"PORTAL GEOGRAFI, LINGKUNGAN DAN TATA KOTA" Gapai mimpimu untuk masa depan yang lebih baik

Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Menyunting Artikel Konsep Perilaku Kesehatan

         Berdasarkan  batasan perilaku dari skiner, Perilaku kesehatan adalah suatu respons seseorang (Organism) terhadap stimulus atau obyek yang berkaitan dengan penyakit, Hal tersebut mencakup beberapa aspek dari system pelayanan kesehatan, makanan, minuman dan lingkungan. (Notoatmodjo S, 2003). Ada beberapa teori untuk mencoba determinan perilaku dari analisis faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain :
        Perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan di tentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi dari sebagian masyarakat sekitarnya, sehingga ketersediaan fasilitaas, sikap, dan perilaku para petugas kesehatan terhadap kesehatan juga akan membentuk dan memperkuat perilaku yang baik. (Green Lawrence, 1980). 
        Perilaku kesehatan seseorang atau masyarakat ditentukan oleh niat seseorang terhadap obyek kesehatan,  Ada atau tidaknya dukungan dari masyarakat sekitar serta  informasi kesehatan, dan kebebasan individu seseorang untuk memutuskan atau bertindak  dalam situasi apapun (B.Kar Snehandu, 1983).
        WHO menyatakan : Perilaku kesehatan seseorang atau masyarakat ditentukan dari pemikiran dan perasaan seseorang dengan adanya orang lain yang dijadikan referensi atau sumber dan fasilitas.

                                                                       ASI Eksklusif

Pengertian ASI Eksklusif
 
        ASI atau Air Susu Ibu adalah susu yang hasilkan oleh seorang ibu untuk di konsumsi bayi merupakan sumber gizi utama bagi bayi yang belum dapat mencerna makanan padat. ASI di produksi di dalam alveoli karena pengaruh hormone prolactin dan oxytocin setelah melahirkan bayi sehingga air susu tersebut dapat mengalir masuk  berkat otot-otot halus yang mengaliri eveoli dan mengalir ke saluran yang lebih besar selanjutnya ke dalam jaringan penyimpanan air susu sementara, sampai tiba saatnya bayi menghisapnya melalui celah pada puting susu. (Kodrat Laksono, 2010)
        WHO Menyatakan : ASI adalah suatu cara yang terbaik dalam menyediakan makanan ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi (Putri T dan Hasniah B, 2019). ASI Eksklusif adalah hanya memberi ASI saja kepada bayi tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, dan tanpa makanan padat seperti pisang, papaya, bubuk susu, biscuit, bubur nasi, dan tim (Roesli U, 2015).
         Tahap ASI Eksklusif tidak di berikan komsumsi tambahan bagi bayi seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, ataupun makanan padat seperti pisang, papaya, bubur susu, biscuit, bubur nasi dan tim. Bahkan air putihpun tidak diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini. (Kodrat Laksono, 2010)
        WHO (World health Organization) UNICEF (United Nations Children’s Fund) dan organisasi kesehatan lainnya merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama. Setelah setelah bayi berumur 6 bulan, maka ia harus mulai diperkenalkan dengan makanan padat, sedangkan ASI dapat di berikan sampai bayi berusia 2 tahun atau lebih. (Roesli U, 2005).
        Rekomendasi WHO (World health Organization) atau UNICEF (United Nations Children’s Fund) tersebut dituangkan dalam sebuah deklarasi inocenti (Inocenti Declaration). Dideklarasikan di Italia tahun 1990 bertujuan untuk melindungi, mempromosikan, dan memberi dukungan pada pemberian ASI. Deklarasi yang juga ditandatangani di Indonesia memuat beberapa hal antara lain : untuk meningkatkan kesehatan dan mutu makanan bayi secara optimal, maka semua ibu dapat memberikan ASI eksklusif kepada bayi sejak lahir sampai berusia 6 bulan. Bayi sehat pada umumnya tidak memerlukan makanan tambahan karena sampai usia 6 bulan ASI dianggap cukup memenuhi kebutuhan gizi bayi. (Roesli U, 2005).
          Dalam keadaan khusus di benarkan untuk mulai memberi makanan padat setelah bayi berumur 4 bulan, misal terjadi peningkatan berat badan bayi yang kurang dari standar atau didapatkan tanda lain yang menunjukan bahwa pemberian ASI eksklusif tidak berjalan dengan baik, hal ini bisa terjadi karena cara menyusui yang salah ataupun waktu menyusui yang kurang. (Roesli U, 2005).
        Pemberian makanan padat yang terlalu dini dapat mengganggu pemberian ASI ekslusif serta meningkatkan angka sakit pada bayi, Selain itu juga tidak di temukan bukti yang menunjang bahwa pemberian makanan padat pada usia 4 atau 5 bulan lebih menguntungkan. Bahkan sebaliknya, hal ini akan mempunyai dampak yang negative terhadap bayi dan tidak ada dampak positif untuk perkembangan pertumbuhannya. Beberapa penelitian menunjukan bahwa ASI eksklusif dapat mengurangi terjadinya penyakit infeksi seperti magnitis, diare dan infeksi paru (Isna H, 2008)
Share:

ARTIKEL ILMIAH PENDIDIKAN "PENTINGNYA MEMBACA BAGI SISWA"


Pendahuluan
        Membaca adalah hal yang sangat penting dalam memajukan setiap pribadi manusia maupun suatu bangsa. Dengan membaca, kita dapat memperluas wawasan dan mengetahui dunia. Namun sebuah persoalan membaca yang selalu mengemuka, terutama di kalangan pelajar, adalah bagaimana cara menimbulkan minat dan kebiasaan membaca. Banyak negara berkembang memiliki persoalan yang sama, yaitu kurangnya minat membaca di kalangan masyarakat
        Dari pengamatan penulis di kelas ketika diberi pelajaran bahasa Indonesia khususnya membaca terlihat 50 % siswa tidak tertarik, acuh tak acuh, beberapa siswa selalu bercakap-cakap dengan teman sebangkunya, sebagian besar siswa gaduh, dan bacaan baru selesai dalam waktu yang cukup lama. Diajukan pertanyaan, semua diam, sibuk membaca kembali teks, jawaban siswa tidak mencapai sasaran. Ketika diberikan tes uraian siswa cenderung menjawab ngawur, tidak nyambung dengan yang ditanyakan.
Dari hasil study dokumentasi analisis penilaian 5 mata pelajaran ( PKn, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA dan IPS) khususnya untuk soal – soal uraian yang memerlukan pemahaman, lebih dari 50 % siswa kelas VI mendapatkan nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Dari study dokumentasi analisa hasil penilaian pada kegiatan latihan ulangan tengah semester diperoleh data tingkat kebenaran menjawab soal – soal pilihan ganda, isian singkat dan uraian, diperoleh perbadingan sebagai berikut ; 1) Mata Pelajaran PKn,  67%, 30% dan 20% ; 2) Bahasa Indoensia, 70%, 40%  dan 40% ; 3) Matematika, 62%, 40% dan 20% ; 4) Ilmu Pengetahuan Alam, 80%, 50%, dan 40% ; 5) Ilmu Pengetahuan Sosial, 72%, 50% dan 40%.

A.    Faktor Penyebabnya adalah.
        Keterampilan membaca untuk memahami bentuk-bentuk tertulis merupakan hal yang mendasar dan sangat diperlukan siswa dalam kegiatan belajarnya. Kemampuan ini tidak hanya untuk mempelajari mata pelajaran yang bersifat eksak, mata pelajaran noneksak pun sangat memerlukannya.  Mata pelajaran noneksak pada umumnya disajikan secara ekspositoris dan panjang-panjang.
        Bila siswa tidak mampu memahaminya secara baik, maka materi yang disajikan terasa berat dan efek lebih jauh muncul perasaan bosan untuk mempelajari materi-materi pelajaran. Minat baca siswa cenderung menurun, kegiatan membaca tidak variatif, tidak ada tindak lanjut atau hanya asal membaca, ruang baca/ perpustakaan terpisah dengan ruang kelas, buku yang tersedia tebal dan miskin ilustrasi.
 
B.    Dampak Negatif Rendahnya Minat Membaca pada Siswa.

Lemahnya tingkat kemampuan membaca pemahaman siswa merupakan kendala untuk mendapatkan nilai yang memuaskan, apalagi bila metode pembelajaran yang diterapkan guru kurang tepat, hal ini akan membuat nilai hasil belajar siswa semakin terpuruk berada jauh di bawah batas ketuntasan. Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan membaca pemahaman para siswa di sekolah dasar perlu mendapatkan perhatian serius. Salah satu cara agar siswa memiliki kemampuan membaca tinggi maka kebiasaan membaca perlu ditingkatkan. Siswa dapat meningkat kemampuannya jika minat membaca tumbuh dan berkembang pada diri siswa. Penulis memaparkan kegiatan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat membaca melalui program membaca di kelas (Classroom Reading Program)

C.    Strategi Tiga Langkah Menerapkan Program Membaca di Kelas (Three steps to implement a program to read in class )
        Menurut kamus Bahasa Inggris Drs Sandy Putra mengartikan istilah  Classroom berarti ruang kelas atau ruang belajar di suatu sekolah, kata Raeading berarti membaca dan Program berarti rencana atau daftar kegiatan,  jika digabungkan tiga kata tersebut menjadi Classroom Reading Program yang berarti Program Membaca di Kelas. Pada program ini Classroom Reading Program diartikan program membaca di kelas.
Classroom Reading Program  adalah sebuah program untuk meningkatkan minat dan kemampuan membaca pada siswa sekolah dasar. Classroom Reading Program  pertama dikenalkan di Indonesia pada awal tahun 2010 melaui Program membaca di kelas oleh DBE 2 USAID. Di Indonesia program ini disebut  “ Program Membaca di Kelas.” (modul Classroom Reading Program, 2010).
        Dalam menjalankan kegiatan Classroom Reading Program  memiliki tiga langkah yang disebut (Three steps to implement a program to read in class ) yaitu ; 1) Mengenalkan buku, kegiatan bisa dilakukan guru dengan melibatkan siswa mengenal, memanfaatkan, merawat dan menentukan aturan – aturan penggunaan buku – buku di dalam kelas. 2) Mengembangkan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan/ buku – buku bacaan yang tersedia di dalam kelas. Penggunaan buku tidak terpancang pada buku materi pelajaran tetapi buku – buku bacaan yang sudah dikelompokan ke dalam mata pelajaran ; 3) Menciptakan kegiatan membaca yang dapat meningkatkan kreatifitas siswa.

D.    Meningkatkan Minat Baca Melalui  Classroom Reading Program.
        Classroom Reading Program  adalah program membaca di kelas yang sistimatis dan terstruktur yang sangat mudah diterapkan guru di dalam kelas.  Program membaca di kelas dirancang dan disesuaikan dengan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Aktiftas yang dilakukan merangsang siswa berfikir tingkat tinggi. Alat peraga yang digunakan sederhana, mudah didapat dan dekat dengan lingkungan anak. Adapun bagaimana program dijalankan, dibawah ini secara rinci penulis sajikan secara urut.
D.1. Tahap I  Mengenalkan buku.
        Pada kegiatan ini siswa diajak mendiskusikan tentang prosedur perawatan buku. Kegiatan awal yang bisa melibatkan siswa ketika sekolah menerima atau membeli buku baru adalah iventarisasi, memberi sampul, membangun tata tertib, memecahkan masalah yang berkaitan dengan pelanggaran tata tertib, mempromoswikan buku, melakukan survey awal minat membaca siswa, memulai membaca ringan dengan berpasangan dan mencoba meminjam buku bacaan dengan menulis buku pinjaman.

E.    Tahap II Menggunakan buku – buku bacaan untuk diintegrasikan paga Kegiatan Pembelajaran dan Kegiatan Pembiasaan di Sekolah.
1)    Menggunakan buku – buku bacaan sebagai referensi dan penunjang materi pada kegiatan belajar mengajar.
        Pada kegiatan ini guru bersama siswa mengklasifikasi jenis buku – buku bacaan berdasarkan kelompok mata pelajaran diantarannya kelompok agama dan budhi pekerti, kelompok pengetahuan alam, kelompok sosial dan seni budaya, kelompok bahasa dan kelompok matematika.
Setelah selesai mengelompokkan kegiatan selanjutnya adalah menggunakan buku – buku tersebut untuk referensi pembelajaran dan menjadi materi pembahasan dalam diskusi – diskusi siswa selama proses kegiatan belajar mengajar. Siswa bisa menggunakan buku – buku sesuai dengan selera namun tetap pada kelompok mata pelajaran tertentu sesuai jadwal.
       Agar kegiatan ini dapat membawa siswa dalam situasi belajar maka pembelajaran dirancang menggunakan model pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM). Perangkat pembelajaran harus dipersiapkan secara rinci, lengkap, murah, dekat dengan liongkungan dan menantang imajinasi siswa. Supaya bisa diukur keberhasilannya, setiap pembelajaran harus mengahsilkan produk belajar, meskipun tidak berupa nilai.
        Implementasi pembelajaran dilaksanakan menggunakan skenario yang membuat siswa memncapai tingkat kognisi tertinggi yaitu tingkat menciptakan sejalan dengan teori belajat Taxonomi Bloom. Kognisi tingkatan tertinggi dalam kegiatan membaca adalah ketika siswa berhasil menciptakan bentuk atau sesuatu yang dapat ditunjukkan sebagai hasil karya tertinggi waktu selesai pembelajaran.

2)    Menggunakan buku – buku bacaan untuk kegiatan pembiasaan di sekolah.
        Kegiatan membaca bisa dibuat menjadi agenda rutin sekolah contohnya membaca hening berkesinambungan ( Sustained Silent Readin). Kegiatan ini bisa dilakukn satu atau dua kali dalam satu minggu. Waktu yang bisa dimanfaatkan misalnya setelah upacara bendera hari Senin atau setelah melakukan kegiatan senam pagi di sekolah. Waktu yang dibutuhkan 10 – 15 menit. Pelaksanaannya semua guru, kepala sekolah karyawan dan siswa melakukan kegiayan membaca bersama. Kegiatan ini orang tua siswa juga diminta untuk membangun kegiatan membaca dirumah. Jadwal kegiatan, jenis-jenis kegiatan yang diminta.
Kegiatan pembiasaan yang lain adalah terciptanya budaya piket mengelola perpustakaan mini didalam kelas. Kegiatan ini meliputi pelayanan kepada teman yang pinjam buku, pencatatan buku – buku administrasi perpustakaan, ketertiban menata buku – buku dan bertanggungjawab terhadap masalah – masalah tentang pengelolaan perpustakaan.

F.    Tahap III Menciptakan kegiatan membaca yang dapat meningkatkan kreatifitas siswa.
        Membaca akan membosankan jika siswa tidak diberi tantangan, membaca juga akan lebih hidup jika selesai membaca siswa dapat menyimpulkan dan mewujudkan dari apa yang sudah dibaca. Untuk itu perlu diciptakan kegiatan membaca yang merangsang tumbuhnya  ide – ide siswa. Beberapa point yang harus di ingat adalah tujuan pengadaan buku di dalam kelas adalah untuk memberikan akses kepada siswa agar dapat membaca buku dengan mudah. Tentu saja hal ini banyak tantangannya. Sehingga sangat penting untuk selalu mengacu pada tata tertib penggunaan buku yang telah di bahas sebelumnya.
        Kegiatan selanjutnya adalah melibatkan siswa untuk mengelola perpustakaan mini di dalam kelas. Kegiatan ini melibuti, inventarisasi buku, catatan peminjaman dan jurnal membaca harian. Yang tidak kalah penting adalah kegiatan piket kerja dalam mengelola perpustakaan.
        Untuk lebih menguatkan budaya baca bagi siswa perlu kiranya melibatkan orang tua. Kegiatan tersebut bisa berupa  menciptakan budaya baca di rumah, mengadakan bazar buku, pameran buku, lomba – lomba yang berkaitan dengan program membaca.
                       
G.    Hasil yang dicapai dari penerapan Classroom Reading Program

        Dari hasil Penerapan classroom reading program   yang pernah dicobakan oleh penulis pada siswa kelas VI SD Negeri I Kalibeber  Semester I Tahun 2011-2012,  memiliki dampak positif dalam meningkatkan minat membaca dan hasil belajar. Hal ini dapat dilihat dari semakin meningkatnya nilai ulangan formatif dan meningkatnya jumlah kunjungan dan peminjaman buku oleh siswa di perpustakaan. Hasil survey yang dilakukan oleh penulis terhadap minat membaca juga menunjukkan peningkatan yang signifikan. Secara klasikal minat membaca dan hasil belajar  terjadi peningkatan dari kondisi awal, kegiatan pertama dan kegiatan ke dua masing – masing  25 %, 66,37% dan 75,07%. Pada kegiatan ke dua  secara klasikal penigkatan minat membaca dan hasil belajar siswa tercapai.

Simpulan
Jika program membaca di kelas bisa dilakukan guru secara rutin, manfaat yang dapat diperoleh adalah;
a)    Kreatifitas guru dalam mengembangkan pembelajaran meningkat dan berkualitas ;
b)    Meningkatkan minat membaca dan kualitas hasil belajar siswa, 
c)    Dari perubahan lingkungan kelas adalah tersedianya sumber belajar yang berupa buku bacaan tersedia di kelas.
          
Saran – saran
1.    Penerapan Classroom Reading Program diperlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mempelajari  lebih detil tentang program ini.
2.    Classroom Reading Program hendaknya diterapkan melalui integrasi dalam proses belajar mengajar dan kegiatan pembiasaan di sekolahi sampai benar – benar merubah kebiasaan membaca menjadi budaya membaca.
3.    Guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan kegiatan membaca kreatif atau membaca yang menghasilkan penemuan meskipun hanya dalam bentuk yang sederhana,  sehingga diharapkan siswa dapat menemukan sendiri pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampila
                                                                     DAFTAR PUSTAKA
Ambary, Abdullah, dkk. 1999. Penuntun Terampil berbahasa Indonesia dan Petunjuk guru. Bandung: Trigenda Karya.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Bandung: Reneksa Cipta.
Arixs. 2006. Enam Penyebab Rendahnya Minat Baca. TOKOH, Bacaan Wanita dan Keluarga. Senin, 29 Mei 2006..
Baderi, H. A. 2005. Meningkatkan Minat Baca Masyarakat melalui Suatu Kelembagaan Nasional, Wacana ke Arah Pembentukan Sebuah Lembaga Nasional Pembudayaan Masyarakat Membaca. Orasi Ilmiah Pengukuhan Pustakawan Utama. Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Bunyamin, A. 9 Juli 2007. Membangun Peradaban Buku. (Diakses tanggal 28 Juli 2007).
DBE 2 – USAID 2010. Modul Pelatihan Program membaca. Jakarta: USAID
Depdiknas 2004, Kurikulum 2004,   Jakarta, Depdiknas.
Dana, D. 2007. Meningkatkan Minat Baca Anak Sekolah Minggu. PEPAK (Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen), 24 Januari 2007.
Dyah, I. 200VI. Minat Baca Warga Jakarta Rendah. Tempointeraktif, Jumat, 28 Juli 200VI.
Elin. 2007. Tanamkan Minat Baca Sejak Dini. (http://www.kotabogor.go.id).
Gilbert A. Churchil.1991. Marketing Research Metodological Foundations. New York: The Dryden Press.
Harisiati, Titik. 1999. Penelitian Tindakan Sebagai Aplikasi Metode Ilmiah dan Pemecahan Masalah Pembelajaran bahasa Dalam Seminar FPBS IKIP Malang.
Imam Syafi’ie & Imam Machfudz. 1992. Pandai Berbahasa Indonesia . Jakarta: Media Wiyata SMG
KOMPAS, Desember 2006. Jenjang Pendidikan Dasar, Rendahnya Minat Baca Siswa.Jumat25Juni2004. (Republika Online, www.republika.co.id,  diakses tanggal 14 Nopember 2007)

Share:

KOMPAKNYA SISWA SDN SITIREJO 1 KEC. WAGIR MALANG PERINGATI HARI KARTINI

SDN Sititrejo 1 Kecamatan Wagir Malang adalah salah satu SD Negeri yang unggul dalam ketrampilan non akademik, Ketrampilan yang dimaksud yaitu para siswa SDN Sitirejo 1 ini dalam memainkan alat musik yang sudah tidak asing lagi di telinga kita yaitu Drum Band atau Marching Band.

Apa itu Marching Band...? "Marching band adalah istilah dalam bahasa Inggris yang mengacu kepada sekelompok barisan orang yang memainkan satu atau beberapa lagu dengan menggunakan sejumlah kombinasi alat musik atau Alat Drum (Alat Band tiup, perkusi, dan sejumlah instrumen pit) secara bersama-sama. Penampilan marching band merupakan kombinasi dari permainan musik (tiup, dan perkusi) serta aksi baris-berbaris dari pemainnya" (Wikipedia.org 20/04/14)


Siswa-siswi SDN Sitirejo 1 sangat piawai memainkan alat musik marching band tersebut dengan guru yang berkualitas menjadikan SDN Sitirejo 1 ini tidak pernah absen dalam kegiatan rutin kecamatan atau budaya setempat dan hari - hari Nasional untuk memainkan alat musik marching band tersebut dengan rancak.

Sungguh menjadi kebanggaan tersendiri untuk SDN Sitirejo 1 Kecamatan Wagir Kabupaten Malang ini sudah mampu mendidik siswanya untuk dapat memainkan jenis alat musik yang berbeda dengan jumlah yang banyak menjadi satu perpaduan yang enak untuk di dengar, pastinya para orang tua siswa juga turut bangga buah hatinya sudah di sekolahkan di SDN Sitirejo 1 sudah pintar memainkan musik drum band.

Bahwasanya hari ini adalah hari Kartini sehingga setiap sekolah memperingati hari Kartini, sehingga SDN Sitirejo 1 ini berkeliling Desa Sitirejo untuk memainkan Drum Band menghibut masyarakat, hal ini menjadi penilaian positif bagi kita semua bahwasanya Peserta didik harus di kenalkan dengan hari-hari Nasional supaya jika besar kelak anak bangsa ini dapat mencintai tanah airnya. Indonesia sebentar lagi akan menjadi Negara Maju jika anak bangsa sudah di didik dengan baik dalam bidang akademik maupun non akademik yang menjadi satu kesatuan alat dan ketrampilan pendidikan yang bermutu.

Generasi Indonesia Cerdas untuk Indonesia yang lebih baik.

Penulis : Dedi Irawan


Share:

KUMPULAN KATA ILMIAH

  1. Aksi :Tingkah laku yang bertujuan atau yang menyangkut orang lain.
  2. Identifikasi :Menerima kepercsyssn dan nilai-nilai orang atau kelompok lain sebagai milik sendiri.
  3. Imitasi :Meniru tngkah laku orang lain.
  4. Simpati :Merasa diri seolah-olah dalam keadaan orang lain dengan mengikuti yang di lakukan, diakui, atau di derita orang lain.
  5. Sugesti :Pemberian pandangan atau anjuran untuk di terima orang lain tanpa berpikir panjang.
  6. Incest :Hubungan seksual yang terjadi antara dua orang yang mempunyai hubungan darah atau keluarga.
  7. Kelaziman (folkways) : Norma dengan sanksi lemah.
  8. Mode (fashion) :Inofasi yang mendapat persetujuan publik.
  9. Mores :Norma-norma dengan sanksi yamg berat walaupun tidak formal.
  10. Sekulerisme :Pandangan yang berpendirian bahwa moralitas tidak perlu didasarkan pada agama.
  11. Social engineering :Rekayasa sosial, yaitu konkretisasi atau perwujudan dari sistem nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
  12. Style :Gaya atau cara hidup.
  13. Tindakan preventif :Usaha pencegahan agar tidak terjadi gangguan pada keserasian antara kepastian dan keadilan.
  14. Tindakan represif :Usaha mengembalikan keserasian yamg terganggu akibat perilaku menyimpang.
  15. Agresif :Tindakan yang bersifat aktif dan menyerang.
  16. Akomodasi :Perpaduan antara kerja sama dan posisi atau mempengaruhi perubahan guna memperkecil konflik.
  17. Asosiatif :Suatu proses yang mengarah kepada suatu kerja sama.
  18. Bergaining :Pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang-barang dan jasa antara dua orang atau lebih.
  19. Disosiatif :Suatu perjuangan melawan seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu.
  20. Estetika :Keindahan.
  21. Etika :Kesusilaan atau moral.
  22. Join Venture :Kerja sama (kerja patungan) dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu.
  23. Koalisi :Gabungan antara dua orang atau lebih dengan tujuan untuk memperkuat diri.
  24. Kondusif :Menghasilkan, menguntungkan, mendukung.
  25. Koperasi :Rangkaian interaksi atau jaringan interaksi untuk mencapai tujuan-tujuan umum atau kerja sama.
  26. Seansitif :Peka, cepat tanggap.
  27. Afektif :Berhubungan dengan perasaan, sikap dan cinta.
  28. Egosentris :Tindakan individu yang mementingkan diri sendiri.
  29. Emansipasi :Usaha untuk melepaskan diri dari pengekangan, baik ruang gerak atau kemampuan inteligensi agar dapat berkembang lebih lanjut.
  30. Fantasi :Gambaran berdasarkan hayalan atau angan-angan.
  31. Group :Kelompok atau orang banyak yang berinteraksi secara kooperatif.
  32. Heredilitas :Ciri warisan orang tua yang melekat pada keturunannya.
  33. Kriminal :Perbuatan kejahatan.
  34. Kognitif :Berhubungan dengan pengertian, pengetahuan.
  35. Mentalitas :Keadaan, kapasitas dan aktifitas jiwa serta akal manusia.
  36. Otoriter :Kekuasaan yang sah yang dimiliki dengan persetujuan dari mereka yang terlibat.
  37. Persepsi :Pendapat, pandangan.
  38. Anomie :Ketiadaan nilai-nilai umum atau kaidah dalam masyarakat sebagai pegangan.
  39. Deviant :Individu yang cenderung melakukan penyimpangan atau pelanggaran norma.
  40. Deviasi :Penyimpangan terhadap nilai-nilai dan norma-norma.
  41. Inovasi :Penerimaan tujuan-tujuan kultur oleh individu sembari menolak alat-alat kelembagaan masyarakat.
  42. Konformitas :Tindakan yang sesuai dengan norma yang berlaku.
  43. Patologi :Ilmu yang mempelajari tentang pemyakit yang menyimpang.
  44. Ritualisme :Penerimaan cara-cara yang diperkenalkan secara kultur namun menolak tujuan-tujuan kebudayaan.
  45. Sub Kebudayaan :Budaya yang membedakan suatu kelompok dengan kelas masyarakat, atau kebudayaan suatu kelompok yang berbenturan dengan kebudayaan yang dominan.
  46. Temporer :Bersifat sewaktu-waktu, tidak terus-menerus.
  47. White Collar Crime :Perilaku menyimpang (kejahatan) yang dilakukan seseorang yang memiliki setatus dan tangguang jawab sosial tinggi (kejahatan kerah putih).
  48. Hirarki :Sruktur masyarakat yang terdiri dari tingkat-tingkat yang tidak sederajat. Masing-masing tingkat membentuk kelas sosial yang memiliki wewenagnya sendiri-sendiri. Tingkat atau kelas sosial atau memiliki wewenag mengatur tingkat atau kelas sosial dibawahnya.
  49. Prestise :Wibawa berkenaan dengan prestasi, kemampuan, ataupun kedudukan seseorang. Prestise seseorang di ukur dari pengakuan sosial serta penghargaan masyarakat terhadap kewibawaanya.
  50. Sanksi :Tindakan yang dikenakan pada seseorang atas pelanggarannya terhadap norma atau hukum tertentu. Sanksi bisa berwujud teguran dan hukuman.
  51. Simbol :Sesuatu yang menjadi lambang atau pengganti dari hal tertentu. Dengan adanya simbol, hal yang di lambangkan dihadirkan kembali.
  52. Subtansial :Berasal dari kata subtansi, yang berarti pokok atau jati diri sesuatu. Suatu hal dikatakan subtansi berarti hal tersebut menjadi jati diri (asas) bagi hal-hal lainya.
  53. Bilateral :Prinsip penentuan hubungan kekerabatan berlaku secara rangkap melaui garis kekerabatan ayah dan ibu.
  54. Diferensiasi :Proses pemerolehan hak-hak dan kewajiban yang berbeda berdasarkan usia, jenis kelamin, pekerjaan dan lain-lain.
  55. Klan :Kelompok kekerabatan yang berdasarkan asas keturunan unisversal.
  56. Matrilineal :Pertalian kelurga atau keturunan universal.
  57. Morfologi :Konfigurasi fisik suatu masyarakat.
  58. Patrilineal :Pertalian kelurga atau keturunan menurut garis ayah.
  59. Ras :Katagori individu secara turun temurun memiliki fisik dan biologis tertentu.
  60. Fenomena :Kenyataan atau kejadian yang hadir dihadapan kita yang dapat di tangkap oleh panca indera sekaligus dapat diterangkan serta di nilai secara ilmiah.
  61. Generasi :Sekelompok orang yang lahir dalam jangka waktu tertentu dalam satu garis keturunan tertentu.
  62. Intensitas :Keadaan (tingkatan ukuran) menghebat meninggi dan meningkat.
  63. Legitimasi :Pembenaran atau pengakuan umum terhadap suatu lembaga, kedudukan, bisa juga pola perilaku yang di anggap paling wajar bagi suatu masyarakat.
  64. Social Circulation :Derajad perubahan keanggotaan suatu kelompok dengan tetap mempertahankan pola dinamika kelompok yang bersangkuatn. Dapat juga diartikan sebagai gerak individu dari suatu kelompok ke kelompok lain.
  65. Stabilitas Sosial :Kemantapan masyarakat yang diwarnai oleh keseimbangan antara berbagi kepentingan warga masyarakat beserta nilai atau norma sosial yang berlaku.
  66. Afeksi :Perasaan yang bersumber dari gejala emosi.
  67. Custom :Tata kelakuan yang lebih kuat integrasinya dengan pola-pola perilaku masyarakat.
  68. Demostik Institution :Pranata yang berfungsi memenuhi kebutuhan keluarga.
  69. Economic Instutition :Pranata yang berfungsi menghasilkan barang dan jasa.
  70. Folk Ways :Norma dengan saksi lemah.
  71. Internalized :Proses pembudayaan norma-norma dalam pribadi anggota masyarakat.
  72. Identitas Moral :Keadaan atau kepribadian yang berdasarkan mental yang baik menurut agama dan nilai masyarakat.
  73. Kohesi Sosial :Hubungan sosial.
  74. Mores :Norma-norma dengan sanksi berat.
  75. Politic Instutition :Pranata yang memiliki monopoli kekuasaan yang bersifat sah.
  76. Pranata/Institution :Suatu sistem norma khusus yang menata suatu rangkaian tindakan berpola mantap guna memenuhi suatu keperluan khusus dari manusia dalam kehidupan masyarakat.
  77. Religion Instutition :Pranata yang berfungsi memenuhi kebutuhan manusia yang berhubungan dengan Tuhan atau alam gaib.
  78. Scientific Institution :Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan ilmiah manusia.
  79. Usage :Tindakan yang dipelajari dari para anggota kelompok.
Share:

Cara belajar yang baik untuk pelajar.

Pada postingan kali ini saya akan membagikan sebuah tips dimana sangat berguna bagi seorang pelajar untuk mendapatkan nilai yang baik dan menjadi juara kelas.

Pada dasarnya belajar itu tidak harus terlalu di porsir karena kemampuan neuron pada otak manusia itu terbatas dan jika berlebihan bisa putus yang menyebabkan kelupaan bisa jadi masuk otak sebentar besoknya lupa. Mari kita biasakan belajar yang teratur dan ikuti tips-tipsnya dari saya.

1. Untuk pengetahuan kita tidak perlu mengeluarkan modal untuk tau sebuah ilmu pengetahuan, sekarang jamannya internet jadi ketika kita buka internet luangkan waktu 5 menit untuk membaca artikel atau berita yang bermanfaat bagi pendidikan anda.

2. Manfaatkanlah jejaring sosial anda sebagai like sebuah halam pendidikan yang sesuai dengan kriteria penunjang pendidikan anda.

3. Membaca buku rutin setiap hari minimal 5 menit saja dan di pahami setiap kalimatnya, Ingat otak kita dalam mengingat terbatas bro.. jadi tidak perlu di porsir dalam membaca.

4. Luangkanlah waktu untuk menulis kembali apa yang anda ketahui menjadisebuah artikel sehingga dengan begitu anda dengan sendiri mereview kemampuan anda dalam menginbgat sesuatu dan tulisan yang anda tulis ulang tersebut sudah bisa anda jadikan sebagai hak cipta anda.

5. Setelah membaca anda mencoba membuat kesimpulan yang berarti bagi kehidupan anda.

6. Jika anda mengetahui sebuah kalimat yang susah di ingat cobalah kreatif membuat singkatan yang bisa merangsang neuron anda contohnya CIPAR (China, Inggris, Prancis, Amerika, RUSIA)

7. Rajinlah mencatat point-point yang di jelaskan oleh guru/dosen pembimbing anda untuk anda pelajari kembali di rumah, dan review kembali pelajaran yang anda dapat hari ini.

8. Latihan konsenterasi dengan meditasi yang sangat berguna bagi titik fokus anda dalam menerima materi.

9. Belajar di waktu yang sunyi, tengah malam atau pagi hari sangat bermanfaat karena belajar baik adlah belajar dimana anda butuh ketenangan dalam berkonsenterasi.

10. Nikmati setiap pelajaran yang anda terima, sesulit apapun pelajaran yang kamu dapat asal hati enjoy niscaya pelajaran yang anda dapat juga enjoy masuk ingatan anda,

Nah itu tips yang saya punya bro.. alhamdulilah dengan tips ini selama ini saya selalu mendapat nilai A sehingga tidak ada salahnya to jika anda mengikuti tips ini.. Jika anda memiliki tips lain untuk berbagi pengetahuan tentang cara belajar yang baik saya harapkan saudara berbagi info karena berbagi ilmu dan pengetahuan itu baik, jadi manusia yang berguna bagi diri sendiri maupun orang lain kah broo..??? yuk koment di bawah.
Share:

Contoh Kartu Soal Pilihan Ganda dan Uraian

KARTU SOAL

Nama Sekolah             : SMP N 1 Ngadirojo             Bentuk Soal                : Pilihan Ganda
Mata Pelajaran            : Geografi                                Tahun Ajaran               : 2013/2014
Kelas/Semester            : VIII Delapan                        Penyusun                     : Dedi Irawan S.Pd

Standart Kopetensi
1.      Memahami permasalahan sosial berkaitan dengan pertumbuhan jumlah penduduk.
Buku Sumber: BSS IPS Kelas VIII

Kepadatan penduduk aritmatik ditentukan oleh perbandingan antara jumlah penduduk dan ....
a.   penyebaran penduduk.
b.   luas wilayah.
c.    pertumbuhan penduduk.
d.   kelahiran dan kematian.
Kopetensi Dasar
1.1.Mendeskripsikan kepadatan Penduduk aritmatik.
No Soal

1
Indikator Soal
Disajikan dalam bentuk deskripsi, Siswa dapat menentukan cara menghitung Kepadatan Penduduk.
Kunci

B

Standart Kopetensi
1.      Memahami permasalahan sosial berkaitan dengan pertumbuhan jumlah penduduk.
Buku Sumber: BSS IPS Kelas VIII

Daerah di Indonesia yang tingkat kepadatan penduduknya tertinggi adalah….
a.   Kalimantan.
b.   Sumatera.
c.   Jawa.
d.   Sulawesi.
Kopetensi Dasar
1.2.Mendeskripsikan daerah yang tingkat kepadatan penduduknya tinggi.
No Soal

2
Indikator Soal
Di sajikan bentuk deskripsi, Siswa dapat menentukan daerah yang padat penduduknya.
Kunci

C

Standart Kopetensi
1.      Memahami permasalahan sosial berkaitan dengan pertumbuhan jumlah penduduk.
Buku Sumber: BSS IPS Kelas VIII

Dampak negative dari kepadatan penduduk di suatu daerah adalah….
a.       Daerah tersebut akan semakin maju perekonomiannya.
b.       Daerah tersebut akan terjadi kemacetan.
c.        Daerah tersebut terjadi kekurangan tenaga kerja.
d.       Daerah tersebut banyak lowongan pekerjaan.

Kopetensi Dasar
1.3.Mendeskripsikan Dampak Negative akibat kepadatan Penduduk.
No Soal

3
Indikator Soal
Di sajikan dalam bentuk analisis, Siswa dapat menentukan dampak negative dari kepadatan Penduduk.
Kunci

B


KARTU SOAL

Nama Sekolah             : SMP N 1 Ngadirojo             Bentuk Soal                : Uraian
Mata Pelajaran            : Geografi                                Tahun Ajaran              : 2013/2014
Kelas/Semester            : VIII Delapan                        Penyusun                     : Dedi Irawan S.Pd

Standart Kopetensi
1.      Memahami permasalahan sosial berkaitan dengan pertumbuhan jumlah penduduk.



Buku Sumber: BSS IPS Kelas VIII
No Soal

1
Hitunglah kepadatan Penduduk Aritmatik, Jika diketahui hasil survei penduduk Provinsi X tahun 2013 sebesar Rp12.457.777 jiwa dan luas wilayahnya sebesar 81.860 km2. Jadi, kepadatan penduduk provinsi tersebut adalah !
Kopetensi Dasar
1.1.Menghitung kepadatan Penduduk.

Kunci :


= 152.18 (dibulatkan menjadi 152)
Angka 152 menunjukkan bahwa setiap 1 km2 wilayah Provinsi X ditempati oleh 152 jiwa
penduduk.


Indikator Soal
Disajikan bentuk Ilustrasi, Siswa dapat menghitung kepadatan penduduk.

Standart Kopetensi
1.      Memahami permasalahan sosial berkaitan dengan pertumbuhan jumlah penduduk.



Buku Sumber: BSS IPS Kelas VIII
No Soal

2
Sebut lima upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kepadatan penduduk !

Kopetensi Dasar
1.2.Mengatasi kepadatan Penduduk

Kunci :
a.    Menggalakan program transmigrasi penduduk .
b.   Penyebaran pendirian pusat-pusat industri dan perdagangan.
c.    Pemerataan pembangunan.
d.   Pemanfaatan Iptek untuk mengolah daerah-daerah yang tanahnya tidak subur dan  gersang menjadi daerah yang subur.
e.    Membuat peraturan pemerintah yang mengatur tentang imigrasi dan emigrasi.


Indikator Soal
Disajikan bentuk Ilustrasi, Siswa dapat menghitung kepadatan penduduk.


Share:

Wikipedia

Search results