"PORTAL GEOGRAFI, LINGKUNGAN DAN TATA KOTA" Gapai mimpimu untuk masa depan yang lebih baik

GUNUNG SEBAGAI TANDON AIR HUJAN



PAH di Gunung Kidul Yogyakarta

Untuk daerah tropis seperti Indonesia, sebuah keluarga akan membutuhan puluhan liter air bersih per hari untuk minum, membasuh mulut, mencuci, dan memasak, dan kebutuhan yang lain. Dalam sebulan akan dibutuhkan beribu-ribu liter air bersih untuk keperluan lain seperti mandi, mencuci pakaian dan perabotan rumah tangga.
Untuk daerah pedesaan yang kering di musim kemarau pada waktu hujan hanya sedikit dan persediaan air dalam tanah menurun, akan sulit sekali untuk mendapatkan air yang bersih. Pada musin kemarau sumur menjadi kering, aliran sungai besar berubah menjadi kecil dengan air yang keruh, mengakibatkan timbulnya penyakit yang menuntut banyak korban. Di samping itu pada musim kemarau banyak waktu dan tenaga terbuang untuk mengambil air bersih, karena sumber air biasanya terletak jauh dari tempat tinggal.
Masalah kebutuhan air bersih dapat ditanggulangi dengan memanfaatkan sumber air dan air hujan. Menampung air hujan dari atap rumah adalah cara lain untuk memperoleh air. Cara yang cukup mudah ini kebanyakan masih diabaikan karena atap rumah yang terbuat dari daun rumbia atau alang-alang tidak memungkinkannya. Namun pada rumah yang beratap genteng atau seng bergelombang, hal ini dengan mudah dapat dilakukan dengan memasang talang air sepanjang sisi atap dan mengalirkan air hujan itu ke dalam tempat penyimpanan. Sehingga dibuat kolam pengumpul air hujan, yaitu kolam atau wadah yang dipergunakan untuk menampung air hujan yang jatuh di atas bangunan (rumah, degung perkantoran, atau industri) yang disalurkan melalui talang. Kolam pengumpul air hujan ini sudah banyak dipakai masyarakat secara tradisional sebagai cadangan air bersih yang disebut dengan Penampungan Air Hujan (PAH) seperti di Gunung Kidul Propinsi DI Yogyakarta.
Suatu cara untuk menampung air pada saat hujan, disimpan dalam suatu tampungan. Kegiatan ini umumnya dilakukan di daerah kering dimana memanfaatkan aliran permukaan perkerasan jalan, atap rumah, dan lain-lain yang terjadi pada saat hujan. Salah satu teknik dengan memanfaatkan atap rumah dimana air hujan yang jatuh di atas atap akan dikumpulkan dan ditampung ke tangki atau bak penampung air hujan.
Air hujan yang jatuh di permukaan atap rumah akan melimpas menjadi aliran permukaan. Air hujan yang melimpas tersebut akan dikumpulkan melalui saluran pengumpul (talang) berbentuk saluran pipa yang dapat terbuat dari bahan metal (Galvanized Iron Pipe), PVC, atau bahan lain yang cukup kuat dan tahan lama. Air hujan yang terkumpul kemudian akan di alirkan ke tampungan air hujan berbentuk tangki atau bak yang dilengkapi dengan water tap sebagai outlet apabila air hujan yang ditampung akan digunakan untuk keperluan konsumsi air sehari-hari.
Penampungan Air Hujan (PAH) di Kabupaten Gunung Kidul dibangun pada tahun 1980-an di daerah yang sulit mendapatkan air bersih. Sumber dana pembangunannya diperoleh dari IMPRES dan UNICEF untuk daerah Tepus, Rongkap, Tanjungsari, Purwosari, Semanu, Panggang, dan Patuk.
Pada tahun 2008 Kabupaten Gunung Kidul mendapatkan bantuan dari Palang Merah Indonesia dan Palang Merah Jepang untuk pembangunan PAH sebanyak 26 di Semoyo, Patuk. Dan pada tahun 2008 juga 1 PAH dibangun swadaya. Jadi ada 28 PAH yang tercatat pada tahun 2008.
Air hujan dimanfaatkan antara lain untuk :
1.    Memasak
2.    Minum dengan ketentuan merebus sampai 1000C agar bakteri mati.
3.    Mencuci
4.    Minuman ternak
5.    Membersihkan lingkungan
Kualitas air hujan di Gunung Kidul yaitu :
1.    Tidak ada pencemaran dari industri karena di Kabupaten Gunung Kidul tidak ada industri besar sehingga emisi gas buang tidak mencemari lingkungan dan air hujan tidak tercemar.
2.    Belum banyak pencemaran dari atmosfer atau benda kotor. Seperti halnya pencemaran akibat CO dari kendaraan bermotor belum banyak mencemari atmosfer karena jumlah kendaraan bermotor di Kabupaten Gunung Kidul masih bisa dikendalikan. Sehingga atmosfer tidak mempengaruhi tercemarnya air hujan.
3.    Perlu adanya kegiatan untuk menjaga kualitas air hujan. Sebagai contoh dengan memperhatikan proses penampungan air hujan yaitu :
a.    Air masuk harus bersih
1)    Talang dan pipa penyalur air hujan di atap harus dalam keadaan bersih.
2)    Mengalirkan air hujan dari pipa dan talang ke dalam bak penampung setelah 10 menit pertama.
b.    Menghindari pencemaran PAH
1)    Memberi filter pada bak penampung berupa pasir dan saringan sehingga air dari pipa melewati filter tersebut sebelum ditampung dalam bak.
2)    Tutup bak selalu terpasang.
3)    Bak pengecekan dan pengurasan rutin.
c.    Pengambilan air
1)    Pengambilan air setelah 1 jam mengendap agar ion hilang.
2)    Bila perlu dilakukan penjernihan air hujan dengan kerikil dan pasir.
Bagian - bagian pada PAH :
1.    Talang
2.    Pipa masuk
3.    Pengalih air hujan
4.    Filter masuk
5.    Tutup lubang masuk
6.    Elbow dan pipa peluap
7.    Filter peluap
8.    Nomor plakat
9.    Bandul ukur
10. Kran pengambilan
11. Kran pengurasan
Pengoperasian PAH yaitu :
1.    Air hujan yang turun ke genting mengumpul di talang kemudian mengalir melalui pipa ke bak PAH.
2.    Pada BAK PAH sebelum masuk ke dalam, air mengalami filterisasi terlebih dahulu yaitu melalui saringan dan pasir.
3.    Air masuk ke bak PAH dan penggunaan air setelah lebih dari 10 menit pertama setelah turun hujan.
4.    Pengambilan air melalui kran pengambilan dengan tinggi 20 cm dari dasar bak PAH.
Hal yang selalu diperhatikan adalah :
1.    Filter penyaring air yang masuk ke PAH harus selalu terpasang, jika sudah rusak harus diganti dengan barang yang sama agar kotoran dan sinar matahari tidak dapat masuk ke bak sehingga menghindari pencemaran.
2.    Koral di atas filter juga harus ada karena merupakan penyaring kotoran dan pemecah masuknya air ke dalam PAH yang menyebar dan tidak merusak dinding PAH.
3.    Filter di pipa peluap juga harus dipasang karena diharapkan tidak ada gewan yang masuk yanga dapat mencemari air.
4.    Elbow di pipa peluap jangan dihadapkan ke atas, karena jika air dalam PAH penuh sampai dinding atas akan menggenangi kerangka besi dan mencemari PAH.
5.    Pembuatan tutup PAH dari kayu sebaiknya dilakukan saat musim kemarau ataupun penghujan.
Masalah yang dapat timbul akibat PAH yaitu :
1.    Kualitas air
Kualitas air yang mengandung E.coli, lumut dan bau dapat menyebabkan penyakit diare.
2.    Binatang
Pada lingkungan sekitar PAH atau di dalam bak PAH dapat menjadi tempat tinggal jentik nyamuk Aedes aegypty yang dapat menyebabkan penyakit demam berdarah.
3.    Sanitasi
Lingkungan sekitar PAH yang kurang menjaga kebersihan akan menimbulkan bau yang mengganggu estetika.
Pencegahan yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah :
1.    Memasang semua perlengkapan PAH secara benar.
2.    Merebus air sebelum diminum.
3.    Memberikan abate dan disinfektan.
4.    Memeriksa kondisi air dan memberikan instalasi PAH secara rutin.
5.    Membuat saluran / parit di sekitar PAH.
Saluran air dari talang menuju PAH
Kran pengambilan air
Kran pengurasan
Share:

Wikipedia

Search results