Lahan yang berpotensi cukup tinggi di kawasan karst adalah di lembah-lembah atau dolin pada daerah karst. Potensi lahan semakin lebih baik apabila proses-proses fluvial mulai bekerja disamping proses solusional. Tanah yang berkembang di lembah-lembah atau dolin pada umumnya terarosa dengan tektur lempungan, kedalaman sedang, warna kemerahmerahan.
Lahan di kawasan karst, terutama di daerah lembah dapat ditanami tanaman semusim lahan kering atau sawah tadah hujan. Disamping itu, lahan di daerah tersebut sangat sesuai untuk tanaman jati. Beberapa komoditas pertanian lain saat ini banyak diusahakan oleh masyarakat walaupun tidak sebaik di dataran aluvial, seperti jambu mete dan tanaman buah.
Sumberdaya air
Sifat akifer karst yang unik dan sukar untuk diprediksi, akifer yang berupa lorong konduit, permeabilitas batuan yang tidak seragam, serta banyaknya retakan yang menyebabkan terjadinya kebocoran-kebocoran dalam satuan tubuh perairan karst merupakan suatu hal yang menantang untuk diteliti serta dikaji lebih dalam. Akifer yang unik menyebabkan sumberdaya air di kawasan karst terdapat sebagai sungai bawah tanah, mataair, danau dolin/telaga, dan muara sungai bawah tanah (resurgence). Kawasan karst disinyalir merupakan akifer yang berfungsi sebagai tandon terbesar keempat setalah dataran aluvial, volkan, dan pantai. Walaupun saat ini dirasa masih terlalu mahal untuk memanfaatkan sungai bawah tanah, dimasa mendatang akifer karst merupakan sumber air yang dapat diharapkan. Kawasan karst Kabupaten Gunung Kidul misalnya memiliki danau dolin mencapai ratusan buah, sedangkan jumlah mataair dan sungai bawah tanah mencapai 178 buah.
Sumberdaya air di kawasan karst pada umumnya belum dimanfaatkan, baik sebagai sumber air baku maupun sebagai budidaya perairan. Danau dolin di Kabupaten Gunung Kidul misalnya belum dimanfaatkan untuk aqua kultur. Demikian halnya dengan mata air, pada umumnya mataair terutama di daerah karst belum dimanfaatkan dengan optimal. Mata air epikarst dikenal menurut studinya Linhua (1996) mempunyai kelebihan dalam hal:
<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Kualitas air. Air yang keluar dari mataair epikarst sangat jernih karena sedimen yang ada sudah terperangkap dalam material isian atau rekahan.
<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Debit yang stabil. Mataair yang keluar dari mintakat epikarst dapat mengalir setelah 2-3 bulan setelah musim hujan dengan debit relatif stabil.
<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Mudah untuk dikelola. Mataair epikarst umumnya muncul di kaki-kaki perbukitan, sehingga dapat langsung ditampung tanpa harus memompa.
Sumberdaya hayati
Sumberdaya hayati di kawasan karst tidaklah melimpah, hal ini disebabkan tipisnya tanah dan langkanya air tanah di kawasan tersebut. Kawasan karst dikenal dengan daya tahannya (resilience) yang rendah terhadap perubahan atau gangguan (Gillieson, 1997). Namun demikian kawasan karst yang belum terjamah oleh aktivitas manusia pada umumnya berhutan lebat dengan segenap satwa penghuninya, seperti Karst di Irian Jaya yang mencapai ketinggian di atas 4.000 meter dari muka laut. Gunung Kidul yang saat ini gersang dilaporkan oleh Junghuhn (1845) dulunya merupakan hutan yang lebat. Sekalipun telah gundul di kawasan karst Gunung Kidul dijumpai jenis satwa dan fauna yang sangat beragam. Satwa kawasan karst Gunung Sewu yang khas dijumpai diantaranya adalah walet, kelelawar, dan ular kobra.
Sumberdaya hayati kawasan karst terutama yang telah berkembang menjadi karst yang menonjol adalah kehidupan hayati di ekosistem goa. Walaupun tidak melimpah, kehidupan gua memiliki arti penting terutama dalam ilmu pengetahuan. Ekosistem goa telah menjadi obyek kajian yang menarik bagi ahli ilmu biologi untuk mempelajari pola adaptasi fauna dari lingkungan terang ke lingkungan gelap abadi. Disamping itu, goa merupakan habitat burung Walet dengan sarangnya yang sangat mahal nilai jualnya.
Sumberdaya lansekap
Lanksekap di kawasan karst mempunyai nilai keindahan dan keunikan yang tinggi, baik di permukaan (eksokarst ) maupun bawah permukaan (endokarst). Di permukaan, kawasan karst dihiasi oleh ribuan kubah-kubah karst atau menara karst dengan sesekali ditemukan ngarai yang terjal, dolin, dan danau dolin. Keindahan panorama karst juga dapat dijumpai apabila karst berbatasan dengan laut dengan membentuk tebing-tebing terjal (clift).
Keindahan di bawah permukaan kawasan karst didapatkan pada goa-goa beserta ornamennya. Goa-goa tersebut dapat berupa goa vertikal (shaft), cimne, maupun goa horinsontal. Sedangkan ornamen (speleothem) yang dimiliki goa sangat bervariasi baik bentuk, warna, dan ukurannya. Keunikan lain dari goa adalah terdapatnya ruangan bawah tanah (chamber) dan sungai di beberapa goa dengan bendungan alamnya. Luas ruangan bawah tanah bisa mencapai satuan hektar, walaupun dipermukaan hanya berdiameter satu atau dua meter.
PERMASALAHAN
Kawasan karst dikenal sebagai suatu lingkungan yang memiliki daya dukung sangat rendah, dan tidak dapat diperbaiki jika telah mengalami kerusakan. Karena sifatnya, daerah karst dapat disebut merupakan daerah yang sangat rentan, atau peka terhadap pencemaran. Hal ini disebabkan banyaknya rekahan (joint) pada batuan gamping penyusun topografi karst sehingga pori-pori yang besar, permeabilitas sekunder yang tinggi, derajat pelarutan batuan yang tinggi, menyebabkan terjadinya lorong-lorong conduit yang merupakan sungai bawah tanah, sehingga masukan sekecil apapun akan diterima dan terperkolasi melaui pori-pori dan memasuki lorong-lorong sungai bawah tanah dan tersebar dengan mudah. Kawasan karst dapat dilihat sebagai suatu ekosistem, yang didalamnya terdapat hubungan interaksi dan interdependensi antar lingkungan fisik, non fisik, hayati dan non hayati, serta biogeokimia baik itu pada eksokarst, maupun endokarst yang senantiasa berhubungan. Hal ini menunjukkan bahwa sangat mudahnya lingkungan karst itu rusak, bila salah satu komponen penyusunnya rusak atau tercemar. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa lingkungan karst mempunyai daya dukung yang sangat rendah.Karena sifatnya itu, daerah karst Gunung Sewu memiliki kerentanan yang sangat tinggi.
Benturan kepentingan untuk melakukan konservasi serta tekanan penduduk untuk memanfaatkan sumberdaya alam karst pada akhirnya menimbulkan beberapa permasalahan degradasi lahan karst yang terinventarisasi sebagai berikut:
1. Kegiatan Penambangan
Kegiatan penambangan di kawasan karst sudah dapat dikatakan sangat intensif. Penambangan pada kawasan karst sudah menjadi kegiatan industri, baik itu yang berskala kecil, sedang, dan besar seperti pabrik semen. Umumnya, kegiatan penambangan adalah penambangan terhadap batu gamping yang mengikis kubah-kubah karst. Efek yang terjadi sebagai akibat kegiatanpenambangan diantaranya adalah Penurunan indeks keanekaragaman hayati , Erosi dan sedimentasi, Penurunan tingkat kesuburan tanah, Perubahan bentang alam/ lahan, dan Pencemaran badan udara dan perairan
2. Penebangan vegetasi
Kegiatan penebangan di karst Gunung Sewu sudah terjadi sejak puluhan tahun yang lalu. Hasilnya dapat dilihat bahwa sekarang sebagian besar wilayah ini merupakan lahan kritis dan gundul. Beberapa hal yang diakibatkan oleh penebangan vegetasi adalah :P enurunan penguapan (evapotranspirasi), Peningkatan kadar C02 dalam tanah, Peningkatan permeabilitas tanah permukaan (topsoil), dan menurunnya permeabilitas subsoil. Beberapa akibat ini dapat menyebabkan akibat yang lebih destruktif lagi, yaitu tingkat erosi permukaan yang sangat tinggi, yang pada akhirnya hilangnya lapisan tanah. Pembusukan akar-akar pohon yang terjadi telah mengakibatkan berkurangnya fungsi tanah sebagai pengikat untuk menjaga kestabilan lereng.
3. Peternakan.
4. Pembangunan jalan raya.
5. Aktivitas domestik lain.
Beberapa hal diatas sebagian sudah merusak ekosistem karst yang ada. Degradasi yang ada akan menurunkan tingkat sumberdaya, baik sumberdaya air maupun sumberdaya lahannya. Berdasarkan masalah yang ada, perlu adanya inventarisasi masalah, inventarisasi sumberdaya lahan, sumberdaya air, untuk kemudian dikelompokkan sesuai dengan tingkat dan intensitasnya.
KONSERVASI DAN PERUNDANG-UNDANGAN
Pengertian Konservasi Sumberdaya Alam menurut UU LH no 4 tahun 1984 adalah pengelolaan sumberdaya alam yang menjamin pemanfaatan secara bijaksana, dan abagi sumberdaya alam terbaharui menjamin keseimbangan persediaan dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai keanekaragamannya. Dari pengertian ini tampak secara harfiah bahwa kawasan karst dengan segala kerentanannya layak untuk diprioritaskan sebagai kawasan konservasi.
Peraturan perundangan lain yang berkaitan dengan konservasi kawasan karst diantaranya adalah PP Ri No;28 tahun 1985 tentang perlindungan hutan dimana goa, baik yang berada pada kawasan hutan maupun non hutan dikelola oleh departemen Kehutanan bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat. Untuk mengatur pertambangan di kawasan karst ada pula UU no 11 tahun 1967, Peraturan Menteri pertambangan dan Energi no.04/P/M/1977, serta PP no 51 mengenai AMDAL. Semua peraturan perundang-undangan ini mendukung konservasi kawasan karst.
Penataan kawasan konservasi karst tidak akan bisa dilaksanakan tanpa mengetahui data-data dari segala aspek yang ada pada kawasan ini, yang mencakup aspek eksokarst, endokarst, maupun sistem antar keduanya. Tabel 2 berikut ini merupakan contoh penataam ruang karst berdasar tipologi kawasan karst.

TABEL 2. ARAHAN PENGEMBANGAN KAWASAN KARST

MINTAKAT
KARAKTERISTIK
FUNGSI UTAMA
KEGIATAN

Holokarst
Karst berkembang baik, semua ciri-ciri karst (ponor, dolin, uvala, kubah atau menara karst, go-goa, dan sungai bawah tanah) dapat ditemukan
Fungsi lindung
Bentangalam dan
ekosis-tem yang ada di
dalamnya harus tetap
dipertahankan
keasliannya.

Telah berpenghuni
Wisata, pertanian terbatas,
perikanan danau dolin,
permukiman terbatas
Belum berpenghuni
Wisata terbatas
Mesokarst
Karst tidak berkembang dengan baik, kenampakan karst (ponor, dolin, uvala, kubah atau menara karst, goa-goa, dan sungai bawah tanah) jarang ditemukan
Fungsi penyangga
Bentang alam dapat dirubah dengan pertimbangan ketat

Pertanian, perikanan,
tambang, permukiman
atau industri dengan skala
kecil
Non karst
Batuan karbonat tidak
mempunyai ciri-ciri karst
Fungsi budidaya
Semua kegiatan dapat
dilakukan
PROSPEK
Di Indonesia, faktor ekstern karst (eksokarst) lebih banyak digeluti oleh para geologist dan geomorfologist, dan faktor intern (endokarst) oleh para speleologist. Perkembangan aktivitas yang dimulai sekitar awal 1980 dipelopori oleh penggemar penelusuran goa yang tergabung dalam Specavina, yang kemudian menjadi embrio dari Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia (HIKESPI) yang berkedudukan di Bogor. Memang pada kenyataannya aktivitas kegiatan pada kawasan karst lebih banyak dilakukan oleh para penggemar kegiatan alam bebas yaitu penelusur goa (caver). Hampir di setiap propinsi mempunyai perhimpunan penggemar alam bebas yang berbasis pada kegiatan caving ini.
Dari segi eksokarst, perkembangan aktivitas di Indonesia dirasakan lebih lambat ataupun tidak tersedianya perhimpunan yang mengkoordinir kegiatan ataupun riset. Pada sekitar tahun 1997 berdirilah Masyarakat Pemerhati Karst Indonesia (MAKARTI) yang dilanjutkan dengan Perhimpunan Ekokarstologi Indonesia (PEKINDO), yang bertujuan untuk menghimpun kegiatan yang berkaitan dengan kawasan karst secara nasional. Dua organisasi inidiharapkan akan mampu menjembatani pemerhati endokarst maupun eksokarst.
Dari segi keilmuan, penelitian-penelitian tentang kawasan karst di Indonesia telah cukup berkembang baik. Penelitian-penelitian tersebut dilakukan baik oleh pribadi, institusi pendidikan, lembaga – lembaga pemerintah, LSM, maupun penggemar kegiatan alam bebas. Obyek dan materi penelitian telah meluas menjadi beberapa cabang ilmu diantaranya sebagai berikut :
Hidrologi dan hidrospeleologi karst, Geomorfologi karst, Litologi karst, Startigrafi kawasan karst, Peleontologi karst, Arkeologi karst, Biospeleologi karst, Ekologi karst, Speleogenesis, Konservasi karst, Perlindungan burung walet dan kelelawar, Vegetasi karst, Sosiobudaya karst, Undang-undang kawasan karst, Penelusuran goa dan cave rescue, Pedologi karst, Pemetaan goa, Foto udara dan remote sensing kawasan karst, Tata Ruang karst, dll
Melihat banyaknya perhatian dan riset pada berbagai cabang ilmu yang berkaitan dengan kawasan karst di Indonesia ,patut kiranya diambil kesimpulan bahwa kawasan karst di Indonesia merupakan obyek yang sangat menarik untuk riset dan sangat kaya akan permasalahan serta karakteristik yang potensial untuk diteliti.
PENUTUP
Demikian beberapa hal mengenai karst di Indonesia, tipical karst termasyur dari kawasan karst Gombong ,Gunung Sewu, serta Maros dan tempat lain , masih berupa teka-teki yang menantang untuk dikaji lebih dalam. Tantangan untuk mewujudkan karst sebagai kawasan konservasi terbentang untuk melestarikan monumen dunia ini. International Geography Union (IGU) melalui komisi karst pernah berencana mengadakan konggres tahunan di Indonesia untuk membahas perkembangan ilmu karst di dunia, serta berencana menominasikan karst Gunung Sewu sebagai Warisan Dunia (World Heritage), namum terbentur kelembagaan yang terkait kawasan karst ini di Indonesia yang ternyata sampai saat ini belum siap.
Dalam kesempatan PIT IGI 1999 ini, diharapkan akan munculnya komitmen para geograf se-Indonesia terutama yang berminat pada kawasan karst untuk bersama-sama memikirkan, mendiskusikan, serta berupaya positif menjadikan kawasan karst sebagai salah satu obyek kajian utama pada pertemuan-pertemuan yang akan datang. Diharapkan pula kan adanya kegiatan-kegiatan secara bersama untuk megembangkan keilmuan karst di Indonesia dengan terbentuknya semacam forum komunikasi yang diharapkan akan dapat berkembang menjadi Komisi Karst IGI yang tentunya akan dapat menjalin kerjasama dengan komisi karst IGU untuk lebih memperhatikan dan mengkaji kawasan karst di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Appelo, CAJ. 1986. Hidrochemistry. Amsterdam : InstItute of Earth Sicience, Free UniversIty.
Army Caving Association (ACA), 1986, 1986 – Java ExpedItion, ACA and RCT. London.
Balas, 1968, Karst Region in Indonesia, Karszt-Es Barkangkutatas-Volume V, Budapest.
Bedos, A, L. Deharveng, P. Leclerc, D. Rigal, dan P.Solier, 1990, Expeditions Maros 88 – Maros 89, Association Pyrennene de Seoleologie, France.
Bemmelen, R.W. Van. 1949. The Geology of Indonesia. The Hague : Government Printing Office.
Billings, M.P. 1960. Structural Geology. New York: Prentice – Hall, Englewood Clifffs.
Chow, Van Te. 1964. Hand-Book of Applied Hydrology. London : McGraw – Hill Book Company.
FakuItas Kehutanan UGM, 1993, Studi Penanganan Daerah Tangkapan Air (DTA) Sungai Bribin Gunung Kidul, FakuItas Kehutanan UGM, Kerjasama dengan Proyek Gerakan Penghijauan dan Penyuluhan Kehutanan DIY, Yogyakarta.
Ford, D.C. dan P.W. Wiliam, 1995, Karst Geomorphology and Hydrology, Chapmand Hall, London.
Gillieson, D., 1991, Caves: Processes, Development, Managements, Blackwell Publisherrs Ltd, Oxford, UK.
Harjosoemantri, K., 1991 Hukum Perlindungan Lingkungan : Komservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Gadjam Mada Univ Press, Yogyakarta.
Hem, J.D. 1971. Study and Interpretation of The Chemical Characteristic of Natural Water. U.S. Geological Survey Supply Zpaper No. 1473. Washington D.C. : Government Printing Office.
HIKESPI. 1996. Kumpulan Makalah Simposium Lingkungan Karst. Jakarta. HIKESPI.
Ko, R.K.T., MD.DV., 1984. Peranan Ilmu Speleologi Dalam Penyelidikan Fenomena Karstik dan Sumberdaya Tanah dan Air – Sebuah Informasi Soal Speleologi, Ceramah Pada Pusat Penelitian Tanah –Bogor, Bogor.
Kunto Wibisono. 1991. Karakteristik Airtanah Formasi Batugamping Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Skripsi Sarjana, Yogyakarta : FakuItas Geografi, UniversItas Gadjah Mada.
Lehmann, H., 1936, Morphologische tudien auf Java, Geogr. Abhandl. 9, Stutgard.
Linhua, S, 1996, Mechanism of Karst Depresion Evolution and Its Hydrological Ecolution, Acta Geographica Sinica, 41, 41-50.
Mahasiswa Pecinta Alam FakuItas Geografi UGM (GEGAMA), 1995, Goa Bribin – Sebuah Laporan Pemetaan dan Pemotretan. Kerjasama Dengan BAPPEDA DIY dan Dinas Pekerjaan Umum DIY, Dok. GEGAMA.
Mardiadipura, T., Amir, dan Zulfahmi, 1977, Batugamping dan Dolomit di Indonesia, Publikasi Teknik-Seri Geologi Ekonomi No. 8, Direktorat Jendral Pertambangan Umum, Bandung.
Martopo. Sugeng. 1988. Potensi Ketersediaan Air Pada Ekosistem Karst di Gunung Kidul. No : 26, Pusat Penelitian Lingkungan Hidup LIT – UGM, Yogyakarta.
McDonald and Partners. 1984. Greater Yogyakarta – Groundwater Resources Study. Vol 1 : Main Report. Yogyakarta : Directorate general of Water Resources Development Project (P2AT).
_______________ 1984. Greater Yogyakarta – Cave Surveying : Main Report. Yogyakarta : Directorate general of Water Resources Development Project (P2AT).
Pannekoek, A.J. 1949. Outline of The Geomorphology Java. Luden :E.J.
Ridarso.Eko. 1996. Aplikasi Teknik Penginderaan Jauh Untuk Estimasi Jalur Sungai Bawah Tanah Daerah Karst Tropik – Studi Kasus : Sungai Bawah Tanah Bribin Daerah Karst Gunung Sewu Daerah Istimewa Yogyakarta. Skripsi Sarjana, Yogyakarta : FakuItas Geografi, UniversItas Gadjah Mada.
Scoffin T.P., 1987, An Introduction to Carbonat Sediments and Rocks, Blackie & Son Limited, London.
Summerfield, M.A., 1991, Global Geomorphology, John Wiley and Sons, New York.
Todd, David KeIth. 1980. Ground Water Hydrology. New York : Mc Graw – Hill Book Company. Inc.
Widyastuti M., 1991. Pengaruh Struktur Kekar Terhadap Karakteristik Mataair di Cekungan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul. Skripsi Sarjana, Yogyakarta : FakuItas Geografi, UniversItas Gadjah Mada.

Artikel Terkait

Bagikan