TANAH KAVLING Ngebruk senggreng
Segera miliki kavling istimewa di area Ds. Senggreng Kec. Sumberpucung.
Ukuran lokasi :
6x17, 7x21, 7x22, 7x23
Spek Lokasi
- Di Area Pemukiman Penduduk.
- Legalitas Jelas dan Aman Dengan Surat AJB Atas nama pembeli
- Mangku Jalan semua
- Sudah rata + Sudah Di patok
- Siap Bangun Rumah.
Prospek Lokasi
- Dekat dengan Wisata Apung Senggreng
- Dekat Indomart
- Dekat Ke Pasar Ngebruk
- Dekat Ke Stasiun
- Dekat ke Sekolah
- Dari jalan Raya jarak 2 KM
System Pembayaran
- Cash Keras Harga Bisa Nego
- Cash Lunak Harga Bisa Nego
- Kredit dengan DP 50% min 30% Sisa 1 tahun
Minat Silahkan Langsung Hubungi wa +62 858-9547-7742
Dan kabari segera untuk cek lokasi.
Showing posts with label Kisah Wali Songo. Show all posts
Showing posts with label Kisah Wali Songo. Show all posts
Asal Usul Sunan Giri
Cerita islami kali ini menceritakan salah satu anggota wali songo, yaitu cerita asal usul sunan giri
yang memiliki nama asli raden paku, oleh ibu angkatnya diberi nama joko
samudro karena ditemukan di laut, kemudian oleh gurunya yaitu sunan
ampel, beliau diberi nama Syekh Maulana Ishaq. Untuk lebih jelasnya
silahkan simak cerita sunan giri di bawah ini
Asal Usul Sunan Giri
Asal usul sunan giri
– Akhirnya, sang raja mengumumkan sebuah sayembara. “Barang siapa yang
berhasil mengobati sang dewi, jika seorang laki-laki maka ia akan
dijodohkan dengannya. Jika perempuan maka ia akan dijadikan saudara
angkat sang dewi” katanya
Tadi, tidak
ada seorang pun yang sanggup memenangkan sayembara itu. di tengah
keputusasaan, sang prabu mengutus bajul sengara mencari pertapa sakti.
Dalam pencarian itu, sang patih sempat bertemu dengan seorang pertapa
sakti yang bernama resi kandayana. Dan, resi inilah yang memberi
informasi tentang syekh maulana ishaq. Rupanya, maulana ishaq mau
mengobati dewi sekardadu, jika prabu menak sembuyu dan keluarganya
bersedia masuk islam.
Setelah
dewi sekardadu sembuh, syarat maulana ishaq pun dipenuhi. Seluruh
keluarga raja memeluk agama islam. Setelah itu dewi, sekardadu
dinikahkan dengan maulana ishaq. Sayangnya, prabu menak sembuyu tidak
menjadi seorang muslim dengan sepenuh hati. ia malah iri menyaksikan
maulana ishaq berhasil meng Islam kan sebagian besar rakyatnya. Lalu ia
berusaha menghalangi syiar islam, bahkan mengutus orang kepercayaannya
untuk membunuh maulana ishaq.
Pada
akhirnya, maulana ishaq meninggalkan blambangan dan kembali ke pasai,
aceh, karena merasa jiwanya terganggu. Sebelum berangkat ia hanya
berpesan kepada dewi sekardadu yang sedang mengandung tujuh bulan agar
anaknya diberi nama raden paku. Setelah bayi laki-laki itu lahir, prabu
menak sembuyu melampiskan kebenciannya kepada anak maulana ishaq dengan
membuatnya ke lau dalam sebuah peti.
Menurut
buku kisah teladan wali songo, peti tersebut ditemukan oleh awak kapal
dagang dari gresik yang sedan menuju pulau bali. Bayi tersebut kemudian
diserahkan kepada nyai ageng pinatih, pemiliki kapal tersebut. Maka,
bayi yang kelak dikenal sebagia Sunan giri dijadikan anak angkat nyai ageng pinatih, seorang saudagar kaya raya, dari gresik.
Sejak
saat itu, bayi laki laki yang kemudian dinamai Joko Samudro itu diasuh
dan dibesarkan oleh Nyi Ageng pinatih. Joko samudro yang menginjak usia
tujuh tahun dititipkan di padepokan Sunan Ampel
di surabaya untuk belajar agama islam. Lalu, anak itu diberi gelar oleh
Sunan Ampel dengan sebutan “Maulana ainul yaqin” karena kecerdasannya.
Setelah
bertahun tahun belajar agama di padepokan, joko samudro dan putra sunan
ampel, raden maulana makhdum ibrahim (sunan bonang), diutus sunan ampel
untuk menimba ilmu di makka. Tapi, mereka harus singgah terlebih dahulu
untuk menemui syekh maulana ishaq, yang sesungguhnya ayah dari joko
samudro atau raden paku.
Ternyata,
Sunan Ampel ingin mempertemukan raden paku dengan ayah kandungnya.
Akhirnya, ayah dan anak itu pun bertemu. Setelah belajar selama tujuh
tahun di pasai kepada syekh maulana ishaq, mereka kembali ke jawa. Pada
saat itulah, maulana ishaq membekali raden paku dengan segenggam tanah,
lalu memintanya mendirikan pesantren di sebuah tempat yang warna dan bau
tanahanya sama dengan yang diberikannya. Itulah sepenggal kisah asal usul sunan giri, semoga dapat menambah wawasan kamu mengenai asal usul para anggota wali songo.
Kisah Asal Usul Sunan Bonang
Cerita sunan bonang,
Suatu hari disebutkan bahwa raden makdum ibrahim dan raden paku sewaktu
masih remaja meneruskan pelajaran agama islam hingga ke tanah seberang,
yaitu negeri pasai, aceh. Keduanya menambah pengetahuan kepada ayah
kandung sunan giri
yang bernama Syekh maulana ishaq. Mereka juga belajar kepada para ulama
besar yang menetap di negeri pasai, seperti para ulama tasawuf yang
berasal dari baghdad, mesir, arab, persia atau iran.
Raden
makdum ibrahim dan raden paku pulang ke jawa setelah belajar di negeri
pasai. Raden paku kembali kembali ke gresik dengan mendirikan pesantren
di giri sehingga terkenal sebagai sunan giri. Sementara itu, raden
makdum ibrahim diperintahkan sunan ampel untuk berdakwah di Tuban. Dalam
berdakwah, ia sering mempergunakan kesenian tradisional untuk menarik
simpati rakyat, yaitu berupa seperangkat gamelan yang disebut bonang”
Bonang
adalah sejenis kuningan yang bagian tengahnya lebih ditonjolkan.
APabila benjolan itu dipukul dengan kayu lunak, maka timbul suara yang
merdu di telinga penduduk setempat. Terlebih lagi bila raden makdm
ibrahim sendiri yang membunyikan alat musik tersebut. Ia adalah seorang
wali yang mempunyai cita rasa seni yang tinggi. Jika ia membunyikan alat
itu, maka pengaruhnya sangat hebat bagi para pendengarnya. DAn, tidak
sedikit dari mereka yang ingin belajar membunyikan bonang, sekaligus
melagukan berbagai tembang ciptaan beliau.
Begitulah
siasat raden makdum ibrahim yang dijalankan penuh kesabaran. Setelah
rakyat berhasil direbut simpatinya, ia tinggal menyiapkan ajaran islam
dalam berbagi tembang kepada mereka. Dan, seluruh tembang yang
diajarkannya adalah tembang yang berisikan ajaran agama islam. Maka,
tanpa terasa penduduk sudah mempelajari gama islam dengan senan hati dan
bukan dengan paksaan.
Tembang Ciptaaan Sunan Bonan Tombo Ati
Cerita sunan bonang,
Di antara tembang raden makdum ibrahim yang terkenal, yaitu “Tamba ati
iku lima ing wernane. kaping pisan maca qur an angen-angen sak maknane.
Kaping pindho shalat wengi lakonono. Kaping telu wong kang saleh
kancanana. kaping papat kudu wetheng ingkang luwe. Kaping lima dzikir
wengi ingkang suwe. Sopo wonge bisa ngelakoni. Insya Allah gusti Allah
nyembadani”
Adapun arti tembang
tersebut adalah obat sakit jiwa (hati) itu ada lima jenisnya. Pertama,
membaca al qur an direnungkan artinya. kedua, mengerjakan shalat malam
(Sunnah Tahajjud). Ketiga, sering bersahabat dengan orang shalih
(berilmu). Keempat, harus sering berprihatin (berpuasa). Kelima, sering
berzikir mengingat Allah di waktu malam. Siapa saja mampu
mengerjakannya. InsyaAllah dia akan mengambulkan.
Sekarang,
lagu ini sering dilantunkan para santri ketike hendak shalat jamaah
baik di pedesaan maupun di pesantren. Sebenarnya, para murid raden
makdum ibhramim sangat banyak, baik itu mereka yang berada di Tuban,
pulau bawean, jepara, maupun madura. Sebab, ia sering mempergunakan
bonang dalam berdakwah, maka masyarakat memberinya gelar sunan bonang.
Tembang ciptaan Sunan Bonang
semakin populer lagi sejak dinyanyikan oleh salah satu penyanyi religi
dari Indonesia, yaitu Opick, jadi tidak hanya para santri saja yang tahu
lagu itu, tapi juga masyarakat luas.
Pada
masa hidupnya, Sunan bonang termasuk pendukung kerajaan islam demak dan
ikut membantu mendirikan masjid agung demak di jawa tengah. Saat itu,
ia lebih dikenal sebagai pemimpin bala tentara demak oleh masyarakat
setempat. Ia juga memutuskan pengangkatan Sunan Ngudung, ayah sunan
kudus, sebagai panglima tentang islam demak. Ketika sunan ngudung gugur,
sunan bonang pula yang mengangkat sunan kudus sebagai panglima perang.
Bahkan, ia pun memberikan nasihat yang berharga pada sunan kudus tentang
strategi perang menghadapi majapahit.
Sunan
bonang sangat memperhatikan ajaran islam, sehingga ia sering
menunjukkan tata cara hidup yang baik agar orang islam menjalani
kehidupan dengan kesungguhan dan kecintaan kepada Allah SWT. Para
penganut islam haruskan menjalankan, seperti shalat, berpuasa, dan
membayar zakat. Selain itu, mereka juga harus menjauhi tiga musuk
utama, yaitu dunia, hawa nafsu, dan setan. Untuk menghindari ketiga
musuh itu, mereka dianjurkan untuk lebih banyak berdiam diri, bersikap
renda hatih, dan tidak mudah putus asa, dan bersyukur atas nikmat Allah
SWT. Sebaliknya, mereka harus menjauhi sikap dengki, sombong, serakah,
serta gila pangkat dan kehormatan.
Itulah penjelasan asal usul sunan bonang dalam cerita sunan bonang, semoga dapat menambah ilmu pengetahuan kamu tentang para anggota wali songo.
Cerita Sunan Drajat tentang Kisah asal usul dan dakwahnya di pesisir utara jawa timur
Kisah asal usul Sunan Drajat
Sunan
ampel menikah dengan Nyi Ageng Manila atau Dewi Candrawati, dari
pernikahan tersebut lahirkan seorang putra bernama Raden Qasim. Raden
Qasim merupakan adik dari Raden Makhdum yang juga dikenal sebagai Sunan
Bonang. Raden Qasim menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja di kampung
hamalamannya yaitu di Ampeldenta, surabaya. Pada suatu ketika Sunan
ampel memerintahkan agar raden makhdum atau kakak dari Raden Qasim untuk
berangkat ke daerah tuban untuk mengembangkan dakwah di sana. Kemudian
setelah raden menjadi dewasa, ia ingin mengikuti jejak dari kakaknya
untuk menyebarkan agama islam.
Kisah sunan drajat berdakwah di pesisir utara jawa timur
Suatu ketika sunan ampel atau ayah dari Raden Qasim memanggil Raden Qasim dan berkata kepadanya “wahai anakku qasim, engkau kini telah dewasa. ilmu agama yang kamu miliki pun sudah cukup untuk dijadikan berkal berdakwah. ayah sudah menugaskan kakakmu, raden makhdum untuk berangkat ke Tuban. Ayah mendengar kakakmu sudah berhasil mengembangkan islam di sana. Ayah juga berharap kamu membantu para ulama untuk berdakwah di jawa”Mendengar perkataaan ayahnya tersebut, Raden Qasim tidak segera menjawabnya. Ia sedang memikikirkan sesuatu. sebenarnya ia sudah lama ingin mengikuti jejak kakaknya. Ia ingin menyusul kakaknya untuk membantu berdakwah di Tuban. Kemudia Raden Qasim berkata
“saya ingin membantu kakak makhdum di Tuban, ayahanda,”
Mendengar jawaban anaknya tersebut, sunan ampel tersebut kemudian berkata kepada anaknya, “mengapa kamu harus membantu kakakmu di sana? pada ayah ingin memerintahkanmu ke arah timur. Di tempat itu, islam belum menyentuhnya sama sekali”
Ke timur? jawab Raden Qasim
iya, apakah kamu keberatan, anakku?
Saya rasa berat akalu ke timur, ayahanda, sebab ajaran hidu masih kental sekali di sana”
“benar, ajaran hindu memang masih kental sekali di sana, lalu menurutmu, kamu cocok berdakwah di mana?
“kalau diizinkan, saya ingin berdakwah di daerah surabaya atau tuban, ayahanda?
“kalau begitu”, sunan ampel menghentikan kata-katanya untuk berpikir sejenak, lalu melanjutkan kata-katanya,
“bagaimana kalu kamu berdakwah di daerah pesisir utara antara gresik dan tuban?”
Raden Qasim pun setuju dengan usual ayahnya. Kemudian pada hari yang telah ditentukan, ia bersama para santri sunan ampel berlayar menggunakan perahu. Dari kalimas, perahu itu keluar berbelok ke kiri menuju gresik. Ketika sampai di gresik, ia singgah terlebih dahulu di giri kedaton untuk bersilahturahmi kepada sunan giri.
Berkatalah Raden Qasim kepada sunan giri “saya ditugaskan oleh ayahanda untuk pergi ke daerah pesisir utara agar mengikuti jejak kakak makhdum.
Sunan giri pun mendengar kabar itu dengan senang hati. ia sangat mendukung niat baik putrai sunan ampel tersebut. Karena itu, sunan giri memberi nasihat yang diperlukan oleh Raden Qasim.
“Nanti, kamu akan berhadapan dengan masyarakat yang bekerja sebagai nelayan sehari-hari.. Di sana, agama hindu dan budha masih kental. Karena itu, kamu harus bisa membaur dengan mereka. Jangan sekali kali kamu menyinggung hati mereka. Kalau kamu menyinggung hati mereka, maka dakwah yang kamu lakukan tentu sulit diterima oleh mereka” kata sunan giri berkata pada Raden Qasim.
Sunan giri memberikan banyak nasihat kepada Raden Qasim tentang berbagai hal yang diperlukan untuk persiapan sebelum terjun langsung menyebar agama islam kepada masyarakat. Setelah itu, Raden Qasim pun berpamitan. Ia berangkat menggunakan peralu layar.
Cerita sunan drajat, Setelah beberapa waktu perahu Raden Qasim berlayar, tiba tiba angin dan badai menyerang perahu Raden Qasim.
Perahu yang ditumpangi oleh Raden Qasim pecah, kemudia ia dan para santri yang menemaninya berenang menuju ke tepian. Alhamdulillah mereka bisa berenang dengan selamat sampai di sebuah desa. Yang pada akhirnya nanti, desa tersebut dinamai desa ciciran yang berarti perahu yang terdampak. Selanjutnya nama desa tersebut disempurnakan menjadi paciran, yaitu sebuah kota yang terletan di utara jawa timur.
Setelah beristirahat beberapa saat, dan berkenalan dengan para penduduk setempat, raden qasim mendapat informasi bahwa Tuban masih berada di sebelah barat desa paciran. mereka membutuhkan waktu setengah hari untuk menempuhnya dengan perahu. Akhirnya ia memutuskan jika mereka tidak meneruskan perjalanan ke Tuban, tetapi berjalan ke arah timur. Llau mereka singgah di sebuah desa yang bernama Jelag. Di tempat itu, ia diterima dengan baik oleh masyarakat setempat.
Sebelum memberikan ajaran islam yang sebenarnya, Raden Qasim melakukan pendekatan kepada nelayan dengan memberikan ilmu pengetahuan. Ia juga menjelaskan beberapa jenis ikan yang berbahaya jika dikonsumsi. umumnya para nelayan sering mendapatkannya di laut, mereka senang menangkapnya, namun mereka tidak suka memakannya.
Raden Qasim yang merasa yang melihat ikan itu mati sia-sia. Maka, ia memberi keterangan bahwa daging ikan talang mengandung racun. Jika dimakan akan menimbulkan penyakit kulit, misalnya kadas dan sejenisnya. Karena itu, jika para nelayan mendapati ikan talang, sebaiknya ikan tersebut dikembalikan saja ke laut agar terus hidup dari pada mati ketik sampai di pantai.
Raden Qasim juga menerangkan bahwa ikan buntek mengandung racun. Seseorang bisa mati jika memakannya. Begitu juga ikan mmi yang berbentuk seperti topi prajurit. Tidak apa apa jika hanya telurnya yang dimakan. Namun jika ikan itu dimakan sampai ususnya, maka akan menimbulkan keracunan bagi yang mengkonsumsinya,
“Ikan talang itu termasuk ikan yang cerdik. Jangan kalian tangkap dan bunuuh. Sebab, ada seseorang yang pernah terapung di laut, lalu ia selamat berkat pertolongan ikan talang. Caranya, ikan talah menaruh tubuh orang tersebut di atas kepalanya, lalu membawanya berenang sampai ke tepian. Kalian adalah pelaut, bisa saja perahu kalian karam di sana. jika ada ikan talang, maka kalian dapat ditolong,” kata Raden Qasim.
Akhirnya, penduduk setempat menganggap Raden Qasim padai dalam bidang kelautan, sehingga mereka pun segan. Nasihatnya selalu dituruti dan dipatuhi oleh mereka.
Dalam menyiarkan agama islam, Raden Qasim tidak langsung menerapkan syariat. ia menyadari jika orang awa, diberi syariat. maka mereka tentu akan tidak sudi mendekati islam. Namun, hal yang pertama kali ditekankan adalah pembinaan akhlak. Di desa jelag, satu persatu orang datangn dan berguru kepadanya. Sebab, ilmu yang diajarkannya adalah filsafat jawa yang dipadu dengan islam, yaitu tentang pentingnya berakhlak baik. Raden Qasim juga menciptakan tembang untuk sarana membantu budi pekerti luhur.
Ajaran Sunan Ampel – Jasa Sunan Ampel tentang Perbedaan Pendapat Islamisasi adat istiadat
Ajaran Sunan Ampel
Cerita islami
wali songo mengenai sunan ampel ini akan membahas mengenai ajaran sunan
ampel, jasa, dan perbedaan pendapat dengan beberapa sunan lainna
tentang islamisasi adat istiadat jawa. Selamat membaca.
Murid dan Keturunan Sunan Ampel
Adapun perkawinan sunan ampel
dengan nyai karimah, putri ki wiryosaroyo, ia dikarunia dua orang
putri, yaitu dewi murtasiyah yang diperistri Sunan Giri dan dewa
mursimah yang diperistri sunan kalijaga. Ia biasa berbeda pendapat
dengan putrai dan murid-mantunya yang juga para wali. Tetapi, perbedaan
pendapat itu disikapinya dengan arif dan bijaksana.
Perbedaan pendapat dalam islamisasi adat istiadat jawa
Dalam hal menyikapi adat, sunan ampel lebih berhati-hati ketimbang sunan kalijaga. Suatu ketika, sunan kalijaga pernah menawarkan untuk meng islamkan adat, sesajen, selametan, wayang dan gamelan. Namun, sunan ampel menolaknya secara halus.
“Apakah tidak khawatir kelak adat itu akan dianggap berasal dari Islam?” kata sunan ampel, ia pun melanjutkan bicaranya, “Nantim hal itu bisa bid’ah atau dianggap membuat aturan baru dalam islam. Akibatnya, islam tidak murni lagi”
Pandangan sunan ampel ini didukung oleh sunan giri dan sunan drajat. Sementara itu, sunan kudus dan sunan bonang menyetujui sunan kalijaga. akhirnya, sunan kudus membuat dua kesimpulan ntentang adat istiada. Pertama, ada yang dapat dimasuki Islam, kedua ada yang sama sekali tidak dapat dimasuki islam.
Dalam musyawarah itu, sunan kudus menjawab pertanyaan suna ampel, “Saya setuju dengan pendapat sunan kalijaga. Jika adat istiadat lama yang masih bisa diarahkan kepada agama Tauhid, maka kita akan memberi warna islami. Sementara itu, adat dan kepercayaan lama yang jelas-jelas menujurus ke arah kemusyrikan, maka akan kita tinggalkan sama sekali. Misalnya, gamelan dan wayang kulit, kita bisa memberinya warna islam sesuai dengan selera masyarakat. Adapun mengenai kekhawatiran kanjeng sunan ampel, saya mempunyai keyakinan bahwa akan ada yang menyempurnakan suatu hari nanti”
Keberadaan dua pendapat yang seakan bertentangan tersebut sebenarnya mengandung hikmah. Sebab, pendapat sunan kalijaga dan sunan kudus ternyata ada manfaatnya, yaitu agama islam cepat diterima oleh orang jawa. Dan, ini terbukti dikarenakan dua wali tersebut pandai menyatukan adat istiadat lama yang dapat ditoleransi oleh Islam. Maka, banyak penduduk jawa yang berbondong-bondong masuk agama islam.
Pada, prinsipnya, masyarakat mau menerima Islam lebih dahulu, kemudian mereka akan diberi pengertian mengenai kebersihan tauhid dalam keimanan sedikit demi sedikit. Sebaliknya, pendapat sunan Ampel yang menginginkan Islam harus disiarkan dengan murni, juga mengandung hikmah kebenaran yang hakiki. Sebab, umat akan semakin berhati-hati menjalankan syariat agama secara benar dan bersih dari segala macam bid’ah
Meski demikian, perbedaan pendapat itu tidak menggangu silahturahmi antara para wali. Sunan Ampel memang dikenal bijak mengelola perbedaan pendapat. Karena tu, sepeninggal maulana malik ibrahim, ia diangkat menjadi sesepuh wali sango dan mufti (orang yang mengeluirkan fatwa) se tanah jawa. Sunan ampelah yang memprakarasai pembentukan Dewan Wali sanga sebagai strategi menyelamatkan dakwah islam di tengah kemelut politik majapahit.
Jasa Sunan Ampel
Jasa sunan ampel yang paling besar adalah pencetus dan perencana kemunculan kerajaan islam dengan rajanya yang pertama yaitu raden patah, murid dan menantunya sendiri. ia juga turut membantu mendirikan masjid agung demak yang didirikan pada tahun 1477 M. Karena itu salah satu di antara empat tinag utama masjid Demak hingga sekarang masih diberi nama sesuai nama pembuatanya, dan sunan ampel adalah salah satu diantaranya.
Kehebatan para wali tersebut memang mengagumkan. Kesiapan mereka dalam menerima perbedaan pendapat adalah buktinya. Dalam hal adat istiadat rakyat jawa, Sunan Ampel jelas berbeda pendapat dengan sunan kudus, sunan kalijaga dan sunan gunung jati. Tetapi, mereka tetap bisa hidup rukun dan damai tanpa terjadi percekcokan yang menjurus pada pertikaian. Bahkan sunan kalijaga yang terkenal sebagai pelopor penjaga aliran lama menjadi menantu sunan ampel.
Putra sunan ampel sendiri, yaitu sunan bonang, adalah pendukung sunan kalijaga. Pada akhirnya sunan drajad atau raden qosim yang juga putra sunan ampel, ternyata ia memanfaatkan gamelan sebagai media dakwah yang ampuh untuk mendekati rakyat jawa agar mereka mau menerima islam. Itulah jiwa besar yang dimiliki para wali. Mereka saling menghargai medan perjuangan masing-masing anggotanya.
Makam Sunan Ampel
Akhirnya, sunan ampel wafat pada tahun 1481 M. Namun, sumber lain menunjukkan bahwa ia meningal tahun 1478 M. Setahun setelah masjid demak berdiri. Ia dimakamkan bersama ratusan santrinya di sebelah barat masjid ampel di areal seluas 1.000 meter persegi. Kompleks makam tersebut dikelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter. Makam sunan ampel bersama istri dan lima kerabatnya diberi pagar bajan taha karat setinggi 1,5 meter dengan lingkaran seluas 64 meter persegi, khusus untuk makam sunan ampel dikelilingi pasir putih.
Makam sunan ampel hampir tidak pernah sepi, karena setiap hari ada saja orang yang berziarah di makam sunan ampel. Mereka tidak hanya dari lingkungan sekitar, tapi dari seluruh tanah air.
Ajaran Sunan Ampel Moh Limo
Ajaran sunan ampel yang terkenal untuk mendidik masyarakat waktu itu adalah falsafah “moh limo”. perintah yang dimaksud Moh limo, yaitu moh main (tidak mau judi), moh ngombe (tidak mau mabuk), moh maling (tidak mau mencuri), moh madat (tidak mau menghisap candu) dan moh madon (tidak mau berzina). Falsafah ini sejalan dengan masalah kemerosotan moral dan akhlak warga yang dikeluhkan oleh raja majapahit, prabu brawijaya
“Apakah tidak khawatir kelak adat itu akan dianggap berasal dari Islam?” kata sunan ampel, ia pun melanjutkan bicaranya, “Nantim hal itu bisa bid’ah atau dianggap membuat aturan baru dalam islam. Akibatnya, islam tidak murni lagi”
Pandangan sunan ampel ini didukung oleh sunan giri dan sunan drajat. Sementara itu, sunan kudus dan sunan bonang menyetujui sunan kalijaga. akhirnya, sunan kudus membuat dua kesimpulan ntentang adat istiada. Pertama, ada yang dapat dimasuki Islam, kedua ada yang sama sekali tidak dapat dimasuki islam.
Dalam musyawarah itu, sunan kudus menjawab pertanyaan suna ampel, “Saya setuju dengan pendapat sunan kalijaga. Jika adat istiadat lama yang masih bisa diarahkan kepada agama Tauhid, maka kita akan memberi warna islami. Sementara itu, adat dan kepercayaan lama yang jelas-jelas menujurus ke arah kemusyrikan, maka akan kita tinggalkan sama sekali. Misalnya, gamelan dan wayang kulit, kita bisa memberinya warna islam sesuai dengan selera masyarakat. Adapun mengenai kekhawatiran kanjeng sunan ampel, saya mempunyai keyakinan bahwa akan ada yang menyempurnakan suatu hari nanti”
Keberadaan dua pendapat yang seakan bertentangan tersebut sebenarnya mengandung hikmah. Sebab, pendapat sunan kalijaga dan sunan kudus ternyata ada manfaatnya, yaitu agama islam cepat diterima oleh orang jawa. Dan, ini terbukti dikarenakan dua wali tersebut pandai menyatukan adat istiadat lama yang dapat ditoleransi oleh Islam. Maka, banyak penduduk jawa yang berbondong-bondong masuk agama islam.
Pada, prinsipnya, masyarakat mau menerima Islam lebih dahulu, kemudian mereka akan diberi pengertian mengenai kebersihan tauhid dalam keimanan sedikit demi sedikit. Sebaliknya, pendapat sunan Ampel yang menginginkan Islam harus disiarkan dengan murni, juga mengandung hikmah kebenaran yang hakiki. Sebab, umat akan semakin berhati-hati menjalankan syariat agama secara benar dan bersih dari segala macam bid’ah
Meski demikian, perbedaan pendapat itu tidak menggangu silahturahmi antara para wali. Sunan Ampel memang dikenal bijak mengelola perbedaan pendapat. Karena tu, sepeninggal maulana malik ibrahim, ia diangkat menjadi sesepuh wali sango dan mufti (orang yang mengeluirkan fatwa) se tanah jawa. Sunan ampelah yang memprakarasai pembentukan Dewan Wali sanga sebagai strategi menyelamatkan dakwah islam di tengah kemelut politik majapahit.
Jasa Sunan Ampel
Jasa sunan ampel yang paling besar adalah pencetus dan perencana kemunculan kerajaan islam dengan rajanya yang pertama yaitu raden patah, murid dan menantunya sendiri. ia juga turut membantu mendirikan masjid agung demak yang didirikan pada tahun 1477 M. Karena itu salah satu di antara empat tinag utama masjid Demak hingga sekarang masih diberi nama sesuai nama pembuatanya, dan sunan ampel adalah salah satu diantaranya.
Kehebatan para wali tersebut memang mengagumkan. Kesiapan mereka dalam menerima perbedaan pendapat adalah buktinya. Dalam hal adat istiadat rakyat jawa, Sunan Ampel jelas berbeda pendapat dengan sunan kudus, sunan kalijaga dan sunan gunung jati. Tetapi, mereka tetap bisa hidup rukun dan damai tanpa terjadi percekcokan yang menjurus pada pertikaian. Bahkan sunan kalijaga yang terkenal sebagai pelopor penjaga aliran lama menjadi menantu sunan ampel.
Putra sunan ampel sendiri, yaitu sunan bonang, adalah pendukung sunan kalijaga. Pada akhirnya sunan drajad atau raden qosim yang juga putra sunan ampel, ternyata ia memanfaatkan gamelan sebagai media dakwah yang ampuh untuk mendekati rakyat jawa agar mereka mau menerima islam. Itulah jiwa besar yang dimiliki para wali. Mereka saling menghargai medan perjuangan masing-masing anggotanya.
Makam Sunan Ampel
Akhirnya, sunan ampel wafat pada tahun 1481 M. Namun, sumber lain menunjukkan bahwa ia meningal tahun 1478 M. Setahun setelah masjid demak berdiri. Ia dimakamkan bersama ratusan santrinya di sebelah barat masjid ampel di areal seluas 1.000 meter persegi. Kompleks makam tersebut dikelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter. Makam sunan ampel bersama istri dan lima kerabatnya diberi pagar bajan taha karat setinggi 1,5 meter dengan lingkaran seluas 64 meter persegi, khusus untuk makam sunan ampel dikelilingi pasir putih.
Makam sunan ampel hampir tidak pernah sepi, karena setiap hari ada saja orang yang berziarah di makam sunan ampel. Mereka tidak hanya dari lingkungan sekitar, tapi dari seluruh tanah air.
Ajaran Sunan Ampel Moh Limo
Ajaran sunan ampel yang terkenal untuk mendidik masyarakat waktu itu adalah falsafah “moh limo”. perintah yang dimaksud Moh limo, yaitu moh main (tidak mau judi), moh ngombe (tidak mau mabuk), moh maling (tidak mau mencuri), moh madat (tidak mau menghisap candu) dan moh madon (tidak mau berzina). Falsafah ini sejalan dengan masalah kemerosotan moral dan akhlak warga yang dikeluhkan oleh raja majapahit, prabu brawijaya
Kisah Maulana Malik Ibrahim tentang menyebarkan Islam di jawa dengan sopan
Maulana Malik Ibrahim penyebar islam di jawa
Maulana
malik juga memiliki panggilan kakek bantal. beliau disebut kakek bantal
karena sering meletakkan kitabnya di atas bantal saat mengajarkan
ilmunya melalui pengajian kepada santrinya. disamping itu, ia tidak
hanya dikenal pandai dalam bidang ilmu agama, namun juga pandai dan ahli
dalam bidang tata negara, bercocok tanam, serta memiliki kemampuan di
bidang pengobatan yang tidak diragukan lagi.
Menurut
buku kisah teladan wali sanga, Maulana malik ibrahim datang ke
Indonesia pada tahun 1379 masehi, dan mulai menyiarkan agama islam di
pulau jawa, kemudian ia menetap di gresik sampai meninggal dunia. Beliau
meninggal dunia pada hari senian tanggal 12 rabiul awal tahun 822
hijriah atau jika dalam tahun masehii adalah 8 April 1491. Beliau
dimakamkan di Gresik, jawa timur.
Kisah maulana malik ibrahim – Dalam melakukan dakwahnya, maulana malik ibrahim
sangat berhati-hati. Sebab, pada saat itu kebanyakan masyawarakat jawa
masih bergama memeluk agama budha dan hindu. Tidak sedikit juga yang
masih menyembah pohon atau benda-benda lainnya, mengeramatkan tempat
tertentu dan suka melakukan sesajen. Sehingga, jika tidak berhati-hati
dalam berdakwah, kemudian menyinggung perasaan mereka, tentu masyarakat
jawa pada saat itu akan sulit menerima ajaran agama islam yang mulai
dikenalkan olehnya.
Perbuatan menyekutukan Alloh SWT dengan
sesembahan lain disebut syirik. Melakukan sesajen, menyembah pohon dan
batu, serta mengeramatkan tempat tertentu termasuk perbuatan syirik,
perbuatan yang sangat terkutuk. Dosa pelakukanya tidak akan diampuni
oleh Alloh SWT.
Meskipun telah
melihat adat istiadat di masyarakat jawa seperti itu, maulana malik
ibrahim tidak menentang adat istiadat dan agama mereka. (Saat itu
sebagian dari mereka sudah ada yang mengenal islam, namun hanya sebatas
tahu saja, dan memeluk dan menjalankan ajaran islam). Maulana malik
menghadari orang beragama hindu, buda, dan orang yang senang berbuat
syikir dengan arif dan bijaksana.
Wilayah dakwah Maulana Malik Ibrahim
Daerah
yang menjadi tempat tinggal maulana malik ibrahimm yaitu Gresik, jawa
timur, saat itu masih di bawah kekuasaan kerajaan majapahit (Terletak di
Mojokerjo, dengan ibu kota di Trowulan). Majapahit dikenal sebagai
kerajaan hindu, maka tidak heran apabila penduduk yang berada di wilayah
kekuasaan kerajaan tersebut memeluk agama hindu.
Dalam
agama hindu, penduduk mengenal sistem kasta. Sistem kasta merupakan
pengelompokan atau penggolongan manusia dalam tingkat pekerjaan
tertentu. Masyarakat yang beragama hindu, kasta terbagi menjadi empat
kelompok atau golongan. Kasta pertama yaitu Kasta brahmana, terdiri atas
para pekerja di bidang spiritual, seperti pendekata dan ruhaniawan.
Kasta kedua, kasta kesatria, terdiri dari para kepala dan anggota
lembaga pemerintahan. Kastaga ketiga, kasta waisya, terdiri atas para
pekera di bidang ekonomi , seperti perdagang, kasta keempat, atau kasta
paling bawah, yaitu kasta sudra, terdiri dari para pekerja yang
mempunyai tugas untuk melayani dan membantu ketiga kastas di atasnya.
Dari
keempat kelompok kasta tadi, kasta sudra atau kasta paling bawah
merupakan kasta yang paling banyak dijumpai di wilayah gresik. GOlongan
sudra adalah golongan orang miskin, rakyat jelata, orang tertindas dan
orang bodoh, pada umumnya mereka bekerja sebagai petani, nelayan, buruh
tani, dan pekerja kasaar lainnya. masyarakat kasta sudra tidak boleh
bergaul dengan orang dari kasta yang lain, bahkan mereka juga tidak
diizinkan menikah dengan orang yang berlainan kasta.
Kisah maulana malik ibrahim
– Meskipun agama hindu dan budha telah menyebar di daerah jawa, namun
ada sebagian orang yang enggan memeluknya. Mereka lebih senang menyembah
alama semesta karena mereka memiliki pengetahuan yang kurang untuk
mencari tahun dengan caranya sendiri. Mereka masih meyakini bahwa suatu
benda, pohon, bintang atau tempat tertentu memiliki kekuatan yang dapat
menentukan nasib mereka. Jadi bisa dimaklumi apabila mereka memuja benda
mati atau tumbuhan. Karena itu maulana malik tidak hanya berhadapan
dengan pemeluk agama hindu, dan buda namun juga berhadapan dengan para
pemuja berhala.
Maulana malik dalam
melakukan dahwah islam kepada para penduduk tidak bersikap kaku. DApat
diibaratkan , beliau dapat mengambil ikan dari air tanpa membuat airnya
menjadi keruh. beliau mengenalkan islam dengan cara yang lembut dan
tidak sekedar teori semata. Beliau dapat memberikan contoh langsung
kepada masyarakat, seperti dengan tutur kata yang sopan, lembah lembut,
menyantuni fakir miskin, menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang
lebih muda.
Pada mulanya, mulana
malik ibrahim atau syekh bantal mendakwahi orang-orang yang merasa
tersisih dan terpinggirkan karena mereka berada dalam golongan kasta
sudra selama ini. Dalam setiap kesempatan, ia memperkenalkan islam
melalui perilakunya sendiri maupun informasi yang diberikan kepada
mereka, sehingga sering terjadi percakapan panjang dan mengasyikan. – Kisah Maulana Malik Ibrahim
Pada
suatu ketika, maulana malik berda dalam kerumunan orang. mereka adalah
orang yang berprofesi sebagai nelayan. mereka yang sedang istirahat
karena lelah setelah melaut.
Ia
mengatakan dengan lembut kepada para nelayan. “Saya ini seorang
pendatang, tentu saya memiliki banyak perbedaan dengan kalian. Misalnya,
adat-istiadat, tingkah laku, maupun agama. Mungking tingkah laku saya
kurang berkenan. Sudilah kiranya, saudara sekalian memaafkan semua
kesalahan saya. Bahkan, saya sangat senang jika seluruh kesalahan saya
itu diluruskan.
Mereka pun merespon
perkatan maulana malik dengan jawaban yang baik “Ah, tidak, perilaku dan
budi pekerti kakek bantal justri membuat kami kagum. kakek bantal
selalu tersenyum kepada siapapun, baik itu orang yang sudah dikenal atau
belum. Kakek tidak suka membeda-bedakan derajat manusia. kakek juga
tidak membedakan kasta. padahal, kakek termasuk golongan waisya,
sedangkan kami golongan sudra. Tetapi, kakek suka bergaul dengan kami,”
Syekh
bantal atau maulana malik pun serasa mendapatkan angin segar. Kemudian
Maulana malik mengatakan “Saya memang biasa seperti itu, di negeri saya,
kebanyakan mereka pun berbuat demikian. Dan, itulah ajaran agama yang
saya anut. Agama yang saya anut itu melarang untuk merendahkan orang
lain, menghina, menyombongkan diri, dengki, dan iri. Agama saya
mengajarkan untuk hidup damai dan rukun kepada siapa pun.
Mereka bertanya “apakah agama kakek tidak ada kasta seperti di sini?”
Sykeh
bantal menjawab, Oh tidak, dalam agama islam yang saya anut, tidak
mengenal istilah kasta. jadi, antara raja dan pejabat, pejabat dan
saudagar, petani dan saudagar, serta petani dan nelayan, semuanya
dipandang sama. kami tidak pernah menjaga jarak, seorang pendeta pun
tidak merasa malu jika duduk bersama dengan rakyat biasa.
Mereka pun bertanya lagi “Kalau begitu, islam tidak mengenal perbedaan. Lalu, dimana letak tata krama antara raja dan rakyatnya?”
Mereka pun bertanya lagi “Kalau begitu, islam tidak mengenal perbedaan. Lalu, dimana letak tata krama antara raja dan rakyatnya?”
Syekh
bantal menjawab “Meskipun tidak mengenal kasta, tetapi islam
mengajarkan tata krama. Dan, tata krama itu tidak sebatas antar raja
dengan rakyat, tetapi semua manusia. Ajaran agama kami menjelaskan bahwa
yang membedakan kita dengan orang lain hanyalah budi pekertinya bukan
kastanya,”
Mereka pun mulai paham. Mereka menjawab “ya, kek, kami mulai mengerti”
Dengan
perlahan-lahan, mereka semakin menyukai sykeh bantal atau maulana malik
ibrahim dan menjadikannya sebagai tempat bertanya setiap permasalahan.
Pada akhirnya, mereka pun berbondong-bondong masuk islam.
Semoga
kisah maulana malik ibrahim dalam menyebarkan agama islam di jawa
dengan sopan santun di atas dapat menambah pengetahuan kamu.
Sumber : http://ceritaislami.net










