"PORTAL GEOGRAFI, LINGKUNGAN DAN TATA KOTA" Gapai mimpimu untuk masa depan yang lebih baik

Showing posts with label GEOGRAFI. Show all posts
Showing posts with label GEOGRAFI. Show all posts

GEOGRAFI Konsep Keterkaitan Keruangan

 Suatu wilayah dapat berkembang karena adanya hubungan dengan wilayah lain, atau adanya saling keterkaitan antarwilayah dalam memenuhi kebutuhan dan sosial penduduknya.

Dengan kata lain konsep ini menggambarkan hubungan antara persebaran gejala geografi di suatu tempat dengan gejala lain.

Keterkaitan keruangan atau asosiasi keruangan menunjukkan derajat keterkaitan persebaran suatu fenomena dengan fenomena yang lain di satu tempat atau ruang, baik yang menyangkut fenomena alam, tumbuhan, atau kehidupan sosial.

Kovariasi ini juga mewujudkan suatu 'region; yang bersifat formal, tidak seperti halnya 'region' fungsional yang terwujud dari integrasi fenomena yang saling berinteraksi.

Sebagai contoh keterkaitan keruangan misalnya kemiringan lereng dengan tebal tanah, makin terjal lerengnya tentunya akan disertai dengan fenomena makin tipisnya tanah, karena di lereng yang terjal erosi terjai lebih intensif.

Zona lereng tertentu dengan ketebalan tanah tertentu mewujudkan 'region' tersendiri, walaupun dengan skala mikro dan unsur-unsur yang terbatas jumlah atau jenisnya (lereng, tanah, kandungan air, jenis vegetasi).

Contoh lain tumbuhnya alang-alang di tanah terbuka yang mendapatkan sinar matahar dan tidak ditanami, sebaliknya tumbuhnya lumut di pohon-pohon atau tempat yang teduh dan lembap.

Daerah gurun merupakan perwujudan kovariasi fenomena antara kekeringan (keadaan iklim), kelangkaan vegetasi (vegetasinya jenis tertentu), kehidupan fauna khas daerah gurun dan pelapukan batuan lepas yang  lebih dominan daripada adanya tanah.

Dalam hal fenomena hasil budaya, beradanya bersama d suatu tempat (ruang) sejumlah gedung, bermacam peralatan (mebeler, instrumen, media) dan peralatan dari sifat keterkaitan keruangan akan dapat mewujudkan suatu 'formal region' yang berupa kompleksitas bangunan gedung yang berbeda dengan yang ada di tempat atau ruang lain.

Namun jika jika ketahui juga adanya atau saling pengaruh satu dengan yang lain, maka apa yang kita ketahui bukan hanya kompleks gedung-gedung penting yang berupa ''formal region'.

Pengertian kampus fakultas keolahragaan, fakultas teknik, fakultas mipa, kompleksitas administrasi universitas, yang tempatnya terpisah masing-masing mewujudkan functional region tersendiri.

Secara keseluruhan semuanya itu mewujudkan suatu universitas atau institut teknologi, yang juga merupakan sebuah 'fungtional region' pada hierarki yang lebih tinggi.

Dalam fenomena keadaan alam dapat dicontohkan adanya aneka macam tumbuhan dan kehidupan maupun unsur-unsur abiotik di suatu tempat pada ketinggian tertentu sebagai 'formal region' mungkin kita kenal sebagai daerah hutan.

Tapi kalau kita perhatikan lebih lanjut adanya interaksi antara unsur-unsur dalam ruang itu (atau juga ruang/tempat lain) dapatlah kita sampai pada pengertian "functional region' yang berwujud hutan cadangan hidrologisnya.

Share:

GEOGRAFI KONSEP NILAI KEGUNAAN

 

Nilai kegunaan fenomena atau sumber-sumber di muka bumi bersifat relatif, tidak sama bagi semua orang atau golongan penduduk tertentu.

Daerah panai berpasir yang landai dengan perairan jernih belum tentu memiliki nilai kegunaan yang demikian besar bagi penduduk setempat jika mereka berorientasi kehidupan pada pemanfaatan sumber-sumber di daratan secara bersahaja dan banyak jalan darat dapat ditempuh dengan mudah.

Sebaliknya bagi masyarakat kota yang hidupnya berkecukupan dan penduduknya demikian padat daerah pantai yang demikian bagi sebagain orang mungkin memiliki nila kegunaan yang demikian tinggi sebagai tempat rekreasi dan pariwisata, sementara penduduk yang lain memilih pergi ke daerah pegunungan yang berhawa sejuk sebagai tempat rekreasinya.

Demikian pula halnya dengan daerah dataran banjir yang bagi orang-orang yang lebih maju merupakan daerah rawan dan tidak berguna sebagai tempat tinggal, sebaliknya bagi masyarakat tertentu yang turun-temurun telah tinggal di daerah itu merupakan pilihan tempat tinggal yang cukup menyenangkan, walau harus disertai dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan dalam mengatasi kerawanan banjir dan memanfaatkan daerah itu.


Konsep Interaksi Interdependensi

Interaksi merupakan peristiwa saling mempengaruhi daya-daya, objek, atau tempat satu dengan yang lain.

Setiap tempat mengembangkan potensi sumber dan kebutuhan yang tidak selalu sama dengan apa yang ada di tempat yang lain.

Oleh karena itu senantiasa terjadi interaksi atau bahkan interdependensi antara tempat yang satu dengan tempat  atau wilayah lain.

Daerah pedesaan menghasilkan pangan dan produk-produk lain yang juga dibutuhkan oleh penduduk perkotaan.

Sebaliknya kota menghasilkan barang industri, jasa dan informasi yang juga diperlukan oleh kawasan pedesaan.

Maka terjadilah interaksi berupa pengangkutan  barang produk pertanian dari desa ke kota dan sebaliknya  kota menyediakan transportasi , mengirimkan produk industri atau bahan olahan ke pedesaan, disamping juga berbagai informasi dan mungkit juga menyangkut jasa kredit bank.

Interaksi juga terjadi antara kota yang satu dengan kota yang lain baik dalam bentuk pertukaran barang dan jasa ataupun perpindahan penduduk.

Interaksi keruangan bahkan juga terjadi antara unsur atau fenomena setempat, baik antara fenomena alam ataupun fenomena kehidupan.

Interaksi antara endapan pasir yang diangkut air sungai dengan hempasan gelombang (ombak) oleh dorongan angin di tengah laut menghasilkan keadaan garis batas antara air dan daratan dengan pasir di dasarnya  senantiasa bergerak berubah-ubah bentuk ataupun posisinya.

Dalam bertani orang memperoleh hasil bahan makanan dari lahan yang ditanam tetapi sekaligus juga mengurangi kesuburan tanah untuk kemudian dengan mengembalikan kesuburan lewat pemupukan.

Share:

KONSEP GEOGRAFI MENGENAI AGLOMERASI

 Konsep aglomerasi berkaitan dengan pemusatan atau pengelompokan suatu fenomena di permukaan bumi. 

Contohnya masyarakat cenderung mengelompok pada tingkat sejenis, sehingga timbul daerah elite, daerah kumuh, pedagang besi tua, dan pedagang barang.

Aglomerasi merupakan kecenderungan yang bersifat mengelompok pada suatu wilayah yang relatif sempit yang paling menguntungkan baik mengingat kesejenisan gejala maupun adanya faktor-faktor umum yang menguntungkan.

Pada masyarakat kota cenderung tinggal mengelompok pada tingakt yang sejenis sehingga timbul daerah permukiman elit, daerah tempat tinggal para pedagang, daerah permukiman kompleks perumnas, yang kebanyakan penghuninya pegawai negeri serta ada juga daerah permukiman kumuh.

Sedang pada masyarakat pedesaan yang masih agraris penduduk cenderung menggerombol di tanah datar yang subur dan membentuk perdukuhan atau pedesaan; makin subur tanahnya dan makin luas dataran makin besar desa dan jumlah penduduknya.

Sebaliknya, makin terbatas tanah datar dan juga kurang subur, gerombolan dukuh atau desa makin kecil dan makin terpencar letaknya.

Salah satu keuntungan yang didapatkan dengan adanya aglomerasi penduduk yang padat ialah dimungkikannya pengembangan sistem ekonomi aglomerasi yang memanfaatkan jumlah penduduk yang besar sebagai daerah pemasaran/pelayanan namun hanya meliputi wilayah yang sempit.

Ini berarti memungkinkan efisiensi yang tinggi dalam produksi, pengangkutan barang maupun pemasangan atau pengadaan sarana-sarana untuk pelayanan umum.

Ekonomi aglomerasi itu sendiri artinya penghematan akibat menurunnya biaya rata-rata produksi atau pemeberian jasa, dan dapat terjadi melalui ekonomi skala atau ekonomi  skala internal (penghematan akibat meningkatnya skala operasi), ekonomi lokaslisasi atau ekonmi skala eksternal (penghematan akibat menurunnya biaya rata-rata produksi per unit karena kedekatan lokasi atau kesamaan dalam melakukan kegiatan), ekonomi transfer (penghematan karena biaya pengangkutan yang relatif murah), dan ekonomi urbanisasi (penghematan karena aglomerasi industri di wilayah perkotaan yang besar).

Share:

KONSEP GEOGRAFI MENGENAI MORFOLOGI

 Konsep morfologi merupakan konsep yang berhubungan dengan relief (bentuk permukaan bumi) yang berbeda-beda, sehingga kegunaanya pun berbeda. 

Bentuk permukaan bumi sebagai hasil proses alam memiliki hubungan dengan aktivitas atau kegiatan manusia dalam hidupnya.

Morfologi menggambarakan perwujudan daratan muka bumi sebagai hasil pengangkatan atau penurunan wilayah (secara geologi) yang lazimnya disertai erosi dan sedimentasi hingga ada yang berbentuk pulau-pulau, daratan luas yang berpegunungan dengan lereng-lereng, lembah-lembah dan dataran aluvial.

Morfologi juga menyangkut bentuk lahan yang terkait dengan erosi dan pengendapan, penggunaan lahan, tebal tanah, ketersediaan air serta jenis vegetasi yang dominan.

Bentuk dataran ataupun plato (dengan kemiringan tak lebih dari 5 derajat) merupakan perwujudan wilayah yang mudah digunakan sebagai daerah permukiman dan usaha pertanian serta usaha-usaha perekonomian lainnya.

Jika diperhatikan peta persebaran penduduk di Asia ternyata penduduk yang padat terpusat terutama di lembah-lembah sungai besar dan tanah-tanah datar yang subur.

Sedang wilayah yang penuh dengan pegunungan atau dengan lereng-lereng yang terjal yang mempunyai keterjangkauan sangat terbatas lazimnya merupakan wilayah yang jarang penduduknya atau bahkan tidak didiami manusia.

Bentuk pulau dengan garis-garis pantai yang panjang memberi arti yang khusus mengingat nilai maritimitas (rasio panjang pantai dengan luas daratan) yang tinggi.


Share:

KONSEP GEOGRAFI MENGENAI POLA

 Konsep pola berkaitan dengan susunan bentuk atau persebaran fenomena dalam ruang di muka bumi, baik bersifat alami ataupun sosial budaya. Fenomena alami, misalnya aliran sungai, persebaran vegetasi, jenis tanah, dan curah hujan.

Fenomena sosial budaya, misalnya permukiman, persebaran penduduk, pendapatan, mata pencaharian, jenis rumah, tempat tinggal dan sebaginya.

Geografi mempelajari pola-pola bentuk dan persebaran fenomena, memahami makna atau artinya, serta berupaya untuk memanfaatkannya dan di mana mungkin juga mengintervensi atau memodifikasi pola-pola guna mendapatkan manfaat yang lebih besar.

Sebagai contoh, orang berladang dan menggembalakan ternak di daerah yang hujannya kurang dan bersawah di daerah yang cukup air.

Di kawasan yang sudah maju orang membuat terusan-terusan untuk lebih memanfaatkan sungai-sungai yang ada sebagai angkutan air.

Dengan mengingat adanya aliran sungai, tanah yang subur, tanah datar yang terbatas, ada pola-pola permukiman yang memanjang (sepanjang tepi sungai), meggerombol, menyebar, dan terpencar tidak merata.

Pada daerah perkotaan yang dibangun secara terencana orang membuat daerah permukiman dengan pola sedemikian rupa untuk memudahkan setiap penduduk mencapai pasar/tempat berbelanja, pergi ke kantor, pergi ke sekolah dan sebagainya dengan mudah serta mewujudkan kehidupan sehari-hari yang nyaman dan akrab.

Sebaliknya, dalam keadaan serba keterbatasan segolongan orang tinggal pada rumah yang saling berimpitan tanpa disertai adanya fasilitas pelayanan umum yang cukup memadai.

Share:

KONSEP GEOGRAFI MENGENAI KETERJANGKAUAN

Konsep keterjangkauan mengkaji aksesbilitas suatu tempat. Ketersediaan sarana prasarana untuk menjangkau suatu wilayah yang jauh akan mudah dijangkau apabila sarana dan prasarana transportasi memadai.

Sebaliknya jarak yang dekat, tetapi kondisi sarana prasarana transportasi kurang memadai menunjukkan aksesbilitas wilayah rendah

Aksesbilitas dapat pula dipengaruhi oleh faktor budaya di suatu tempat.

Faktor adat istiadat dan sikap masyarakat setempat yang sulit untuk menerima pengaruh dari luar, akan dapat menyebabkan suatu tempat sulit dijangkau.

Suharyono (1994) dalam bukunya yang berjudul "Filsafat Geografi" menjelaskan bahwa:

"Keterjangkauan tidak selalu berkait dengan jarak, tetapi lebih berkaitan dengan kondisi medan atau ada tidaknya sarana angkutan atau komunikasi yang dapat dipakai.

Suatu tempat dapat dikatakan dalam keadaan terasing atau terisolasi kalau tempat itu sukar dijangkau (dengan sarana komunikasi atau angkutan) dari tempat-tempat lain, meski tempat tersebut relatif tidak jauh dari tempat-tempat lain itu

Rintangan medan berupa adanya rangkaian pegunungan tinggi, hutan lebat, dan rawa-rawa atau gurun pasir yang luas merupakan contoh penyebab suatu tempat kurang dapat dijangkau dari tempat-tempat lain.

Faktor sosial yang berupa bahasa, adat istiadat serta sikap penduduk yang berlainan (mencurigai setiap orang asing sebagai musuh) dapat pula menjadikan faktor penyebab keterjangkauan suatu tempat."

Share:

KONSEP GEOGRAFI MENGENAI JARAK

Konsep ini mengkaji jarak antara suatu tempat dengan tempat lain. Jarak sebagai konsep geografi mempunyai arti penting bagi kehidupan sosial, ekonomi maupun juga kepentingan pertahanan.

Jarak dapat merupakan faktor pembatas yang bersifat alami, sealipun arti pentingnya juga bersifat relatif sejalan dengan kemajuan kehidupan dan teknologi.

Jarak berkaitan erat dengan arti lokasi dan upaya pemenuhan kebutuhan atau keperluan pokok (air, tanah subur, pusat pelayanan), pengangkutan barang dan penumpang.

Oleh karena itu jarak tidak hanya dinyatakan dengan ukuran jarak lurus di udara yang mudah diukur pada peta (dengan memperhatikan skala peta), tetapi dapat pula dinyatakan sebagai jarak tempuh baik yang berkaitan dengan waktu perjalanan yang diperlukan mapun satuan biaya angkutan.

Sejalan dengan kemajuan teknologi dan upaya efisiensi, jarak tempuh maupun biaya angkutan antara dua tempat yang berjauhan berubah dari waktu ke waktu.

Jarak yang semula dapat ditempuh berhari-hari dengan berjalan kaki, kemudian dapat ditempuh dalam beberapa jam dengan kendaraan bermotor atau kereta api, dan selanjutnya cukup ditempuh dalam bilangan menit dengan memakai kapal terbang.

Jarak sebagai pemisah antara dua tempat juga berubah sejalan dengan kemajuan sarana komunikasi di samping sarana angkutan.

Itulah sebabnya, sekarang orang dapat mengatakan bahwa dunia menjadi makin kecil dan jarak menjadi makin dekat, karena dengan teknologi komunikasi mutakhir orang dapat dengan mudah berbicara dengan orang lain  atau melihat peristiwa yang terjadi di benua lain dalam waktu yang sesaat (lewat telepon sambungan langsung internasional atau melalui siaran televisi yang dipancarkan lewat satelit).

Namun bagi banyak orang, khususnya bagi yang belum mampu menjangkau atau menggunakan sarana telekomunikasi atau sarana angkutan modern yang biayanya mahal, jarak tetap merupakan faktor penghambat atau pemisah.

Sedang dalam kaitannya dengan perekonomian, jarak tetap merupakan faktor pembatas, sehingga dikembangkan orang rumusan teori atau model-model yang bertalian dengan jarak angkut, nilai sewa tanah, zonifikasi tata guna lahan, dan sebagainya.

Jarak berpengaruh pada harga dan juga nilai sewa atau harga tanah.

Jarak pada peta melalui garis lengkung atau berkelok-kelok dapat diukur dengan alat yang disebut kurvimeter, yang dapat menunjukkan jarak pada peta dengan skala-skala tertentu.

Konsep jarak dibedakan menjadi dua, yaitu jarak absolut dan jarak relatif.


a. Jarak Absolut

Jarak absolut diukur menggunakan satuan panjang


b. Jarak Relatif

Jarak relatif diukur dengan mempertimbangkan rute, waktu, atau biaya.


Share:

GEOGRAFI MENURUT PARA AHLI MATERI SMA KELAS X

 

geografi yang dikemukakan oleh para ahli:


Alexander von Humbolt (1769-1859)
Mengemukakan bahwa geografi identik atau serupa dengan geografi fisik. Ia menjelaskan bagaimana kaitan bumi dengan matahari dan perilaku bumi dalam ruang angkasa, gejala cuaca dan iklim dunia, tipe-tipe permukaan bumi dan proses terjadinya, serta hal-hal yang berkaitan dengan  hidrosfer.

Armin K. Lobeck (1939)
Geografi merupakan suatu studi tentang hubungan-hubungan yang ada antara kehidupan dengan lingkungan fisiknya

Barlow
Geografi adalah ilmu yang mempelajari proses-proses yang berhubungan dengan lingkungan dan gejala-gejala serta pola-pola terkait yang dibahas.

Bernard Hughes
Geografi adalah campuran dari matematika yang membahas kondisi bumi beserta bagian-bagiannya juga tentang benda-benda langit lainnya.

Bernhardus Varenius
Geografi adalah campuran dari matematika yang membahas kondisi Bumi beserta bagian-bagiannya juga tentang benda-benda langit lainnya.

Bisri Mustofa
Geografi adalah ilmu yang menguraika tentang permukaan bumi, iklim, penduduk, flora fauna serta basil-basil yang diperoleh dari muka bumi.

Bintarto,
Mengatakan bahwa geografi mempelajari hubungan kausal gejala-gejala di permukaan bumi, baik yang bersifat fisik maupun yang menyangkut kehidupan makhluk hidup beserta permasalahannya melalui pendekatan keruangan, kelingkungan dan regional untuk kepentingan program, proses dan keberhasilan pembangunan.

Claudius Ptolemaeus
Pengertian geografi ini terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu seiring dengan kemajuan pemikiran, pemahaman, dan penelaahan manusia. Seorang ahli astronomi dan matematika bernama Claudius Ptolemaeus (87–150 M) dalam bukunya yang berjudul Geograpike Unphegesismengemukakan bahwa geografi merupakan suatu penyajian melalui peta dari sebagian wilayah permukaan Bumi yang menunjukkan ketampakan secara umum.

Carl Reitter
Geografi adalah segala gejala dan bentuk alam dengan umat manusia mengorganisasikan dalam bentuk kerangka dasar asosiasi geografi yang khas tentang tanah dan manusia pada permukaan bumi.

Daldjoeni
Geografi adalah ilmu pengetahuan yang mengajarkan manusia mencakup tiga hal pokok, yaitu spasial (ruang), ekologi dan region (wilayah). Dalam hal spasial, geografi mempelajari persebaran gejala baik yang alami maupun manusiawi di muka bumi. Dalam hal ekologi, geografi mempelajari bagaimana manusia harus mampu  beradaptasi dengan lingkungannya. Dalam hal region, geografi mempelajari wilayah sebagai tempat tinggal manusia berdasarkan kesatuan fisiografisnya.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Geografi adalah ilmu yang mempelajari tentang permukaan bumi, iklim, penduduk, flora dan fauna serta hasil yang diperoleh dari bumi.

Erastothenes,
Geografi berasal dari kata geographica, yang berarti penulisan atau penggambaran mengenai bumi.

Ekblaw dan Mulkerne
Geografi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari bumi dan kehidupannya, mempengaruhi pandangan hidup kita, makanan yang kita konsumsi, pakaian yang kita gunakan, rumah yang kita huni dan tempat rekreasi yang kita nikmati.

Erdiberflace
Mengatakan bahwa geografi merupakan ilmu yang mempelajari gejala dan sifat-sifat permukaan bumi dan penduduknya, disusun menurut letaknya dan menerangkan baik tentang terdapatnya gejala-gejala dan sifat-sifat tersebut secara bersama maupun tentang timbal baliknya gejala-gejala dan sifat-sifat itu.

Ferdinand von Richthoven (1833-1905)
Dalam kuliah-kuliahnya pada tahun 1833 telah merumuskan definisi yang pertama kali membatasi pengertian geografi hanya pada permukaan bumi

Frank Debenham (1950)
Mengemukakan bahwa geografi merupakan ilmu yang bertugas mengadakan penafsiran terhadap persebaran fakta, menentukan hubungan kehidupan manusia dengan lingkungan fisik, menjelaskan kekuatan interaksi manusia dan alam.

Halim Khan
Menurut Halim Khan, geografi adalah lingkungan alam dan sosial merupakan wilayah untuk melakukan kegiatan, mendeskripsikan, menganalisis, dan menikmati tingkah laku manusia di bumi yang bermanfaat bagi kelangsungan hidupnya.

Herioso Setiyono (1996)
Geografi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dengan leingkungannya dan merujuk pada pola persebaran horisontal di permukaan bumi.

Immanuel Kant (1724-1821)
Geografi adalah ilmu yang obyek studinya adalah benda-benda langit, hal-hal atau gejala-gejala yang tersebar dalam wilayah di permukaan bumi.

James Fairgrive (1966)
Geografi memiliki nilai edukatif yang dapat mendidik manusia untuk berpikir kritis dan bertanggungjawab terhadap kemajuan-kemajuan dunia. Ia juga menambahkan bahwa sangat penting untuk menjawab pertanyaan "dimana" dari berbagai aspek dan gejala geografi.

John Hanrath
Geografi adalah pengetahuan yang menyelidiki persebaran gejala-gejeala fisik biologis serta antropologis pada ruang di muka bumi, sebab akibat dan gejala menurut ukuran nilai, motif yang hasilnya dapat dibandingkan.

John Mackinder (1861-1947)
Menyatakan bahwa geografi sebagai suatu kajian mengenai kaitan antara manusia dengan alam sekitarnya.

John W. Alexander dan Lay James Gibson (1977)
Geografi adalah suatu disiplin ilmu yang menganalisis variasi keruangan dalam artian kawasan-kawasan (region) dan hubungan antara variabel-variabel keruangan.

Karl Ritter
Mengatakan bahwa geografi adalah ilmu tentang daerah yang berbeda-beda di permukaan bumi dalam keragamannya.

Lewthwite
Geografi adalah studi tentang pola-pola kovariasi kedaerahan

Lukerman James
Geografi adalah studi tentang tempat-tempat di Bumi

Morgan dan Moss
Geografi adalah studi tentang hubungan-hubungan dan pengaruh timbal balik dalam ekosistem.

Martin Houston
Georafi adalah studi tentang efek-efek partial lingkungan alami atas manusia

Maurice Le Lannou (1959)
Mengemukakan bahwa studi geografi adalah kelompok manusia dan organisasinya di muka bumi.

Paul Vidal de la Blace (1915)
Menyatakan bahwa geografi adalah ilmu tentang kualitas negara-negara dimana penentuan kehidupan tergantung pada bagaimana cara manusia mengelola alam ini.

Paul Claval (1976)
Geografi selalu ingin menjelaskan gejala-gejala dari segi hubungan keruangan.

P. Toyne dan Peter Newbi (1972)
Menyatakan bahwa geografi selalu berurusan pertama-tama dengan lokasi, suatu aspek dalam kegiatan perekonomian manusia yang oleh disiplin-disiplin ilmu yang lain cenderung diabaikan atau kurang mendapatkan perhatian.

Preston E. James
Mengemukakan bahwa geografi berkaitan dengan sistem keruangan, ruang yang menempati permuaan bumi. Geografi selalu berkaitan dengan hubungan timbal balik antara manusia dan habitatnya.

Richard Hartshorne
Geografi adalah ilmu yang berkepentingan untuk memberikan deskripsi yang teliti, beraturan, dan rasional tentang sifat variabel permukaan bumi. Dalam pandangan Hartshorne, geografi adalah suatu ilmu yang mampu menjelaskan tentang sifat-sifat variabel permukaan bumi secara teliti, beraturan, dan rasional.

Soetanto
Prof. Soetanto mendefinisikan geografi sebagai geosfer yang merupakan substansi geografi juga dipelajari oleh bidang ilmu lain. Oleh karena itu, geosfer tidak mencirikan ilmu yang disebut geografi. Kajian geografi lebih dicirikan oleh sudut pandang atau cara penjelasannya di dalam mengkaji geosfer tersebut. Dengan demikian, ada beda jenis antara beberapa ilmu lain dengan geografi, meskipun kajiannya sama dan serupa.

Seminar Lokakarya (1988)
Menyarankan bahwa definisi geografi yaitu sebagai suatu ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan dan kewilayahan dalam konteks keruangan.

Strabo
Menurutnya, geografi erat kaitannya dengan faktor lokasi, karakteristik tertentu dan hubungan antar wilayah secara keseluruhan.

Ulman (1954)
Geografi adalah interaksi antarruang.

UNESCO (1956)
Geografi sebagai satu jenis sintesis, satu kajian perhubungan ruang, sains dalam penggunaan tanah.

Vernor E. Finch dan Glen Trewarta (1980)
Geografi adalah deskripsi dan penjelasan yang menganalisa permukaan bumi dan pandangannya tentang hal yang selalu berubah dan dinamis, tidak statis dan tetap.

Willian Hughes
Geografi adalah ilmu, suatu hal yang tidak sama belaka, tetapi dari argumen dan alasan dan akibat.

Yeates (1963)
Mengemukakan bahwa geografi adalah ilmu yang memperhatikan perkembangan rasional dan lokasi dari berbagai sifat beraneka ragam di permukaan bumi.

Whiple
Geografi mulai dari adanya perbedaan bentang alam (terkait dengan variasi wilayah alamiah) berpengaruh pada proses terbentuknya suatu mata pencaharian. Kondisi ini menimbulkan penyebaran mata pencaharian yang secara langsung terkait dengan jumlah penduduk yang bekerja pada tiap mata pencaharian.



Share:

PENGERTIAN GEOGRAFI MATERI SMA KELAS X

Geografi yang secara historis telah mulai dikembangkan oleh para tokoh peletak dasar ilmu sejak masa Yunani dan Romawi Kuno (mulai sekitar abad ketiga dan kedua sebelum Masehi) hanya merupakan sebagian saja dari sekian ilmu yang sama-sama mempelajari bumi.


Sebutan geografi pertama kali dikemukakan oleh Eratosthenes (276-196 SM) sebagai ahli geografi dengan hasil karya utamanya yang berjudul Geographika.

Di Indonesia sebutan geografi baru meluas pemakaiannya sejak tahun 1972, sungguhpun pada tingkat universitas istilah geografi sudah dipakai sejak program studi geografi mulai diadakan pada tahun 1950an.

Tetapi meskipun hanya merupakan sebagian saja dari ilmu-ilmu yang mempelajari bumi, cakupan kajian geografi demikian luas hingga tidaklah mudah merumuskan batas-batas bidang kajiannya.

Bagi banyak orang mungkin akan tampak bahwa apa yang dikerjakan oleh para pakar geografi tidak menunjukkan ide yang bertautan tentang apa yang termuat dalam disiplin geografi dan sering terkesan bahwa kerjanya melintasi serta memasuki batas disiplin ilmu yang lain.

Lingkup kajian geografi memang benar-benar luas dan sifat maupun hakikat kajiannya akan membawa para pakar geografi untuk menyelidiki materi yang demikian aneka macamnya yang pada derajat tertentu telah pula menjadi perhatian kajian disiplin ilmu yang lain.

Mengingat luasnya bidang kajian dan aneka macam fenomena yang dapat menjadi perhatian geografi, ditambah kenyataan kemungkinan adanya pemusatan atau pengkhususan perhatian di kalangan para ahli, dalam praktek geografi tampak keanekaragaman yang juga demikian luas.



Share:

TANAH KAVLING SENGGRENG SUMBERPUCUNG MALANG

TANAH KAVLING Ngebruk senggreng Segera miliki kavling istimewa di area Ds. Senggreng Kec. Sumberpucung. Ukuran lokasi : 6x17, 7x21, 7x22, 7x23 Spek Lokasi - Di Area Pemukiman Penduduk. - Legalitas Jelas dan Aman Dengan Surat AJB Atas nama pembeli - Mangku Jalan semua - Sudah rata + Sudah Di patok - Siap Bangun Rumah. Prospek Lokasi - Dekat dengan Wisata Apung Senggreng - Dekat Indomart - Dekat Ke Pasar Ngebruk - Dekat Ke Stasiun - Dekat ke Sekolah - Dari jalan Raya jarak 2 KM System Pembayaran - Cash Keras Harga Bisa Nego - Cash Lunak Harga Bisa Nego - Kredit dengan DP 50% min 30% Sisa 1 tahun Minat Silahkan Langsung Hubungi wa +62 858-9547-7742 Dan kabari segera untuk cek lokasi.



Share:

PROSES TERJADINYA STUNAMI ATAU GELOMBANG BESAR

Tsunami dapat terjadi jika terjadi gangguan yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air, seperti letusan gunung api, gempa bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi. Namun, 90% tsunami adalah akibat gempa bumi bawah laut. Dalam rekaman sejarah beberapa tsunami diakibatkan oleh gunung meletus, misalnya ketika meletusnya Gunung Krakatau.

Gerakan vertikal pada kerak bumi, dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba, yang mengakibatkan gangguan kesetimbangan air yang berada di atasnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika sampai di pantai menjadi gelombang besar yang mengakibatkan terjadinya tsunami.

Kecepatan gelombang tsunami tergantung pada kedalaman laut di mana gelombang terjadi, dimana kecepatannya bisa mencapai ratusan kilometer per jam. Bila tsunami mencapai pantai, kecepatannya akan menjadi kurang lebih 50 km/jam dan energinya sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya. Di tengah laut tinggi gelombang tsunami hanya beberapa cm hingga beberapa meter, namun saat mencapai pantai tinggi gelombangnya bisa mencapai puluhan meter karena terjadi penumpukan masa air. Saat mencapai pantai tsunami akan merayap masuk daratan jauh dari garis pantai dengan jangkauan mencapai beberapa ratus meter bahkan bisa beberapa kilometer.

Gerakan vertikal ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Gempa bumi juga banyak terjadi di daerah subduksi, dimana lempeng samudera menelusup ke bawah lempeng benua.

Tanah longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga dapat mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami. Gempa yang menyebabkan gerakan tegak lurus lapisan bumi. Akibatnya, dasar laut naik-turun secara tiba-tiba sehingga keseimbangan air laut yang berada di atasnya terganggu. Demikian pula halnya dengan benda kosmis atau meteor yang jatuh dari atas. Jika ukuran meteor atau longsor ini cukup besar, dapat terjadi megatsunami yang tingginya mencapai ratusan meter.

Syarat-syarat terjadinya Tsunami
* Gempa bumi yang berpusat di tengah laut dan dangkal (0 – 30 km)
* Gempa bumi dengan kekuatan sekurang-kurangnya 6,5 Skala Richter
* Gempa bumi dengan pola sesar naik atau sesar turun.
Share:

Terjadinya Pelangi


Pernahkah Anda melihat pelangi? Indah bukan ?

Apakah Anda pernah menyadari bahwa pelangi merupakan fenomena alam yang terjadi dengan proses fisika yang sangat menarik untuk dipelajari. Maka, di sini akan di jelaskan bagaimana paoses terjadinya pelangi itu.

Pelangi merupakan suatu busur spektrum besar yang terjadi karena pembiasan cahaya matahari oleh butir-butir air. Pelangi adalah gejala optik dan meteorologi berupa cahaya beraneka warna saling sejajar yang tampak di langit atau medium lainnya. Di langit, pelangi tampak sebagai busur cahaya dengan ujungnya mengarah pada horizon pada suatu saat hujan ringan. Pelangi juga dapat dilihat di sekitar air terjun yang deras.

Biasanya fenomena ini terjadi ketika udara sangat panas tetapi hujan turun rintik-rintik. Kita dapat melihat jelas fenomena ini, jika kita berdiri membelakangi cahaya matahari. Pelangi dapat pula terbentuk karena udara berkabut atau berembun.

Dalam ilmu fisika, pelangi dapat dijelaskan sebagai sebuah peristiwa pembiasan alam. Pembiasan merupakan proses diuraikannya satu warna tertentu menjadi beberapa warna lainnya (disebut juga spektrum warna), melalui suatu media/ medium tertentu pula.

Pada pelangi, proses berurainya warna terjadi ketika cahaya matahari yang berwarna putih terurai menjadi spektrum warna melalui media air hujan. Adapun spektrum warna yang terjadi terdiri atas warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.

Fenomena pelangi dapat pula terjadi di sekitar air terjun. Percikan air di sekitar air terjun menjadi media untuk menguraikan warna dari cahaya matahari yang bersinar.

Proses Terjadinya Pelangi

Cahaya matahari adalah cahaya polikromatik (terdiri dari banyak warna). Warna putih cahaya matahari sebenarnya adalah gabungan dari berbagai cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda-beda. Mata manusia sanggup mencerap paling tidak tujuh warna yang dikandung cahaya matahari, yang akan terlihat pada pelangi: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.

Panjang gelombang cahaya ini membentuk pita garis-garis paralel, tiap warna bernuansa dengan warna di sebelahnya. Pita ini disebut spektrum. Di dalam spektrum, garis merah selalu berada pada salah satu sisi dan biru serta ungu di sisi lain, dan ini ditentukan oleh perbedaan panjang gelombang.


Pelangi tidak lain adalah busur spektrum besar yang terjadi karena pembiasan cahaya matahari oleh butir-butir air. Ketika cahaya matahari melewati butiran air, ia membias seperti ketika melalui prisma kaca. Jadi di dalam tetesan air, kita sudah mendapatkan warna yang berbeda memanjang dari satu sisi ke sisi tetesan air lainnya. Beberapa dari cahaya berwarna ini kemudian dipantulkan dari sisi yang jauh pada tetesan air, kembali dan keluar lagi dari tetesan air.

Cahaya keluar kembali dari tetesan air ke arah yang berbeda, tergantung pada panjang gelombangnya. Perbedaan panjang gelombang ini, akan memunculkan warna-warna pada pelangi yang tersusun dengan merah di paling atas dan ungu di paling bawah pelangi.

Pelangi hanya dapat dilihat saat hujan bersamaan dengan matahari bersinar, tapi dari sisi yang berlawanan dengan si pengamat. Posisi si pengamat harus berada di antara matahari dan tetesan air dengan matahari dibekalang orang tersebut. Matahari, mata si pengamat dan pusat busur pelangi harus berada dalam satu garis lurus.

Share:

PENGELOLAAN LAHAN GAMBUT UNTUK TANAMAN PANGAN

Pemanfaatan lahan gambut untuk usaha pertanian, didahului dengan tindakan reklamasi, dilakukan dengan pembuatan saluran drainase untuk membuang air berlebih sehingga tercipta lingkungan tanah yang cocok untuk tanaman tertentu. Konsekuensinya adalah kemungkinan terjadinya “over drained” cukup besar terutama bila diarahkan untuk pertanian lahan kering. Over drained inilah merupakan asal mula dari kerusakan lahan dan lingkungan lahan gambut. Penggunaan lahan gambut untuk pertanian lahan kering dapat dikatakan mustahil untuk mencapai pertanian yang "sustainable".
 
Ameliorasi
Upaya untuk mengatasi kendala yang ada untuk usahatani tanaman pangan sudah banyak dilakukan. Untuk mengatasi kemasaman tanah dan status hara yang rendah, dilakukan dengan cara menambahkan bahan ameliorasi dan pupuk. Perlakuan amelioran diharapkan memperbaiki pH tanah, meningkatkan ketersediaan hara, dan meningkatkan kemampuan adsorpsi tanah. Ambak et al (1991) menyatakan bahwa pengapuran dan pemberian unsur mikro meningkatkan produksi jagung (Tabel 5 dan 6). Sedangkan Chua dan Faridah (1991) mengatakan bahwa makin tinggi tingkat input dalam bentuk kapur dan pupuk yang diberikan maka produksi beberapa tanaman hortikultura meningkat sangat tajam. Hal ini membuktikan bahwa tanah gambut sangat memerlukan masukan yang tinggi. Tanpa ada masukan sama sekali maka kita tidak mungkin melakukan usahatani di lahan gambut akan menguntungkan. Disamping dengan kapur, ameliorasi juga dapat dilakukan dengan abu bakaran limbah kayu atau serasah tanaman. Abu serasah dapat meningkatkan pH, KB dan basa-basa tanah sehingga produksi kedelai meningkat (Subiksa et al. 1995). Pemupukan unsur mikro seperti terusi, magnesium sulfat dan seng sulfat masing-masing 15 kg/ha/tahun, mangan sulfat 7 kg/ha, sodium molibdat dan borax masing-masing 0,5 kg/ha/th. Penambahan Cu dan Mo sebagai pelengkap pupuk dapat meningkatkan hasil padi dan mengurangi kehampaan gabah (Subiksa et al, 1995 ; Supriyo et al.1991 dan Ambak et al. 1991).
 
Tata Air Mikro
Masalah asam-asam organik beracun dapat ditanggulangi dengan membuat parit-parit drainase untuk membuang kelebihan air dan mengurangi kadar asam-asam organik. Ismunaji et al. (1991) mengemukakan bahwa semakin pendek interval/jarak antar parit drainase lapang maka hasil padi, jagung, kedelai dan kacang tanah yang diperoleh makin baik (Tabel 7). Jadi untuk usahatani tanaman pangan maka pengelolaan air dengan drainase lapang juga sangat diperlukan, disamping saluran drainase utama. Walaupun kita perlu membuang asam-asam organik, namun kita tidak boleh sampai membuang habis asam-asam tersebut karena asam-asam organik adalah bagian dari tanah gambut yang memiliki muatan (aktif). Tanpa asam organik maka tanah gambut tidak lebih dari sepotong ranting yang kering yang tidak memiliki kemampuan untuk menjerap dan menyediakan unsur hara bagi tanaman.
Mengurangi pengaruh buruk asam-asam organik beracun juga dapat dilakukan dengan penambahan bahan-bahan yang banyak mengandung kation polivalen seperti terak baja, tanah mineral laterit/ Oxisols atau lumpur sungai. Pemberian tanah mineral berkadar besi tinggi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman padi (Salampak, 1999), namun pemberian yang berlebihan > 7,5% erapan maksimum Fe, pertumbuhan tanaman cendrung tertekan. Hal ini diperkuat oleh penelitianRachim (1995) bahwa pemberian Al, Fe dan Cu yang terlalu tinggi, kemasaman tanah akan meningkat dan pertumbuhan tanaman cendrung terganggu.
Share:

KARAKTERISTIK DAN KESESUAIAN LAHAN GAMBUT

Pengembangan lahan gambut sebagai lahan pertanian terdapat berbagai kendala baik fisik, kimia maupun biologis. Lahan gambut merupakan lahan yang sangat fragile dan produktivitasnya sangat rendah. Kendala sifat fisik gambut yang paling utama adalah sifat kering tidak balik (irriversible drying), sehingga gambut tidak dapat berfungsi lagi sebagai koloid organik. Produktivitas lahan gambut yang rendah karena rendahnya kandungan unsur hara makro maupun mikro yang tersedia untuk tanaman, tingkat kemasaman tinggi, serta rendahnya kejenuhan basa. Tingkat marginalitas dan fragilitas lahan gambut sangat ditentukan oleh sifat-sifat gambut yang inherent, baik sifat fisik, kimia maupun biologisnya.

Sifat Fisik Gambut
Karakteristik fisik gambut yang penting dalam pemanfaatannya untuk pertanian meliputi kadar air, berat isi (bulk density, BD), daya menahan beban (bearing capacity), subsiden (penurunan permukaan), dan mengering tidak balik (irriversible drying).

Beberapa sifat fisik yang perlu diperhatikan kaitannya dengan konservasi tanah gambut adalah kadar air serta kapasitas memegang air. Kadar air tanah gambut berkisar antara 100 – 1.300% dari berat keringnya(13 kali bobotnya) menyebabkan BD menjadi rendah. Bulk density terkait dengan tingkat kematangan dan kandungan bahan mineral, dimana semakin matang dan semakin tinggi kandungan bahan mineral maka BD akan semakin besar dan tanah gambut semakin stabil (tidak mudah mengalami kerusakan). Sajarwan (2007) mengemukakan bahwa terjadi penurunan nilai BD dari pinggir sungai ke arah kubah gambut. Nilai BD tanah gambut fibrik di Indonasia kurang dari 0,1 g/cm3(0,06 - 0,15 g/cm3)dan gambut saprik lebih dari 0,2 g/cm3(Driessen dan Rochimah, 1976) dan gambut hemik/saprik antara 0,1 - 0,3 g/cm3.

Reklamasi lahan gambut dengan pembuatan saluran drainase, kadar air akan segera menurun diikuti dengan mengkerutnya volume tanah sehingga permukaan tanah akan mengalami penurunan (subsiden). Subsiden juga disebabkan karena terjadinya proses dekomposisi bahan organik dan melepaskan CO2. Menurut Nugroho et al. (1995) kehilangan gambut akibat pengaruh pengolahan tanah mencapai 2,24 ton/ha/tahun (dari percobaan laboratorium).Tindakan pengelolaan air yang diperlukan untuk menghindari keringnya gambut adalah mempertahankan kedalaman air tanah agar gambut tetap lembab sampai ke permukaan, tapi tidak terlalu basah untuk memberikan aerasi yang baik pada tanaman. Bahaya selanjutnya bagi kelestarian gambut adalah munculnya tanah sulfat masam bila tanah mineral dibawah gambut mengandung pirit atau tanah pasir bila lapisan tanah dibawah gambut adalah pasir kuarsa (Hardjowigeno, 1995).

Sifat Kimia Gambut
Karakteristik kimia lahan gambut sangat ditentukan oleh kandungan , ketebalan,dan jenis mineral pada substratum (di dasar gambut), serta tingkat dekomposisi gambut. Kandungan mineral gambut di Indonesia umumnya kurang dari 5% dan sisanya adalah bahan organik. Fraksi organik terdiri dari senyawa-senyawa humat sekitar 10 hingga 20% dan sebagian besar lainnya adalah senyawa lignin, selulosa, hemiselulosa, lilin, tannin, resin, suberin, protein, dan senyawa lainnya.Komposisi kimia gambut sangat dipengaruhi oleh bahan induk tanamannya, tingkat dekomposisi dan sifat kimia lingkungan aslinya (Tabel 1). Berbeda dengan tanah mineral, bagian yang aktif dari tanah gambut adalah fase cairnya, bukan padatan yang terdiri dari sisa tanaman. Fase cair dari gambut terdiri dari asam-asam organik alifatik maupun aromatik yang memiliki gugus fungsional yang aktif seperti karboksil, hidroksil dan amine. Karakteristik dari asam-asam organik ini akan menentukan sifat kimia dari gambut. Sebagai akibat dari tingginya asam organik, maka reaksi tanah pada umumnya masam. Namun karena karena asam organik adalah asam lemah, maka pH tanah biasanya berkisar antara 4 - 5. pH tanah bisa lebih rendah bila ada lapisan sulfidik yang teroksidasi atau gambut yang terbentuk di atas lapisan tanah yang sangat miskin seperti pasir kuarsa.

Sebagian dari asam organik bersifat racun bagi tanaman yaitu dari golongan senyawa fenolat. Asam-asam fenolat serta turunannya dan juga senyawa benzen karboksilat merupakan "building block" utama dari susunan asam humat dan fulvat. Building block tersebut bergabung melalui berbagai ikatan seperti ikatan H, gaya vander Wall, ikatan C-O dan ikatan C-C (Schnitzer, 1977 dalam Sabiham, 1999). Beberapa turunan asam fenolat yang bayak dijumpai pada bahan organik adalah asam-asam : p-kumarat, p-hidroksi benzoat, klorogenat, vanilat, ferulat, sinapat, gentisat, galat, kafeat, protokatekuat dan syringat (Hartley and Whitehead, 1984 dalam Sabiham, 1999). Salah satu karakteristik senyawa adalah kemampuannya untuk melakukan ikatan dengan kation-kation polivalen membentuk senyawa komplek/khelat (Schnitzer, 1969; Kerndorff and Schnitzer, 1980). Kation Fe, Al, Cu dan Zn adalah kation-kation hara yang mampu untuk membentuk ikatan koordinasi dengan ligan organik.

Kadar asam fenolat pada gambut di Indonesia sangat tinggi. Sabiham (1995) mengemukakan kadar asam p-hydroxy benzoat, asam kumarat dan asam ferulat masing-masing sebesar 32,4 ppm, 34,6 ppm dan 35,2 ppm pada gambut Air Sugihan Sumsel. Sedangkan di di Berengbengkel Kalimantan Tengah masing-masing dari ketiga asam fenolat tersebut adalah 467,5 ppm, 140,73 ppm dan 15,18 ppm. Dengan demikian kadar asam-asam fenolat pada gambut Indonesia jauh di atas ambang batas, terutama gambut Kalimantan. Lebih lanjut dikatakan bahwa pemberian kation pada gambut mampu menurunkan aktifitas asam-asam fenolat hingga 80% dengan perlakuan Cu (Tabel 2 ). Disamping menon-aktifkan asam organik monomer, pemberian kation polivalen yang cukup juga dapat meningkatkan muatan positif gambut sehingga mampu mengadsorpsi anion hara seperti unsur fosfat. Dengan demikian maka penambahan kation polivalen juga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan P.

Tanah gambut mengandung hara yang sangat rendah khususnya P dan K, dan basa-basa. Saragih (1996) melaporkan bahwa K-dd pada gambut Jambi umumnya rendah sampai sedang (0,13-0,70 cmol.kg-1), Samplak (1999) melaporkan K-dd pada gambut Kalimantan tergolong rendah sampai tinggi (0,29-1,13 cmol.kg-1). Kejenuhan basa pada gambut Berengbengkel hanya 4,65% dengan kadar abu 0,94%. Sedangkan gambut Air Sugihan KB-nya hanya 11,88% dan kadar abu 5,10%. Kandungan unsur mikro, khususnya Cu sangat rendah pada kedua tanah gambut tersebut. Senyawa fenolat membentuk komplek dengan Cu, sehingga Cu tidak tersedia bagi tanaman. Defisiensi Cu yang berkombinasi dengan keracunan senyawa fenolat akan menyebabkan tanaman padi steril (Dreissen, 1978). Kandungan hara semakin rendah dengan semakin meningkatnya ketebalan gambut. Hal ini berkaitan dengan kemampuan akar tanaman untuk mencapai tanah mineral dibawahnya untuk menyerap hara dan meredistribusikannya melalui daun yang gugur ke permukaan tanah. Namun pada tanah gambut yang terbentuk di atas tanah mineral yang sangat miskin seperti pasir kuarsa, maka kandungan unsur hara juga sangat rendah, walaupun gambutnya tipis. Penelitian ke arah pengurangan aktivitas asam fenolat dan peningkatan ketersediaan hara sudah banyak dilakukan. Pembentukan asam-asam fenolat dan gas metan dapat ditekan dengan penambahan lumpur laut, payau maupun sungai (Sabiham, 1993). Penggunaan kation polivalen seperti Al, Fe dan Cu dapat menurunkan reaktivitas asam-asam fenolat, pH tanah, KTK dan mobilitas hara P serta meningkatkan ketersediaan K, Ca dan Mg (Rachim, 1995; Sulaeman et al.1998). Meningkatnya ikatan-ikatan P pada tanah gambut juga diperoleh dengan pemberian bahan amelioran tanah mineral berkadar besi tinggi (Salampak, 1999) asehingga kehilangan P melalui pencucian dapat dikurangi.

Kesesuaian Lahan

Hardjowigeno(1995) mengemukakan bahwa disamping persyaratan kualitas/ karakteristik lahan untuk tanaman tertentu seperti yang diuraikan oleh Tim Puslittanak (1994), ada dua faktor penting yang membatasi tipe penggunaan lahan yaitu ketebalan gambut dan lapisan sulfidik (pirit) serta jenis bahan mineral yang ada dibawah gambut, yaitu liat marine atau pasir kuarsa. Berdasarkan ketentuan seperti Tabel 3 dan 4, maka lahan gambut dangkal dengan kedalaman pirit > 50 cm tergolong sesuai untuk tanaman padi maupun palawija dengan syarat tetap memperhatikan persyaratan kualitas/karakteristik lahan lainnya yang diperlukan oleh tanaman tersebut. Sedangkan pada lahan gambut dalam Widjaja Adhi (1995) menyarankan untuk tanaman tanaman perkebunan, dengan catatan bukan pada bagian dome dari gambut tersebut. Kawasan disarankan untuk kawasan tampung hujan, walaupun ketebalannya > 2m. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kondisi hidrologis kawasan tersebut.
Share:

Pembagian Iklim Dunia

Pembagian Iklim Dunia

Pembagian Iklim
Tentunya Anda masih ingat apa yang dimaksud dengan iklim. Coba sebutkan kembali pengertian iklim! Iklim di suatu daerah berkaitan erat dengan letak garis lintang dan ketinggiannya di muka bumi. Berdasarkan letak garis lintang dan ketinggian tersebut, maka iklim dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu iklim matahari dan iklim fisis.
a.
Iklim Matahari
Iklim matahari didasarkan pada banyak sedikitnya sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi. Pembagiannya dapat Anda perhatikan pada gambar 24 berikut.
Gambar 22: Pembagian daerah iklim matahari
Untuk lebih memperdalam pemahaman tentang pembagian iklim matahari tersebut di atas dapat Anda pelajari pada uraian berikut.
1)
Iklim Tropis
Iklim tropis terletak antara 0° – 231/2° LU/LS dan hampir 40 % dari permukaan bumi.
Ciri-ciri iklim tropis adalah sebagai berikut: Suhu udara rata-rata tinggi, karena matahari selalu vertikal. Umumnya suhu udara antara 20- 23°C. Bahkan di beberapa tempat rata-rata suhu tahunannya mencapai 30°C.

  • Amplitudo suhu rata-rata tahunan kecil. Di kwatulistiwa antara 1 – 5°C, sedangkan ampitudo hariannya lebih besar.
  • Tekanan udaranya rendah dan perubahannya secara perlahan dan beraturan.
  • Hujan banyak dan lebih banyak dari daerah-daerah lain di dunia.
2)
Iklim Sub Tropis
Iklim sub tropis terletak antara 231/2° – 40°LU/LS. Daerah ini merupakan peralihan antara iklim tropis dan iklim sedang.
Ciri-ciri iklim sub tropis adalah sebagai berikut:
  • Batas yang tegas tidak dapat ditentukan dan merupakan daerah peralihan dari daerah iklim tropis ke iklim sedang.
  • Terdapat empat musim, yaitu musim panas, dingin, gugur, dan semi. Tetapi musim dingin pada iklim ini tidak terlalu dingin. Begitu pula dengan musim panas tidak terlalu panas.
  • Suhu sepanjang tahun menyenangkan. Maksudnya tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin.
  • Daerah sub tropis yang musim hujannya jatuh pada musim dingin dan musim panasnya kering disebut daerah iklim Mediterania, dan jika hujan jatuh pada musim panas dan musim dinginnya kering disebut daerah iklim Tiongkok.
3)
Iklim Sedang
Iklim sedang terletak antara 40°- 661/2° LU/LS. Ciri-ciri iklim sedang adalah sebagai berikut:
  • Banyak terdapat gerakan-gerakan udara siklonal, tekanan udara yang sering berubah-ubah, arah angin yang bertiup berubah-ubah tidak menentu, dan sering terjadi badai secara tiba-tiba.
  • Amplitudo suhu tahunan lebih besar dan amplitudo suhu harian lebih kecil dibandingkan dengan yang terdapat pada daerah iklim tropis.
4)
Iklim Dingin (Kutub)
Iklim dingin terdapat di daerah kutub. Oleh sebab itu iklim ini disebut pula sebagai iklim kutub. Iklim dingin dapat dibagi dua, yaitu iklim tundra dan iklim es.
Ciri-ciri iklim tundra adalah sebagai berikut:
  • Musim dingin berlangsung lama
  • Musim panas yang sejuk berlangsung singkat.
  • Udaranya kering.
  • Tanahnya selalu membeku sepanjang tahun.
  • Di musim dingin tanah ditutupi es dan salju.
  • Di musim panas banyak terbentuk rawa yang luas akibat mencairnya es di permukaan tanah.
  • Vegetasinya jenis lumut-lumutan dan semak-semak.
  • Wilayahnya meliputi: Amerika utara, pulau-pulau di utara Kanada, pantai selatan Greenland, dan pantai utara Siberia.
Sedangkan ciri-ciri iklim es atau iklim kutub adalah sebagai berikut:
• Suhu terus-menerus rendah sekali sehingga terdapat salju abadi.
• Wilayahnya meliputi: kutub utara, yaitu Greenland (tanah hijau) dan Antartika di kutub selatan.
b.
Iklim Fisis
Apa yang dimaksud dengan iklim fisis. Iklim fisis adalah menurut keadaan atau fakta sesungguhnya di suatu wilayah muka bumi sebagai hasil pengaruh lingkungan alam yang terdapat di wilayah tersebut. Misalnya, pengaruh lautan, daratan yang luas, relief muka bumi, angin, dan curah hujan.
Iklim fisis dapat dibedakan menjadi iklim laut, iklim darat, iklim dataran tinggi, iklim gunung/pegunungan dan iklim musim (muson).
1) Iklim laut (Maritim)
Iklim laut berada di daerah (1) tropis dan sub tropis; dan (2) daerah sedang. Keadaan iklim di kedua daerah tersebut sangat berbeda.
Ciri iklim laut di daerah tropis dan sub tropis sampai garis lintang 40°, adalah sebagai berikut:
a) Suhu rata-rata tahunan rendah;
b) Amplitudo suhu harian rendah/kecil;
c) Banyak awan, dan
d) Sering hujan lebat disertai badai.
Ciri-ciri iklim laut di daerah sedang, yaitu sebagai berikut:
a) Amplituda suhu harian dan tahunan kecil;
b) Banyak awan;
c) Banyak hujan di musim dingin dan umumnya hujan rintik-rintik;
d) Pergantian antara musim panas dan dingin terjadi tidak mendadak dan tiba-tiba.
2)
Iklim Darat (Kontinen)
Iklim darat dibedakan di daerah tropis dan sub tropis, dan di daerah sedang. Ciri-ciri iklim darat di daerah tropis dan sub tropis sampai lintang 40(, yaitu sebagai berikut:
a) Amplitudo suhu harian sangat besar sedang tahunannya kecil; dan
b) Curah hujan sedikit dengan waktu hujan sebentar disertai taufan.
Ciri iklim darat di daerah sedang, yaitu sebagai berikut:
a) Amplitudo suhu tahunan besar;
b) Suhu rata-rata pada musim panas cukup tinggi dan pada musim dingin rendah; dan
c) Curah hujan sangat sedikit dan jatuh pada musim panas.
3)
Iklim Dataran Tinggi
Iklim ini terdapat di dataran tinggi dengan ciri-ciri, adalah sebagai berikut:
a) Amplitudo suhu harian dan tahunan besar;
b) Udara kering,
c) Lengas (kelembaban udara) nisbi sangat rendah; dan
d) Jarang turun hujan.
4)
Iklim Gunung
Iklim gunung terdapat di dataran tinggi, seperti di Tibet dan Dekan. Ciri-cirinya, yaitu sebagai berikut:
a) Amplitudo suhu lebih kecil dibandingkan iklim dataran tinggi;
b) Terdapat di daerah sedang;
c) Amplitudo suhu harian dan tahunan kecil;
d) Hujan banyak jatuh di lereng bagian depan dan sedikit di daerah bayangan hujan;
e) Kadang banyak turun salju.
5)
Iklim Musim (Muson)
Iklim ini terdapat di daerah yang dilalui iklim musim yang berganti setiap setengah tahun. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
a) Setengah tahun bertiup angin laut yang basah dan menimbulkan hujan;
b) Setengah tahun berikutnya bertiup angin barat yang kering dan akan menimbulkan musim kemarau.
Selain pembagian iklim menurut letak garis lintang dan ketinggian tempat, berikut ini akan diuraikan tentang pembagian iklim menurut beberapa para ahli antara lain:
a.
Pembagian Iklim Menurut Dr. Wladimir Koppen
Pada tahun 1918 Dr Wladimir Koppen (ahli ilmu iklim dari Jerman) membuat klasifikasi iklim seluruh dunia berdasarkan suhu dan kelembaban udara. Kedua unsur iklim tersebut sangat besar pengaruhnya terhadap permukaan bumi dan kehidupan di atasnya. Berdasarkan ketentuan itu Koppen membagi iklim dalam lima daerah iklim pokok. Masing-masing daerah iklim diberi simbol A, B, C, D, dan E.
  1. Iklim A atau iklim tropis. Cirinya adalah sebagai berikut:
    • suhu rata-rata bulanan tidak kurang dari 18°C,
    • suhu rata-rata tahunan 20°C-25°C,
    • curah hujan rata-rata lebih dari 70 cm/tahun, dan
    • tumbuhan yang tumbuh beraneka ragam.
  2. Iklim B atau iklim gurun tropis atau iklim kering, dengan ciri sebagai berikut:
    • Terdapat di daerah gurun dan daerah semiarid (steppa);
    • Curah hujan terendah kurang dari 25,4/tahun, dan penguapan besar;
  3. Iklim C atau iklim sedang. Ciri-cirinya adalah suhu rata-rata bulan terdingin antara 18° sampai -3°C.
  4. Iklim D atau iklim salju atau microthermal. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut: Rata-rata bulan terpanas lebih dari 10°C, sedangkan suhu rata-rata bulan terdingin kurang dari – 3°C.
  5. Iklim E atau iklim kutub . Cirinya yaitu terdapat di daerah Artik dan Antartika, suhu tidak pernah lebih dari 10°C, sedangkan suhu rata-rata bulan terdingin kurang dari – 3°C.
Dari kelima daerah iklim tersebut sebagai variasinya diperinci lagi menjadi beberapa macam iklim, yaitu:
  1. Daerah iklim A, terbagi menjadi empat macam iklim, yaitu sebagai berikut:
    (1) Af = Iklim panas hujan tropis.
    (2) As = Iklim savana dengan musim panas kering.
    (3) Aw = Iklim savana dengan musim dingin kering.
    (4) Am = Iklim antaranya, musim kering hanya sebentar.
  2. Daerah iklim B, terbagi menjadi dua macam iklim, yaitu:
    (1) Bs = Iklim steppa, merupakan peralihan dari iklim gurun (BW) dan iklim lembab dari iklim A, C, dan D.
    (2) BW = Iklim gurun.
  3. Daerah iklim C, terbagi menjadi tiga macam iklim, yaitu:
    (1) Cs = Iklim sedang (laut) dengan musim panas yang kering atau iklim lembab agak panas kering.
    (2) Cw = Iklim sedang (laut) dengan musim dingin yang kering atau iklim lembab dan sejuk.
    (3) Cf = Iklim sedang (darat) dengan hujan pada semua bulan.
  4. Daerah iklim D, terbagi dua macam iklim, yaitu:
    (1) Dw = Iklim sedang (darat) dengan musim dingin yang kering.
    (2) Df = Iklim sedang (darat) dengan musim dingin yang lembab.
  5. Daerah iklim E, terbagi menjadi 2 macam iklim, yaitu:
    (1) ET = Iklim tundra, temperatur bulan terpanas antara 0( sampai 10(C.
    (2) Ef = Iklim salju , iklim dimana terdapat es abadi.
Perlu Anda ketahui bahwa menurut Koppen di Indonesia terdapat tipe-tipe iklim Af, Aw, Am, C, dan D.
Af dan Am
=
terdapat di daerah Indonesia bagian barat, tengah, dan utara, seperti Jawa Barat, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi Utara.
Aw
=
terdapat di Indonesia yang letaknya dekat dengan benua Australia seperti daerah-daerah di Nusa Tenggara, Kepulauan Aru, dan Irian Jaya pantai selatan.
C
=
terdapat di hutan-hutan daerah pegunungan.
D
=
terdapat di pegunungan salju Irian Jaya.
b.
Pembagian Iklim Menurut F. Junghuhn
Berdasarkan hasil penyelidikan Junghuhn pembagian daerah iklim di Jawa ditetapkan secara vertikal sesuai dengan kehidupan tumbuh-tumbuhan. Perhatikan pada gambar di bawah ini.
Gambar 25: Pembagian iklim menurut Junghuhn
Menurut Junghuhn pembagian daerah iklim dapat dibedakan sebagai berikut
  1. Daerah panas/tropis
    Tinggi tempat antara 0 – 600 m dari permukaan laut. Suhu 26,3° – 22°C. Tanamannya seperti padi, jagung, kopi, tembakau, tebu, karet, kelapa, dan cokelat.
  2. Daerah sedang
    Tinggi tempat 600 – 1500 m dari permukaan laut. Suhu 22° -17,1°C. Tanamannya seperti padi, tembakau, teh, kopi, cokelat, kina, dan sayur-sayuran.
  3. Daerah sejuk
    Tinggi tempat 1500 – 2500 m dari permukaan laut. Suhu 17,1° – 11,1°C. Tanamannya seperti teh, kopi, kina, dan sayur-sayuran.
  4. Daerah dingin
    Tinggi tempat lebih dari 2500 m dari permukaan laut. Suhu 11,1° – 6,2°C. Tanamannya tidak ada tanaman budidaya.
c.
Pembagian Iklim Menurut Mohr
Mohr membagi iklim berdasarkan curah hujan yang sampai ke permukaan bumi, yaitu menjadi tiga golongan sebagai berikut:
  1. Bulan kering (BK), yaitu jumlah rata-rata curah hujan dalam bulan tersebut kurang dari 60 mm.
  2. Bulan sedang (BS, yaitu jumlah rata-rata curah hujan dalam bulan tersebut berkisar antara 60 – 90 mm.
  3. Bulan basah (BB), yaitu jumlah rata-rata curah hujan dalam bulan tersebut 100 mm ke atas.
d.
  1. Bulan kering (BK), yaitu curah hujan yang sampai ke permukaan bumi kurang dari 60 mm.
  2. Bulan basah (BB), yaitu curah hujan yang sampai kepermukaan bumi lebih dari 60 mm.
Share:

Wikipedia

Search results