"PORTAL GEOGRAFI, LINGKUNGAN DAN TATA KOTA" Gapai mimpimu untuk masa depan yang lebih baik

Showing posts with label Geografi Pariwisata. Show all posts
Showing posts with label Geografi Pariwisata. Show all posts

MADU MURNI ASLI 100% DARI ALAM JAYA MADU MALANG

Madu adalah cairan yang menyerupai sirup, madu lebih kental dan berasa manis, dihasilkan oleh lebah dan serangga lainnya dari nektar bunga. Jika Tawon madu sudah berada dalam sarang nektar dikeluarkan dari kantung madu yang terdapat pada abdomen dan dikunyah dikerjakan bersama tawon lain, jika nektar sudah halus ditempatkan pada sel, jika sel sudah penuh akan ditutup dan terjadi fermentasi.
Rasa manis madu disebapkan oleh unsur monosakarida fruktosa dan glukosa, dan memiliki rasa manis yang hampir sama dengan gula.

Madu memiliki ciri-ciri kimia yang menarik, dioleskan jika dipakai untuk pemanggangan. Madu memiliki rasa yang berbeda daripada gula dan pemanis lainnya. Kebanyakan mikroorganisme tidak bisa berkembang di dalam madu karena rendahnya aktivitas air yang hanya Sejarah penggunaan madu oleh manusia sudah cukup panjang. Dari dulu manusia menggunakan madu untuk makanan dan minuman sebagai pemanis atau perasa. Aroma madu bergantung pada sumber nektar yang diambil lebah.
PEMESANAN MADU MURNI ASLI.
0823-3469-1922
Madu sudah bersertifikat dan berizin resmi.



Share:

DAMPAK PARIWISATA

Banyak teori dan contoh yang menunjukkan bahwa aktifitas wisata dapat peran yang signifikan dalam pembiayaan program-program konservasi lingkungan hidup. Namun, tetap harus diperhatikan bahwa aktifitas wisata juga mempunyai potensi untuk ikut serta mengarahkan pada kerusakan lingkungan (Hakim, Lukman :116).

Para perencana pembangunan sering mengemukakan argumentasi bahwa untuk meningkatkan taraf perekonomian msyarakat sekitar hutan, dimana sebagian besar adalah kawasan lindung atau kawasan dengan tingkat keanekaragaman tinggi, para pemerhati lingkungan, konservasoinis, dan pihak-pihak pelestari lingkungan hidup melihat bahwa pembangunan yang akan dilakukan merupakan ancaman nyata terhadap keanekaragaman hayati  yang ada didalam atau sekitar kawasan yang akan dikembangkan (Beatley, 1997) (Hakim, Lukman :117).

Lebih jauh, banyak peneliti yang menyebutkan bahwa pembangunan jalan raya mempunyai banyak pengaruh terhadap objek-objek wisata. Jalan raya menjadi ancaman bagi keaneka ragaman hayati disekitarnya, karena memberikan efek fragmentasi habitat, koridor bagi penyebaran hama, dan penyakit. Sesutau yang tidak kalah penting yaitu kejadian tertabraknya satwa oleh pengendara mobil atau jenis angkutan lainnya (Hakim, Lukman :118).

Dampak wisata lainnya terhadap lingkungan yang dapat diamati dan dirakasan yakni masalah limbah. Limbah yang dihasilkan pengunjung menjadi masalah lingkungan yang dapat mempengaruhi kualitas daerah tujuan wisata. Hal itu mudah terjadi, dimana ukuran daerah tujuan wisata mempunyai ukuran yang kecil, limbah cair biasanya datang dari hotel , wisma dan restaurant yang tersebar pada destinasi wisata. Tidak dapat dihindari bahwa tempat-tempat tersebut merupakn bagian dari akomodasi ekotorisme. Namun, perhatian dan penanganan limbah cair yang dihasilkan seringkali sangat kurang. Untuk mengatasi populasi air yang terjadi, dua strategi yang umumnya ditempuh yaitu mereduksi sumber-sumber pencemar dan melakukan perlakuan terhadap limbah cair agar tidak dapat memhahayakan lingkungan (Hakim, Lukman :119).

Pencemaran udara karena kesalahan penyelenggaraan wisata seringkali mengancam kesehatah manusia. Pencemaran udara sebagai dampak pengembangan industri pariwisata antara lain bersumber dari pembakaran gas dan terlepasnya bahan-bahan beracun diudara.

Ada banyak bukti konsumsi sumber daya alam menjadi meningkat dan berlebih. Kebutuhan terserbut sering dipenuhi dengan eksploitasi bahan alam dari kawasan lindung, bambu, kayu-kayu bahan ukir, biji-bijian berkulit keras, tulang binatang, cangkang hewan-hewan laut, dan terumbu karang yang seharusnya dilindungi (Hakim, Lukman :121)

Penyelanggara wisata yang tidak mengindahkan daya dukung lingkungan, juga menjadi faktor penyebab rusaknya terumbu karang di banyak kawasan. Selain tidak adanya manajemen yang jelas, lemahnya pengawasan hukum terhadap perilaku wisatawan merupakan faktor penyebab degradasi kawasan pesisir. Wasatawan seringkali memasuki dan berjalan-jalan di kawasan terumbu karang dalam waktu yang cepat (Hakim, Lukman :124).

Gangguan Ekosistem Kawasan Wisata
Teori keseimbangan (Equilibrium theory) memendang bahwa ekosistem dijaga dalam sebuah keseimbangan di atas fondasi dan spesies-spesies dan penyusunnya. Dalam keseimbangan tersebut, spesies-spesies ada dan berinteraksi satu sama lain dalam hubungan predator-mangsa, serta dalam hubungan-hubungan kompetisi yang ada. Jadi, interaksi-imteraksi faktor biotik mendenterminasi struktur komunitas kahidupan dalam ekosistem. Pendekatan ini menciptakan sebuah ide tentang kesimbangan alam “ the balanced of nature” . Namun, keseimbangan ini dapat terganggu oleh sebab-sebab alamiah dan manusia.

Ketika terganggu, ekosistem bisa jadi kehilangan dan menurun atau mungkin hilang. Atau sebaliknya, mereka akan berusaha untuk mencapai keadaan awal sebelum gangguan terjadi sehingga mencapai keadaan seperti sedia kala, stabil atau pada keadaan klimaks.

Pantai sering mendapat tekanan hebat dari dampak pembangunan destinasi kawasan wisata pesisir. Pada dasarnya, istilah pantai digunakan untuk menggambarkan tempat pertemuan antara daratan dan lautan. Ekosistem terumbu karang merupakan salah satu ekosistem perairan laut yang produktif dengan kekayaan hayati spesies tinggi.

Kegiatan wisata di kawasan pesisir yang tidak dilakukan dengan tidak memperhatikan ekosistem setempat, biasanya menghancurkan ekosistem terumbu karang. Gangguan terhadap ekosistem dapat terjadi dengan cepat. Sebagai gambaran, laju perusakan bisa terjadi dalam satu hari karena tekanan wisatawan di zona terumbu karang. Sebaliknya, pemulihan ekosistem terumbu menuju kondisi seperti semula, memerlukan waktu yang lama. Laju pertumbuhan spesies karang yang masih diperkirakan tumbuhan antara lain adalah 7,5-13 mm/tahun pada jenis Asteropbora myroiphbalmia, 6,7-8,0 mm/tahun favia speciosa, dan 7,8 mm/tahun untuk Goniastrea retiformis (Supriharyono, 2000). Dengan demikian, melakukan proteksi wilayah terumbu karang dari pengaruh gangguan manusia menjadi sangat penting.

Sedimentasi menjadi ancaman nyata lainnya, bagi kehidupan terumbu karang dan kehidupan biota-biota lain yang ada disekitarnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa terumbu karang merupakan salah satu aset wisata bahari yang berperan penting dalam penerimaan dari sektor wisata. Namun, sedimenyasi yang terjadi terus-menerus akan menurunkan mutu terumbu karang bagi atraksi wisata yang ditawarkan.

Hal yang sama dapat terjadi juga di darat. Hutan tropik yang terganggu membutuhkan waktu yang lama untuk memulihkan kondisinya. Saat ini, laju penggundulan hutan tropik sangat menghawatirkan. FAO memberikan estimasi data bahwa kahilangan hutan tropik terjadi pada skala 110,5 juta ha per tahun. Jika laju ini tidak dapat dihentikan atau ditekan, maka dalam waktu dekat biosfer akan kehilangan hutan tropik dengan segala kekayaan hayati yang ada didalamnya (Hakim, Lukman :126-129).

Dampak Terhadap Satwa Dan Kehidupan Liar

Saat ini, pariwisata juga duketahui memberikan dampak terhadap satwa liar lainnya. Reynols dan Braithwaite (2001) mendeskripsikan bahwa aktifitas wisata yang dekat dengan habitat satwa liar, dapat mempengaruhi kehidupan liar. Pengaruh-pengaruh negatif tersebut antara lain:
1.      Pengambilan secara ilegal terhadap satwa dan kematian satwa
2.      Pembersihan habitat
3.      Perubahan komposisi tumbuhan
4.      Mengurangi produktifitas tumbuhan
5.      Mengubah struktur tumbuhan
6.      Polusi
7.      Emigrasi satwa
8.      Mengurangi daya reproduksi satwa
9.      Habituasi
10.    Munculnya perilaku stereotip
11.    Penyimpangan pola makan satwa
12.    Penyimpangan perilaku sosial
13.    Meningkatnya predasi
14.    Modifikasi pola-pola aktifitas, dan
15.    Mengubah struktur aktifitas.
Gangguan-gangguan terhadap satwa dapat terjadi karena tumbuhan sumber makanannya terganggu. Dan struktur komunitasnya, serta produtifitasnya. Burung-burung pemakan madu dan pemakan serangga lainnya akan hilang dari kawasan, karena tumbuhan pendukungnya menurun. Wisatawan dapat mengurangi produktifitas tumbuhan, seperti rumput dan herba karena terinjak-injak atau rusak. Atau karena alasan lain yang memungkinkan rendahnya produktifitas tumbuhan yang berperan terhadap satwa. Bibit-bibit tumbuhan yang eksotik memounyai peluang masuk,karena terbawa oleh manusia secara sengaja atau tidak sengaja.

Polusi menyebabkan tercemarnya sumber-sumber air yang digunakan satwa sehingga mempengaruhi kesehatan satwa dan banyak hal, dapat menyebabkan kematian karena keracunan. Selain itu, akumulasi sumber pencemar dapat menurunnya daya reproduksi satwa untuk berkembang biak. Polusi udara, terutama gangguan-gangguan suara dapat menggangu reproduksi,. Kedatangan pengunjung dan keributan-keributan yang ditimbulkannya sering menyebabkan satwa merasa tidak nyaman  adan memilih menyingkir dari habitatnyauntuk mencari habitat baru. Bagi bebrapa satwa, masa-masa pencarian habitat baru ini merupakan masa-masa penting, karena setiap saat harus menghadapi malapetaka predasi (pemangsaan oleh predatornya), atau kekurangan sumber daya makan.

Habituasi, munculnya perilaku stereotip, penyimpangan pola makan satwa, penyimpangan perilaku sosial, dan modifikasi pola-pola perilaku aktivitas merupakan dampak yang dapat muncul karena kontak yang sering terjadi antara satwa dan manusia. Dalam banyak hal, perilaku ini sangat merugikan satwa yang bersangkutan, karena dalam jangka waktu yang lama akan mengurangi daya hidupnya di alam bebas (Hakim, Lukman :130-132).

Krisis Sumber Daya Air
Dampak dari pembangunan sektor wisata terhadap sumber daya air telah diketahui secara nyata. Air adalah sumber daya penting, di mana manusia sangat bergantung. Air bersih merupakan kebutuhan mutak dan penurunan kualitasnya (karena pencemaran dan penurunan kuantitasnya, yakni karena berkurang debit aliran air) menjadi ancaman nyata bagi manusia.

Seringkali konflik antara pengelola industri wisata, terutama pemilik hotel, restoran, dan pengembang wisata lainnya malawan penduduk lokal akan muncul. Konflik yang sering terjadi menyangkut pengalihan tata guna air permukaan dan air tanah. Biasanya, pengalihan ini dapat terjadi karena pembelokan aliran air, yakni untuk kepentingan masyarakat lokal dan pertanian setempat menuju pemenuhan sumber daya air untuk hotel, restoran, dan kepentingan wisata lainnya.

Tidak semua kawasan destinasi wisata mempunyai sumber air yang bagus dan melimpah, beberapa kawasan, bahkan tidak mempunyai sumber air sama sekali, kalaupun ada, sungai yang terbentuk karena pengaruh hujan lebat dan besifat sesaat. Pada musim kemarau, sungai akan kering (Hakim, Lukman :132-133).

Dampak Spesies Eksotik

Berkembanya sebuah destinasi wisata membuka peluang terhadap tumbuh dan berkembangnya spesies-spesies eksotik. Wisatawan sering mengunjungi destinasi wisata dengan membawa makanan yang mengandung biji, umbi atau bagian lain yang dapat tumbuh. Spesies eksotik sering lepas dari pengawasan penegelola taman nasional, sampai kemudian keberadaanya diketahui sangat mengancam kestabilan ekosistem.

Potensi masuknya tumbuhan eksotik dapat terjadi karena permintaan terhadap lanskap pertamanan yang melengkapi destinasi wisata. Sebuah destiansi wisata, biasanya “dipercantik” dengan adanya tumbuh-tumbuhan berbunga indah atau mempunyai karakter indah lainnya. Yang umumnya dijumpai pada destinasi alami (Hakim, Lukman :136).
Share:

DESA WISATA

 Desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi ,akomodasi dan fasilitas pedukung yang disajikan dalam satu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tatacara dan tradisi yang berlaku (Nuryanti,Wiendu 1993.concept, perspective and challangs,makalah)

Komponen Utama Desa Wisata

Terdapat dua konsep utama dalam komponen Desa Wisata :
  1. Akomodasi : sebagian dar tempat tinggal para penduduk setempat dan atau unit unit yang berkembang atas konsep tempat tinggal penduduk.
  2. Atraksi : seluruh kehidupan keseharian penduduk setempat beserta setting fisik lokasi desa yang memungkinkan berintegrasinya  wisatawan sebagai partisipasi aktif seperti : kursus tar, bahasa dan lain yang spesifik.
Sedangkan Edward Inskeep, dalam Tourism Planning An Integrated and sustainable Development Approach,hal 166 memberikn definisi  : Village Tourism , where small groups of tourist stay in or near traditional, often remote villages and learn about village life and the local environment. 
Inskeep : Wisata pedesaan dimana sekelompok kecil wisatawan tinggal dalam atau dekat dengan suasana tradisional , sering didesa desa yang terpencil dan belajar tentang kehidupan pedesaan dan lingkungan setempat.

Pendekatan Pengembangan Desa Wisata

Pengembangan dari desa wisata harus direncanakan secara hati hati agar dampak yang timbul dapat dikontrol. Berdasarkan penelitian dan studi dari UNDP/WTO dan beberapa konsultan Indonesia, terdapat dua pendekatan dalam membuat rangka kerja( konsep kerja dari pengembangan sebuah desa menjadi desa wisata).

Pasar untuk Pengembangan Desa Wisata

Interaksi tidak langsung.
Model pengembangan didekati dengan cara bahwa desa mendapat manfaat tanpa interaksi langsung dengan wisatawan.Bentuk kegiatan yang terjadi semisal : Penulisa brosur brosur desa yang unik,tentang desa yang berkembang,kehidupan desa,arsitektur tradisional,latar belakang sejarah, souvenir desa dansebagainya.
Interaksi setengah langsung
Bentu bentuk one day trip yang dilakukan oleh wisatawan ,kegiatan-kegiatan meliputi makan,nari dan berkegitan bersama penduduk dan kemudian wisatawan dapat kembali ke tempat akomodasinya . Prinsip
model type ini adalah bahwa wisatawan hanya singgah dan tidak tinggal bersama dengan penduduk.
Interaksi langsung
Wisatawan dimungkinkan untuk tinggal /bermalam dalam akomodasi yang dimiliki oleh desa tersebut Dampak yang terjadi dapat dikontrol dengan berbagai pertimbangan yaitu daya dukung dan potensi masyarakat setempat.Alternatif lain dari model ini adalah penggabungan dari model pertama dan kedua.(UNDP and WTO 1981 Tourism Development Plan for Nusatengga,Indonesia.)

Kriteria Desa Wisata

Pada kegiatan pendekatan meliputi beberapa kriteria yaitu:
  1. Atraksi wisata : yaitu semua yang mencakup alam , budaya dan hasil ciptaan manusia .Atraksi yng dipilih adalah yang paling menarikdan atraktif didesa.
  2. Jarak tempuh : adalah jarak tempuh dari kawasan wisata utama tempat tinggal wisatawan dan juga jarak tempuh dari ibu kota provinsi dan jarak dari kota kabupaten.
  3. Besara Desa : menyangkut masalah -masalah jumlah rumah jumlah penduduk,karakteristik dan luas wilayah desa. Kriteria ini berkaitan dengan  daya dukung kepariwisataan pada suatu desa.
  4. Sistem Kepercayaan dan Kemasyarakatan : merupakan aspek/unsur penting mengingat adanya aturan aturan yang khusus pada komunitas sebuah desa Perlu pertimbangan  adalah agama  yang menjadi mayoritas dan sistem  kemasyarakatan yang ada.
  5. Ketersediaan infra struktur ;meliputi fasilias dan pelayanan transportasi , listrik,air bersih, dranage,telepon.
Masing masing kriteria digunakan untuk melihat karakteristik utama suatu desa untuk kemudian menentukan apakah suatu desa akan menjadi desa dengan tipe berhenti sejenak, tipe one day trip atau tipe tinggal inap.

Pendekatan Fisik Pembangunan Desa Wisata

Pendekatan ini merupakan solusi yang umum dalam mengembanmgkan sebuah desa melalui sektor pariwisata dengan menggunakan standar-standar khusus dalam mengontrol perkembangan dan menerapkan aktivitas konservasi.
  1. Mengonservasi sejumlah rumah yang memiliki nilai budaya dan arsitektur yang tinggi dan mengubah fungsi rumah tinggal menjadi sebuah museum desa untuk menghasikan biaya untuk perawatan dari rumah tersebut.Contoh pengembangan model ini adalah Desa wisata Konara, flores.
  2. Mengonservasi keseluruhan desa dan menyediakan lahan baru untuk menampung perkembangan penduduk desa tersebut dan sekaligus mengembangkan lahan tersebut sebagai area pariwisata dengan fasilitas-fasilitas  wisata.
  3. Mengembangkan bentuk bentuk akomodasi di dalam wilayah desa tersebut yang dioperasikan oleh penduduk desa tersebut sebagai industri sekala kecil. Aset wisata beragam,kerajinan, tarian rumah trdisional,pemandangan alam/laut,Fasilitas-fasilitas tersebut dikelola oleh masyarakat setempat.
Prinsip Dasar dari Pengembangan Desa Wisata.
  1. Pengembangan fasilitas-fsilitas wisata dalam skala keci beserta pelayanan didalam atau dekat desa.
  2. Fasilitas-fasilitas dan pelayanan dimiliki dan dikerjakan oleh penduduk desa ,salah satu bisa bekerja sama atau individu yang memiliki.
  3. Pengembangan desa wisata didasarkan pada salah satu " sifat" budaya trdisional yang lekat pada satu desa. Atau sifat atraksi yang dekat dengan alam dengan pengembangan desa sebagai pusat pelayanan bagi wisatawan yang mengunjungi atraksi tersebut.
Jenis Wisatawan Pengunjung Desa Wisata.

Karena bentuk wisata pedesaan yang khas dan unik maka diperlukan suatu segmen pasar tersendiri.Beberapa tipe wisatawan yang akan mengunjungi desa wisata ini yaitu:

Wisatwan Domestik
Wisatwan domestik terdapat tiga jenis pengunjung yaitu;
  1. wisatawan atau pengunjung rutin yang tinggal diderah dekat desa tersebut.Motivasi kunjungan mengunjungi kerabat,membeli hasil bumi atau barang-barang kerajinan.Pada perayaan tertentu pengunjung tipe ini akan memadati desa wisata tersebut.
  2. Wisatawan dari luar daerah, yang transit atau lewat dengan motivasi membeli hasil kerajinan.
  3. Wisatawan domestik yang secara khusus mengadakan perjalan wisata ke daerah tertentu ,dengan motivasi mengunjungi derah pedesaan penghasil kerajinan secara pribadi.
Wisatawan Manca Negara
  1. Wisatawan yang suka berpetualangan dan berminat khusus pada kehidupan khusus dan kebudayaan dipedesaan.Umumnya wisatawan ini tidak ingin bertemu engan wisatawan lainya dan berusaha mengunjingi kampung dimana tidak begibanyak wisatawan asing.
  2. Wisatawan yang pergi dalam grup,dalam stu biro perjalanan wisata misalnya,.Pada umumnya mereka tinggal lama didalam kampung dan hanya tertarik pada hasil kerajinan setempat.
  3. Wisatawan yang tertarik untuk mengunjungi dan hidup didalam kampung dengan motivasi meraskan kehidupan di luar komunitas yang biasa dhadapinya.

Sumber: Laporan Konferensi Internasional mengenai Pariwisata Budaya.
Yogyakarta: Gajah Mada University
Press . Tahun 1993.
Share:

PARIWISATA INDONESIA BERBASIS KESARIFAN LOKAL

Pariwisata merupakan bagian dari sektor ekonomi yang sangat penting bagi suatu negara termasuk Indonesia. Di Indonesia, pada tahun 2009 pariwisata menempati urutan ketiga dalam hal penerimaan devisa setelah komoditi minyak dan gas bumi serta minyak kelapa sawit. Kekayaan alam dan budaya merupakan komponen penting dalam pariwisata di Indonesia. Mengingat pentingnya kedua komponen tersebut, sudah seharusnya komponen tersebut dijaga dan dipelihara kelestariannya.
Alam Indonesia memiliki kombinasi iklim tropis, 17.508 pulau yang 6.000 diantaranya tidak dihuni, serta garis pantai terpanjang ketiga di dunia setelah Kanada dan Uni Eropa. Indonesia juga merupakan negara kepulauan terbesar dan berpenduduk terbanyak di dunia. Beberapa tempat wisata sudah sangat terkenal di mancanegara seperti Bali dengan pantainya yang cantik dan eksotis, taman bawah laut Bunaken di Manado yang terkenal keindahan bawah lautnya, beberapa taman nasional di sumatera, Lombok dengan pantainya yang indah, merupakan beberapa contoh wisata alam di Indonesia.
terumbu karang di kepulauan raja ampat Indonesia
Terumbu karang dan ikan di Raja Ampat
Indonesia memiliki kawasan terumbu karang terkaya di dunia dengan lebih dari 18% terumbu karang dunia, serta lebih dari 3.000 spesies ikan, 590 karang batu, 2.500 jenis moluska, dan 1.500 jenis udang-udangan. Kekayaan Biota laut tersebut menciptakan sekitar 600 titik selam yang tersebar dari sabang sampai merauke. Raja Ampat di Papua Barat adalah taman laut terbesar di Indonesia yang memiliki beraneka ragam biota laut dan dikenal sebagai lokasi selam scuba yang baik karena memiliki daya pandang yang mencapai 30 meter pada siang hari. Terdapat 50 taman nasional di Indonesia, 6 diantaranya termasuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO. Dan Indonesia memiliki lebih dari 400 gunung berapi dan 130 diantaranya termasuk gunung berapi aktif.
Berdasarkan data sensus 2010, Indonesia terdiri dari 1.128 suku bangsa. Bisa dibayangkan dengan jumlah suku bangsa sebanyak itu dan keberagaman suku bangsa tersebut tentu saja mengakibatkan keberagamam hasil budaya seperti jenis tarian, alat musik, dan adat istiadat di Indonesia. Bahkan beberapa tahun belakangan di beberapa kota di Pulau Jawa mulai mengembangkan konsep karnaval fesyen, yang memadukan berbagai macam bentuk seni ke dalam bentuk dunia fesyen dan mulai rutin diadakan setiap tahun. Belum lagi berbagai tujuan wisata sejarah mulai dari sejarah masa peradaban hindu-bunddha hingga masa keemasan peninggalan kerajaan islam di Indonesia. Kesemuanya itu merupakan sumber kekayaan alam dan budaya yang patut kita syukuri, karena selain jumlahnya yang sangat banyak dan beragam beberapa kekayaan alam bahkan hanya ada di Indonesia.
MEMBANGUN KEARIFAN LOKAL PARIWISATA INDONESIA
Permasalahan pengembangan dan promosi pariwisata, baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah semakin penting untuk mendukung pembangunan nasional. Demikian juga kekayaan alam dan budaya yang dimiliki Indonesia perlu mendapat perlindungan serta membutuhkan upaya pelestarian agar dapat menjadi daya tarik wisata, yang pada akhirnya dapat menarik jumlah kunjungan wisata baik domestik maupun mancanegara. Klaim Malaysia terhadap budaya asli Indonesia, menunjukkan betapa lemahnya pengelolaan dan perlindungan kekayaan wisata Indonesia. Padahal bila kekayaan budaya di kelola dengan baik, sektor pariwisata dapat menjadi bagian dari sektor ekonomi yang mendatangkan devisa paling banyak untuk negara, dengan asumsi bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa banyak dan beraneka ragam jenisnya.
Diakui atau tidak, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi telah meningkatkan aliran modal, investasi, barang dan jasa dari suatu negara ke negara lain, terutama dari negara maju ke negara-negara berkembang pada umumnya. Gempuran globalisasi dunia dalam setiap aspek kehidupan jika tidak segera di antisipasi akan banyak menimbulkan implikasi yang merugikan bagi bangsa Indonesia, apalagi jika memiliki pertahanan yang lemah maka akan semakin tertimbunlah Indonesia di bawah arus pusaran modernisasi dunia. 
Budaya dan kearifan lokal menjadi salah satu pilihan strategi budaya untuk meminimalisir dampak globalisasi dan bahkan seharusnya menjadi Counter Culture dominasi budaya massa yang dikuasai oleh negara-negara maju dan berpengaruh besar terhadap pola pikir serta budaya masyarakat di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Daya tarik unsur-unsur budaya dan kearifan lokal sebagai dasar pengembangan budaya dalam era global ini berdasarkan alasan sebagai berikut :
  1. Dari segi perspektif strategi kebudayaan, meningkatnya pengaruh globalisasi telah mereduksi nilai-nilai budaya nasional. Khasanah budaya lokal dapat menjadi sumber kearifan lokal, sebagai salah satu sumber sikap kritis terhadap globalisasi. Munculnya kecenderungan baru gaya hidup yang berakar pada seni tradisi merupakan indikasi positif bangkitnya nilai-nilai lokal dalam kehidupan masyarakat. 
  2. Dari segi perspektif desentralisasi atau otonomi daerah, maka daerah dapat menggali dan mengembangkan budaya lokal sebagai modal sosial dan budaya pembangunan masyarakat setempat. Namun hendaknya perkembangan daerah sebagai destinasi wisata tidak terlalu mengubah keaslian obyek wisata dan perilaku manusia didalamnya.
Potensi budaya dan kearifan lokal dalam bidang pariwisata masih tinggi, bahkan menjadi kecenderungan potensi wisata di masa depan. Oleh karena itu perlu digagas pola pengembangan wisata yang berbasis budaya dan kearifan lokal sebagai daya tarik wisata yang lebih estetis (edipeni) dan etis (adiluhung). 
Penyediaan sarana dan prasarana seperti transportasi, penginapan, termasuk berbagai infrastruktur di dalamnya, hendaknya jangan sampai merusak eksotisme alam dan manusia yang hidup di dalamnya. Pengembangan pariwisata di suatu daerah harus memberikan jaminan rasa aman bagi pendatang atau wisatawan yang berkunjung sehingga mereka dapat menyaksikan suatu perpaduan wisata dimana masyarakat, beserta cipta, rasa, dan karsanya merupakan obyek wisata yang menarik dan eksotis. Apalagi di tambah dengan keramahtamahan penduduk, berpadu dengan alam nan indah serta kehidupan masyarakat ketika berinteraksi dengan alam dan simbol keagamaannya sesungguhnya mempunyai potensi wisata yang mampu memikat dan mampu menawan hati wisatawan, karena harmoni tersebut akan melahirkan aliran sensasi suatu kebahagiaan yang mampu ditularkan pada yang melihatnya.
"TASTE BEAUTIFUL INDONESIA"
Indonesia adalah negara yang di anugrahi keberuntungan, karena selain memiliki kekayaan alam yang tidak ternilai juga memiliki latar budaya yang luar biasa hebat dengan keaneka ragamannya. Semua itu merupakan potensi besar dalam pengembangan industri pariwisata di Indonesia. Namun, untuk membangun pariwisata diperlukan konsep atau peta wisata yang seimbang, di mana potensi bisnis yang dihasilkan di suatu industri pariwisata tidak merusak tatanan asli obyek wisata tersebut. Untuk membangun konsep tersebut diperlukan kearifan lokal dari para pelaku dalam industri pariwisata tersebut.
"Taste Beautiful Indonesia," dapat merupakan slogan yang menunjukkan betapa indahnya alam dan budaya Indonesia sehingga setiap orang akan berlomba-lomba untuk merasakan keindahan tersebut. Suatu kenyataan yang tidak dapat kita pungkiri bahwa manusia akan selalu rindu untuk kembali pada basic pada kehidupannya, meskipun dalam kehidupannya telah dikelilingi kecanggihan dan modernisasi kehidupan masa kini. 
upacara kasada di tengger gunung bromo
Ritual upacara Kasodo, masyarakat Tengger di Bromo
Indahnya harmonisasi kehidupan lokal antara masyarakat dan alam sekitarnya sesungguhnya merupakan sumber potensi wisata yang sangat potensial dan mampu mengikat setiap orang yang mengunjunginya. Oleh karena itu, perlu dirumuskan suatu konsep wisata yang menampilan wajah Indonesia yang sebenarnya, karena dengan kekayaan alam dan budaya yang kita miliki, kita tidak perlu menjadi orang lain dan cukup menjadi diri sendiri atau be your self. Karena Indonesia adalah Indonesia, dan bukan negara lain. 
Untuk mendukung kemajuan industri pariwisata, diperlukan suatu konsep yang mampu mengakomodir semua elemen penting dalam industri pariwisata. Selain itu diperlukan kesiapan para pelaku industri pariwisata termasuk didalamnya pemerintah, masyarakat, dan para pelaku industri tersebut. 
  1. Dengan kekayaan alam dan keberagaman budayanya, Indonesia harus mampu menjadikannya sebagai sumber pariwisata yang potensial dan mampu menarik minat wisatawan untuk mengunjunginya.
  2. Dengan membangun kearifan lokal, industri pariwisata Indonesia harus mampu membuat suatu kemasan wisata yang tidak merusak alam dan tatanan masyarakat yang berada didalamnya, sebaliknya menjadikannya sebagai satu kemasan wisata.
  3. Dengan membangun industri pariwisata yang seimbang, maka akan menciptakan harmonisasi yang pada akhirnya akan menjadikan Indonesia sebagai tujuan pariwisata dunia, dalam upaya meningkatkan kunjungan wisatawan ke Indonesia.
  4. Pariwisata yang tercipta dari kearifan budaya lokal Indonesia akan melahirkan dan memperkuat identitas Indonesia dalam bersaing dengan industri pariwisata negara lain.
Dengan terciptanya harmonisasi dalam industri pariwisata, wisatawan yang berkunjung ke Indonesia bukan hanya datang untuk menikmati keindahan alam Indonesia, namun juga merasakan denyut nadi kehidupan masyarakat Indonesia dalam berinteraksi dengan alam dan simbol-simbol budaya termasuk adat istiadat yang mengikat kehidupannya. Budaya lokal masyarakat Indonesia merupakan pasar potensial bagi industri pariwisata, dalam batas-batas tertentu yang tidak merusak dan menganggu keberlangsungan sebagai ekosistem budaya Indonesia. Jadi jika ingin merasakan indahnya alam Indonesia, maka datanglah ke Indonesia (Taste Beautiful Indonesia).
Dalam rangka menuju Komunitas ASEAN 2015, maka diperlukan suatu identitas kuat yang masing-masing harus dimiliki negara-negara ASEAN, dimana identitas ini akan memperkuat identitas ASEAN ke tingkat yang lebih luas lagi yaitu dalam pergaulan negara-negara seluruh dunia. Pun demikian dalam industri pariwisata, negara-negara ASEAN harus mampu menampilkan kekuatan budaya lokalnya dalam rangkaian menciptakan budaya komunitas ASEAN 2015 ketika tampil di pentas pariwisata tingkat dunia.
Share:

PROSES PEMBANGUNAN PARIWISATA BERKELANJUTAN

Meskipun Secara terus-menurus, pembangunan pariwisata berkelanjutan dikumandangkan, dan pada KTT Johannesburg 2002 telah diletakkan dasar secara signifikan sebagai upaya  melakukan negosiasi dan kampanye positif tentang pembangunan pariwisata yang berkelanjutan. Pada KTT ini juga mampu menggalang lebih dari 300 kemitraan sukarela, yang masing-masing membawa tambahan sumber daya untuk mendukung upaya-upaya untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan. (United Nations Department of Economic and Social Affairs, 2002).
Memperdebatkan pariwisata dalam pembangunan berkelanjutan adalah sebuah hal logis mengingat bahwa pariwisata adalah sebuah industri yang menjual lingkungan, baik fisik dan manusia sebagai totalitas produk. Integritas dan kontinuitas produk ini telah menjadi perhatian utama industri seperti yang dinyatakan oleh beberapa lembaga international, misalnya, UN-WTO tentang Global Etik untuk Kode etik Pariwisata, dan asosiasi Ekowisata Australia telah merumuskan sebuah Program Akreditasi Ekowisata untuk mendukung usaha pembangunan yang berkelanjutan.
Terdapat banyak pilihan sebenarnya, tapi maknanya lebih dari isu-isu dan pilihan yang perlu dilakukan sebelum konsep pembangunan berkelanjutan dapat bergerak lebih lanjut terhadap fisik dan realitas ekonomi. Para peneliti dan pemerintah di beberapa negara telah menaruh perhatian yang cukup terhadap konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan, tetapi industri dan konsumen tampaknya kurang menerima sepenuhnya ide-ide tentang pembangunan berkelanjutan ini.

Definisi Pembangunan Berkelanjutan diperlukan untuk menciptakan hubungan baru dengan lingkungan, dan kepentingan dalam pembangunan berkelanjutan yang telah dibangun selama 30 tahun sejak tahun 1972. Danella dan Dennis Meadows (1972) telah mengguncang dunia dengan buku mereka yang berjudul “Limits to Growth”. Mereka berpendapat bahwa sumber daya di bumi dan kemampuan untuk menyerap polusi amat terbatas. Dengan menggunakan simulasi komputer, mereka meramalkan penduduk bumi dan kemajuan pembangunan fisik akan mengalami kendala pada abad mendatang. Buku tersebut menjadi peringatan pertama untuk segera mengadakan penelitian dan musyawarah dalam jangka panjang yang harus dilanjutkan pada tingkat industri. Rumusan tentang pembangunan berkelanjutan tersebut dirumuskan dalam beberapa hal seperti yang terdappat pada (the publication of the World Conservation Strategy by the International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources IUCN, 1980) adalah sebagai berikut:
  1. Membangun batas ekologi dan standar lebih adil yang akan membawa konsekuensi adanya kebutuhan promosi terhadap nilai-nilai yang mendorong pengunaan standar yang menjadi batas-batas dari kemungkinan kerusakan ekologis.
  2. Re-distribusi kegiatan ekonomi dan re-alokasi sumber daya untuk memenuhi kebutuhan yang tergantung pada pencapaian potensi  pertumbuhan penuh karena pembangunan berkelanjutan jelas memerlukan pertumbuhan ekonomi yang bekelanjutan.
  3. Pengendalian penduduk karena ukuran besaran jumlah penduduk  akan berdampak pada distribusi sumber daya karena pembangunan berkelanjutan hanya dapat dikejar jika perkembangan kependudukan selaras dengan perubahan ekosistemnya.
  4. Konservasi mendasar terhadap sumber daya diperlukan untuk pembangunan berkelanjutan agar tidak membahayakan sistem alamiah  yang seharusnya mendukung kehidupan di bumi: atmosfer, air, tanah, dan makhluk hidup tidak boleh rusak karena pembangunan itu sendiri.
  5. Akses ke sumber daya yang adil dan usaha peningkatan teknologi serta menggunakannya secara lebih efektif karena pada dasarnya pertumbuhan sebenarnya tidak memiliki batas yang ditetapkan jika dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk bumi atau penggunaan sumber daya luar yang tak terkendali dapat menyebabkan bencana ekologis.  Tetapi batas berakhirnya ada tatkala sumberdaya tersebut telah habis terpakai dan teknologi harusnya dapat diciptakan sebagai usaha untuk mengurangi tekanan terhadap alam dan memperlambat terhadap habisnya sumber daya yang ada.
  6. Kendali daya dukung dan hasil berkelanjutan merupakan kendali yang diperlukan untuk sumber daya yang dapat diperbaharui, karena sebagian besar sumberdaya yang ada saling terkait pada ekosistem, dan hasil maksimum yang berkelanjutan harus didefinisikan setelah memperhitungkan efek terhadap seluruh sistem eksploitasi.
  7. Pembangunan berkelanjutan mensyaratkan bahwa tingkat penyusutan sumber daya yang tak dapat diperbaharui mengharuskan adanya beberapa alternatif di masa depan.
  8. Diversifikasi spesies adalah pembangunan berkelanjutan yang membutuhkan konservasi spesies tanaman dan hewan.
  9. Meminimalkan dampak yang merugikan artinya pembangunan berkelanjutan mensyaratkan bahwa dampak yang merugikan terhadap kualitas udara, air, dan lainnya yang berupa unsur-unsur alami harus dapat diminimalkan untuk mempertahankan ekosistem secara keseluruhan.
  10. Pengendalian komunitas adalah adanya kendali masyarakat atas keputusan pembangunan yang mempengaruhi ekosistem setempat.
  11. Kebijakan nasional yang luas dalam kerangka kebijakan internasional      artinya harus dipahami bahwa biosfer adalah rumah bersama semua umat manusia dan pengelolaan bersama atas biosfer adalah prasyarat untuk keamanan politik global karena pada prinsipnya bumi kita hanya satu yang harus kita kelola secara bijaksana bersama-sama oleh seluruh manusia di bumi ini.
  12. Viabilitas ekonomi adalah sebuah kebijakan lingkungan perusahaan yang merupakan perpanjangan dari manajemen kualitas total.
  13. Kualitas lingkungan adalah kebijakan lingkungan perusahaan yang merupakan perpanjangan dari manajemen kualitas total.
  14. Audit lingkungan  adalah suatu sistem audit lingkungan yang efektif  yang berpusat pada pengelolaan lingkungan yang baik.
  15. Triple bottom line yang diterjemahkan bahwa kemakmuran ekonomi, kualitas lingkungan dan keadilan sosial merupakan satu kesatuan idealisme pembangunan yang berkelanjutan.
Prioritas yang segera diwujudkan untuk mendukung pembangunan pariwisata berkelanjutan dapat dijelaskan sebagai berikut:
  1. mengidentifikasi standar sosial dan sumber daya yang dapat diterima dan dapat dicapai,
  2. mendokumentasikan kesenjangan antara keadaan yang diinginkan dan yang sudah ada pada sebuah destinasi,
  3. mengidentifikasi tindakan manajemen untuk menutup kesenjangan tersebut,
  4. monitoring dan evaluasi terhadap efektivitas manajemen destinasi,
  5. mengidentifikasi perubahan yang tidak dapat diterima yang mungkin terjadi sebagai akibat dari kedatangan wisatawan dan pengembangan strategi manajemen untuk menjaga dampak pariwisata dalam tingkat yang dapat diterima,
  6. mengintegrasikan dan mengelola dampak kunjungan wisatawan ke dalam perencanaan instansi yang ada, mendesain, dan mengelolanya;
  7. mendasarkan pengelolaan dampak kunjungan wisatawan pada pemahaman ilmiah yang terbaik dan menyediakan informasi situasional terkini, 
  8. menentukan tujuan pengelolaan yang mengidentifikasi sumber daya dan  kondisi yang harus dicapai serta jenis daya tarik wisata yang akan disediakan; 
  9. mengidentifikasi dampak masalah pengunjung dengan membandingkan standar kondisi yang dapat diterima dengan indikator kunci dari dampak berdasarkan waktu dan lokasi; 
  10. mendasarkan keputusan manajemen, untuk mengurangi dampak atau mempertahankan kondisi yang dapat diterima, pada pengetahuan tentang sumber-sumber kemungkinan dan hubungan antara dampak yang tidak dapat diterima;
  11. mengatasi dampak pengunjung dengan berbagai teknik alternatif pengelolaan, dan 
  12. merumuskan tujuan pegelolaan destinasi, yang memasukkan berbagai tingkat dampak yang diterima, untuk mengakomodasi keragaman lingkungan dan kesempatan pengalaman sekarang dalam setiap pengaturan sumber daya alamiah.
Share:

Wikipedia

Search results