"PORTAL GEOGRAFI, LINGKUNGAN DAN TATA KOTA" Gapai mimpimu untuk masa depan yang lebih baik

Showing posts with label Geografi Pertanian. Show all posts
Showing posts with label Geografi Pertanian. Show all posts

TANAH KAVLING LOKA INDAH JATIGUWI

KAVLING LOKA INDAH JATIGUWI. PROMO DISKON 5 JUTA Segera milik kavling istimewa di area Ds. Jatiguwi Kec. Sumberpucung. Spek Lokasi - di Area Pemukiman Penduduk. - Legalitas Jelas dan Aman Dengan Surat AJB Atas nama pembeli - jalan 5 Meter - Sudah rata + Sudah Di patok - Siap Bangun Rumah.
Prospek Lokasi - Dekat dengan SMA LOKA Sumberpucung - Dekat SPBU - Dekat Puskesmas - Dekat Ke Pasar SP - Dari jalan Raya jarak 1 KM
System Pembayaran - Cash Keras - Cash Lunak - Kredit dengan DP min 30% Sisa 1 tahun Minat Silahkan Langsung Hubungi Whatapps 085895477742




Share:

TANAH KAVLING SENGGRENG SUMBERPUCUNG MALANG

TANAH KAVLING Ngebruk senggreng Segera miliki kavling istimewa di area Ds. Senggreng Kec. Sumberpucung. Ukuran lokasi : 6x17, 7x21, 7x22, 7x23 Spek Lokasi - Di Area Pemukiman Penduduk. - Legalitas Jelas dan Aman Dengan Surat AJB Atas nama pembeli - Mangku Jalan semua - Sudah rata + Sudah Di patok - Siap Bangun Rumah. Prospek Lokasi - Dekat dengan Wisata Apung Senggreng - Dekat Indomart - Dekat Ke Pasar Ngebruk - Dekat Ke Stasiun - Dekat ke Sekolah - Dari jalan Raya jarak 2 KM System Pembayaran - Cash Keras Harga Bisa Nego - Cash Lunak Harga Bisa Nego - Kredit dengan DP 50% min 30% Sisa 1 tahun Minat Silahkan Langsung Hubungi wa +62 858-9547-7742 Dan kabari segera untuk cek lokasi.



Share:

MADU MURNI ASLI 100% DARI ALAM JAYA MADU MALANG

Madu adalah cairan yang menyerupai sirup, madu lebih kental dan berasa manis, dihasilkan oleh lebah dan serangga lainnya dari nektar bunga. Jika Tawon madu sudah berada dalam sarang nektar dikeluarkan dari kantung madu yang terdapat pada abdomen dan dikunyah dikerjakan bersama tawon lain, jika nektar sudah halus ditempatkan pada sel, jika sel sudah penuh akan ditutup dan terjadi fermentasi.
Rasa manis madu disebapkan oleh unsur monosakarida fruktosa dan glukosa, dan memiliki rasa manis yang hampir sama dengan gula.

Madu memiliki ciri-ciri kimia yang menarik, dioleskan jika dipakai untuk pemanggangan. Madu memiliki rasa yang berbeda daripada gula dan pemanis lainnya. Kebanyakan mikroorganisme tidak bisa berkembang di dalam madu karena rendahnya aktivitas air yang hanya Sejarah penggunaan madu oleh manusia sudah cukup panjang. Dari dulu manusia menggunakan madu untuk makanan dan minuman sebagai pemanis atau perasa. Aroma madu bergantung pada sumber nektar yang diambil lebah.
PEMESANAN MADU MURNI ASLI.
0823-3469-1922
Madu sudah bersertifikat dan berizin resmi.



Share:

Penataan lahan miring dengan metode SALT

Metode Sloping Agriculture Land Technology (SALT) merupakan salah satu teknik untuk menata lahan miring yang diperuntukan bagi kegiatan pertanian. Selama ini pemanfaatan lahan miring dalam bentuk kebun dan sawah berundak diketahui memiliki resiko erosi dan tanah longsor yang tinggi. Sehingga banyak petani enggan memanfaatkan lahan miring untuk tanaman pangan, mereka hanya memanfaatkannya untuk tanaman keras.
Di sisi lain, kebutuhan bahan pangan semakin tinggi, mengingat jumlah populasi penduduk yang terus meningkat saban harinya. Oleh karena itu ekstensifikasi lahan pertanian pangan menjadi salah satu pilihan yang tak bisa dihindari. Sehingga pemanfaatan lahan miring untuk kegiatan pertanian menjadi salah satu pilihan yang realistis ditengah keterbatasan lahan yang ada.
Pada tahun 1971, di Filipina diperkenalkan sebuah metode untuk menata lahan miring oleh Mindanao Baptist Rural Life Center (MBRLC). Dikemudian hari, teknik yang populer dengan nama SALT tersebut diakui sebagai salah satu metode terbaik dalam menata lahan miring. Teknik SALT diyakini mampu meminimalkan erosi, membantu mengembalikan struktur dan kesuburan tanah, meningkatkan produksi tanaman, mudah dipraktekkan karena menggunakan alat sederhana, membutuhkan tenaga yang rendah sehingga cocok untuk petani berlahan sempit, dan tidak membutuhkan modal besar. Setidaknya, ada 10 langkah untuk menerapkan teknik menata lahan miring dengan metode SALT, berikut langkah-langkahnya.

Langkah 1. Membuat alat kerja

menggunakan frame AHal pertama yang harus dilakukan untuk menata lahan miring adalah membuat alat kerja yang dinamakan Frame A.  Sebuah alat yang berbentuk menyerupai huruf A, terbuat dari kayu ataupun bambu. Alat ini bisa dibuat sendiri dengan mudah. Caranya, pilih tongkat kayu atau bambu yang kuat tetapi jangan terlalu besar. Potonglah tongkat tersebut dengan panjang 1,5 meter sebanyak 2 buah, yang nantinya akan berfungsi sebagai kaki penopang. Kemudian buat lagi potongan tongkat lain dengan panjang ½ meter, yang akan dipakai untuk bagian palang. Satukan salah satu ujung dari kedua tongkat yang berfungsi sebagai kaki penopang, bisa dengan cara diikat ataupun dipaku. Kemudian ujung lainnya letakkan ditanah yang datar, beri jarak sejauh 1 meter antar ujung tersebut sehingga membentuk segitiga. Pasang dan ikatkan, tongkat yang ketiga pada segitiga tersebut sehingga 
membentuk huruf A. Paku atau ikat dengan kuat. Frame A ini akan digunakan untuk membuat garis lintasan.

Langkah 2. Membuat garis lintasan

Menemukan garis lintasanMenemukan titik-titik lintasan
Tahap selanjutnya dalam menata lahan miring adalah menentukan titik-titik lintasan. Sebaiknya untuk menentukan titik-titik lintasan ini diikerjakan oleh 2 orang, satu memegang alat Frame A, satu lagi menancapkan patok pada setiap titik yang ditandai. Pertama-tama potonglah tongkat kayu atau bambu sepanjang 30 cm untuk patok atau tiang pancang. Banyaknya patok disesuaikan dengan kebutuhan berdasarkan luas lahan yang akan kita tata. Bersihkan lahan dari semua rintangan dan semak belukar untuk memudahkan menentukan titik lintasan dan memberi tanda.
Pilih sembarang titik dimana garis lintasan akan dibentuk. Mulailah bekerja pada areal yang paling tinggi. Cara mengerjakannya sebagai berikut, letakan salah satu kaki (kita sebut saja kaki belakang) dari Frame A di atas tanah. Cari tempat untuk meletakkan kaki yang lain (sebut saja kaki depan)  di atas tanah yang tingginya sama dengan kaki belakang. Untuk memastikan ketinggian tanah antara kaki belakang dan kaki depan telah sama, gunakan benang yang diikatkan pada ujung segitiga Frame A bagian atas. Sedangkan ujung benang lainnya diberi pendulum, boleh paku atau benda lainnya. Apabila garis benang tersebut membagi bidang Frame A sama besar (lihat Gambar 1), bisa dikatakan kedua permukaan tanah sama tinggi. Fungsi benang dan pendulum bisa juga digantikan dengan meletakkan water pass pada palang Frame A, Ketika kita dapat meletakkan kedua kaki Frame A pada ketinggian tanah yang sama, berarti kita sudah berhasil menentukan titik lintasan. Berilah tanda dengan patok yang telah dibuat pada kaki bagian belakang.  Selanjutnya, putarlah kaki belakang Frame A dimana kaki bagian depan berfungsi sebagai poros (jangan diangkat). Sekarang kaki belakang jadi kaki depan dan kaki depan jadi kaki belakang. Carilah permukaan tanah yang mempunyai ketinggian yang sama dengan kaki yang menjadi poros. Nah, sekarang angkat bagian poros dan tandai dengan patok.  Begitu selanjutnya untuk menentukan titik-titik lintasan.
Menentukan garis lintasan
Gerakkan Frame A terus menerus ke arah depan dengan cara seperti diatas. Berilah tanda dengan patok pada setiap titik yang didapatkan (lihat Gambar 2). Lakukan terus langkah tersebut hingga tiba pada titik terakhir dari areal lahan kita. Kemudian tarik garis yang menyambungkan titik yang telah dibuat. Sekarang kita sudah menemukan garis lintasan.

mengukur garis lintasanJarak Antar Garis Lintasan
Lakukan langkah membuat garis lintasan seperti di atas untuk membuat lintasan-lintasan dibawahnya. Cobalah membuat beberapa garis lintasan yang mungkin. Ingatlah, semakin dekat batas garis antar lintasan maka peluang untuk erosi berkurang. Juga peluang untuk memproduksi unsur hara dalam bentuk biomassa semakin besar dan memungkinkan tanamanan tumbuh dengan baik.
Ada 2 kriteria untuk menentukan jarak antar lintasan: garis vertikal dan garis horizontal. Secara vertikal, sebaiknya garis berikutnya tidak lebih dari 1 meter dibawahnya untuk mencegah erosi berlebihan. Pada bagian yang kemiringannya ekstrim atau curam, jaraknya harus lebih pendek. Sementara itu, pada lahan yang datar, sebaiknya jarak horizontal antar garis tidak lebih dari 5 meter untuk memaksimalkan manajemen kesuburan tanah.

Langkah 3. Menyiapkan garis lintasan

Setelah garis-garis lintasan dibuat, selanjutnya lakukan pengolahan tanah atau pembajakan diantara garis-garis tersebut, bisa dengan bajak ataupun cangkul. Pengolahan tanah dilakukan memanjang mengikuti alur garis hingga ke ujung lahan. Lebar setiap areal pembajakan usahakan sebesar 1 meter. Patok atau pancang akan memandu kita ketika pembajakan. Tidak usah dipaksakan untuk membajak semua areal diantara garis lintasan. Sisa-sisa yang tidak terbajak akan berguna sebagai penahan erosi, karena akan diperuntukan bagi tanaman penyeling.
Garis-garis lintasan yang telah dibuat akan membentuk pola bedengan atau terasering yang mengikuti kontur permukaan lereng gunung atau lahan miring. Dengan mengikuti bentuk kontur asli, erosi dan resiko tanah longsor akibat pengolahan tanah bisa ditekan minimal.

Gambar 5. Menyiapkan garis lintasanLangkah 4. Menanam tanaman sumber nitrogen

Pada setiap garis lintasan dibuat 2 buah alur pada jarak ½ meter (lihat gambar 4), sehingga membentuk lintasan yang kita sebut gang.  Tanamlah tanaman sumber nitrogen pada setiap alur gang kemudian tutup dengan tanah. Salah satu tanaman sumber nitrogen adalah tanaman pagar leguminosa. Tanaman leguminosa mempunyai kemampuan untuk tumbuh di areal tandus dan kering. Hal tersebut membuat tanaman ini sangat baik untuk mengembalikan kesuburan tanah pada perbatasan aliran sungai, areal yang miring dan areal lain yang sudah gundul. Melalui daun-daun yang jatuh akan memperkaya dan membuat tanah menjadi subur. Sebagai tambahan, tanaman leguminosa mampu bersaing dengan rumput-rumput keras, dimana umumnya tanah-tanah tersebut sudah kehabisan unsur hara karena sistem pertanian konvensional.
Contoh lain tanaman sumber nitrogen adalah Flemingia macrophylla, Desmodium rensonii, Gliricidia sepium, dan Calliandra calothyrsus. Tumbuhan terebut contoh yang paling baik dari tumbuhan campuran nitrogen sebagai pagar tanaman pada pertanian SALT. Tanaman pagar lainnya adalah Indigofera tysmane, Calliandra tetragona, Leucaena luecocephala dan Leucaena diversifolia. Harus juga diingat, kita harus memilih tanaman tumbuhan nitrogen yang cocok dengan iklim dan kondisi tanah.

Langkah 5. Mengolah lahan alternatif gang

Jika kita ingin menanami gang sebelum tumbuhan pelengkap nitrogen tumbuh dengan baik, olahlah pada gang  berselang seling, misalnya gang ke 2,4,6,8, dan seterusnya. Pengolahan alternatif ini akan mencegah terjadinya erosi karena gang yang tidak perlu di bajak akan menahan tanah yang dibajak. Jika tanaman pelengkap nitrogen telah tumbuh dengan baik maka kita sudah bisa menanami tanaman pada setiap gang.

Langkah 6. Menanam tanam tanaman permanen

Tanamlah tanaman permanen pada setiap gang ke-3. Tanaman permanen ini bisa ditanami bersamaan waktunya dengan tanaman campuran nitrogen. Hanya pada titik-titik yang kosong yang ditanami dan digali, kemudian setelah tumbuhan campuran nitrogen berumur 8 bulan atau tinggi 1 meter, maka lahan sudah dapat diolah secara maksimal. Adapun contoh dari tanaman permanen adalah durian, rambutan, manggis, duku, pisang, kopi atau tanaman lain yang memiliki tinggi yang sama. Tanaman yang pohonnya tinggi sebaiknya ditanaman pada lereng yang paling bawah sedangkan tanaman yang tidak begitu tinggi ditanam pada lereng yang paling atas.

Menanam tanaman permanenLangkah 7. Menanam tanaman berumur pendek dan sedang

Dalam menata lahan miring tanamlah tanaman yang umurnya relatif pendek atau sedang diantara gang atau antara tanaman permanen. Tanaman-tanaman ini menjadi sumber makanan sehari-hari atau bisa juga menjadi sumber pendapatan rutin menunggu tanaman permanen menghasilkan buah. Adapun contoh tanaman yang umurnya pendek atau sedang adalah nenas, jahe, kunyit, kacang kedelai, kacang tanah, melon, semangka, jagung, padi, dan lain-lain. Untuk menghindari tajuk, tanaman yang pendek harus jauh dari tanaman yang tinggi.

 

Langkah 8. Merapikan secara rutin tanaman sumber nitrogen

Pangkaslah tanaman campuran nitrogen secara teratur sekali dalam sebulan dengan tinggi 1 atau 1,5 meter dari tanah. Biarkan potongan-potongan daun dan tangkai di atas permukaan tanaman produksi. Hal ini sangat penting untuk mencegah air hujan yang jatuh. Potongan-potongan tanaman campuran nitrogen yang sudah dipangkas ini juga akan sangat bagus sebagai pupuk organik untuk tanaman permamen maupun tanaman yang berumur pendek. Dengan jalan ini maka secara otomatis kebutuhan pupuk komersial bisa dikurangi.

Langkah 9. Menerapkan rotasi tanaman

Merapikan tanamanJalan yang paling baik untuk melakukan rotasi tanaman adalah menanam tanaman serealia (gandum-ganduman) seperti jagung dan padi. Setelah itu tanaman akar seperti ubi, ubi rambat, kentang, wortel, dan lain-lain. Setelah itu tanaman kacang-kacangan seperti kacang panjang, buncis, kacang tanah, kacang kedelai, dan lain-lain. Setelah itu tanaman buah seperti cabai, melon, semangka, timun, terung, dan lain-lain. Dengan jalan ini pula, kesuburan tanah terpelihara dengan baik dan mata rantai hama juga bisa terputus.

Langkah 10. Membangun teras hijauan

alamiah
Terasing akan terbentuk secara alamiahLangkah terakhir dalam menata lahan miring yaitu mencegah erosi. Hal yang perlu dilakukan adalah merawat tanaman pagar agar tetap tumbuh lebat dan sehat. Adalah hal yang umum bila kita melihat jerami, tangkai-tangkai kayu, ranting-ranting, dahan-dahan, daun-daun, batu-batuan disekitar tumbuhan pelengkap nitrogen pada pertanian dengan sistem SALT. Jika kita merawatnya dengan baik, maka semakin lama tumbuhan pelengkap nitrogen bekerja dengan baik. Areal juga akan kelihatan hijau dan indah. Perpaduan seni, keindahan, alam yang lestari serta panen yang berlimpah akan terwujud dengan teknik SALT ini.
Sumber: Asian Rural Life Development Foundation
Share:

KRITIKAN PEDAS UNTUK SARJANA PERTANIAN DI INDONESIA

Ketika kita bicara tentang pertanian di indonesia sungguh miris karena indonesia sendiri sudah mengakui bahwa negara adalah negara agraris tetapi pada kenyataan Indonesia malah impor dari negara lain, sangat memalukan jadinya.

Pada kenyataannya Sarjana pertanian Indonesia yang selama ini menempuh ilmu di Indonesia tetapi pada saat implementasinya ketika ia menghasilkan produk ciptaan pada akhirnya di jualah ke Perusahaan-perusahaan asing yang bersifat kapitalis sehingga Rakyat indonesia ketika ingin mendapatkan atau membutuhkan produk tersebut harus membeli dari perusahaan asing tersebut yang seharusnya bisa dengan mudah di ajarkan oleh penemunya sendiri contohnya saja PIORIT.

Sungguh menjadi hal yang memalukan sekali jika kita melihat harga yang ada di indonesia mengenai produk-produk pangan di indonesia yang melonjak naik, seharusnya karna indonesia adalah negara agraris yang seharusnya bisa mencukupi kebutuhannya sendiri dan menjadikan produk produk pertanian pangan terjangkau, kita ambil contoh saja seperti kopi, kopi memang asalnya bukan dari negara indonesia tetapi ketika di implementasikan di Indonesia pertanian kopi meningkat dan bisa menaikan perekonomian indonesia, hal ini tidak di terapkan pada pertanian yang lain sehingga seperti padi, kedelai, dan tanaman pokok lainnya masih impor dari negara lain..

Mana semangat Sarjana Pertanian di Indonesia ini, jangan hanya mencari gaji semata, tetapi gunakan ilmu anda untuk membangun pertanian di Indonesia yang berkelanjutan.

Kritikan pedas untuk sarjana pertanian ini dengar dan renungkan baik-baik. dan hayati dengan sepenuh hati karna ini adalah amanah dari negara kita tercinta.

Jika anda sebagai Sarjana Pertanian anda harus menerapkan ilmu anda untuk  negara Indonesia dan jangan pernah sekali-sekali mengabdi dengan negara lain hanya semata-mata mencari penghasilan yang lebih, dan anda harus juga pikirkan mengimplementasikan ilmu anda untuk negeri ini meski sekarang tidak bisa menikmati secara langsung tetapi di kemudian hari jika negara ini maju yang menikmati adalah anak cucu anda. Sekian Terima Kasih.
Share:

Membangun Pertanian Pangan Berkelanjutan di Indonesia

membangun-pertanian-berkelanjutanPeraturan Pemerintah no 12 tahun 2012 yang dikeluarkan tanggal 9 Januari 2012 tentang Insentif Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Semoga peraturan ini bukan hanya peraturan yang dipahami oleh satu pihak namun tidak dipahami oleh pihak lain. Artinya bahwa peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah ini harus menjadi acuan peraturan-peraturan lain yang terkait. Baik terkait langsung maupun tidak langsung.

Sektor pertanian dijadikan sebagai dasar (backbone) dari pembangunan nasional sudah seharusnya dilakukan sejak dulu. Untuk menyongsong kebangkitan pembangunan dibidang pertanian dalam jangka panjang ada satu trigger yang harus segera disosialisasikan. Apalagi kalau bukan sistem pertanian berkelanjutan.

Dalam definisi umum pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) adalah pemanfaatan sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable resources) dan sumberdaya tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources). Yang juga tidak boleh dilupakan adalah membangun sistem organisasi masyarakat dan pengembangan modal sosial.

Pemerintah perlu membangun alur kerja yang jelas berdasar perencanaan yang terukur dan mencakup output dalam jangka pendek dan jangka panjang. Penetapan strategi yang tepat dan penuh perhitungan dalam pengembangan sistem tentunya harus melibatkan banyak pihak. Posisi masyarakat atau petani yang menjadi ujung tombak pelaksanaan dilapangan sudah tidak pantas lagi dijadikan obyek. Mereka adalah subjek sebagaimana tataran pembuat peraturan.

Pertanian berkelanjutan tidak saja berbicara masalah peningkatan hasil panen atau produksi komoditi, diversivikasi pangan, penyiapan infrastruktur. Namun secara jelas bahwa pertanian berkelanjutan ini juga harus bisa menjamin ketahanan pangan bagi rakyat dan bangsanya.

Merencanakan dan melakukan program pertanian berkelanjutan ini juga memerlukan upaya yang serius. Agar bisa terlaksana dengan baik, sudah saatnya pemerintah menyiapakan sarana dan prasarana yang diperlukan. Jauh akan lebih baik pemerintah juga menyiapkan insentif yang bisa diberikan kepada masyarakat, petani dan pihak-pihak yang terkait langsung.
Pemerintah wajib berinvestasi menyediakan kebijakan yang mendorong pengelolaan pertanian ke arah yang berkelanjutan. Semua pihak siap membantu pemerintah mengurangi biaya sosial dan lingkungan yang tidak terduga dalam jangka panjang. Pertanian Sehat Indonesia yang juga berkhitmat didalam pembangunan pertanian Indonesia juga menyiapkan seluruh perangkatnya untuk turut berkomitmen mambangun pertanian Indonesia.
Share:

KEPEDULIAN MASYARAKAT MEBANGUN PERTANIAN

Keberhasilan revolusi industri di barat khususnya negara-negara Eropa dan Amerika berdampak pada beralihnya perhatian dunia khususnya negara di dunia ketiga dari sektor pertanian ke sektor industri. Revolusi indusri di barat menyanjung betul-betul ilmu pengetahuan dan teknologi dalam setiap aktivitas produksi sehingga mampu meningkatkan perekonomian mereka. Dengan manajemen yang lebih efektif dan efisien mampu memproduksi barang dan jasa secara masal. Barang-barang produksi tersebut bahkan mampu merambah pasar internasional dan masuk ke negara dunia ketiga sebagai konsumennya. Negara di dunia ketiga atau negara berkembang kemudian berupaya untuk mencoba meniru keberhasilan tersebut. Negara berkembang kawasan benua Asia dan Afrika yang umumnya merupakan negara agraris dengan “latah” meniru dan melupakan kesejatian dirinya. Fakta yang paling fatal dari “latah” tersebut adalah tidak ada perencanaan dari pemerintah untuk melakukan regenerasi di sektor pertanian yakni regenerasi orang bermatapencaharian petani.

Buktinya jenjang pendidikan formal bahkan lulusan paling tinggi (S3) yang ada tidak ada yang meluluskan menjadi seorang petani. Menilik juga pendidikan kejuruan misal di SMK sekalipun, apakah ada kejuruan pertanian atau minimal ada yang mengarahkan menjadi petani. Yang terjadi kemudian ya tentu saja banyak penganggur sekalipun berlulusan sarjana, karena salah dalam menentukan kebijakan. Karena kita mencetak pekerja industri di tengah-tengah hamparan sawah yang membentang dan cakrawala vegetasi hutan yang menghijau.

Negeri kita sebenarnya adalah lumbung padi dunia. Bahkan tidak hanya padi, aneka palawija dan hortikultura cocok tumbuh di tanah yang pernah 3,5 abad diperebutkan penjajah barat. Bahkan tidak hanya lumbung, penulis boleh bermimpi negeri kita bisa untuk jadi “huller” dunia kalau kita mau.

Dari rasa optimisme itu, Pemberdayaan Pertanian Sehat dalam Klaster Mandiri Dompet Dhuafa melalui jejaringnya Pertanian Sehat Indonesia adalah wujud kepedulian untuk membenahi sektor pertanian minimal di wilayah yang menjadi dampingannya. Minimal kepedulian tersebut mampu meregenerasi pemuda untuk menjadi petani sebagai mata pencaharian yang menjanjikan sebagai keluaran dari pemberdayaan.
Share:

PARADIGMA KESALAHAN PERTANIAN DI INDONESIA

Apakah didalam pelajaran anak-anak sekolah dasar masih menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negeri agraris? Saya rasa penulis akan malu, karena sulit memberi contoh dan bukti-buktinya. Bagaimana jika disebut sebagai negara importir? Pengelola negeri ini juga seharusnya malu, karena seolah tidak mampu mempertahankan atau memperbaiki kondisi pertanian Indonesia semakin terpuruk.

Mulai dari komoditas pangan, beras dan kedelai. Bahkan daging sapi saja kita import tak ada hentinya. Kondisi terkini adalah hilangnya bawang merah dan bawang putih di pasaran ditengarai karena terhambatnya rantai import. Seolah negara kita ini kaya raya, semua orang mampu membeli apapun yang diimport. Padahal sebagian besar diantaranya bisa diproduksi di negeri sendiri. Kenapa seolah pasrah, atau justru kesengajaan? Lalu siapa yang diuntungkan dengan kondisi ini?

Kecukupan kebutuhan bawang putih di Indonesia dari produksi dalam negeri hanya berkisar 10%. Lahan yang begitu luas dan memiliki kesesuaian lahan untuk komoditi ini tidak dioptimalisasi dengan baik dan tidak mendapat dukungan pemerintah. Sejatinya bukan hanya komoditas bawang merah. Kondisi pengembangan komoditi lain juga tidak mendapakan perhatian yang serius. Lalu sampai kapan pemerintah membiarkan petani melakukannya sendiri? Walau dengan prasarana dan sarana yang serba terbatas, petani tetap saja melakukan aktivitasnya. Penguatan kapasitas petani hanya melalui proyek-proyek pelatihan jangka pendek. Pembiayaan yang diperlukan petani entah diserap oleh siapa dan kemana? Seolah pemerintah tidak memiliki perencanaan jangka panjang untuk sektor pertanian.

Jika kondisi pasokan komoditi tidak mencukupi, pemerintah dengan mudahnya melakukan impor untuk menutupi kekurangan pasokan. Para ahli sebenarnya sudah punya prediksi akan terjadinya kekurangan pasokan terhadap komoditas ini dalam bulan-bulan tertentu. Tetapi informasi ini nampaknya hanya tertumpuk di meja setelah rapat dan seminar diberbagai tempat. Informasi ini tidak pernah dibahas bersama dengan petani sebagai pelaksana langsung dilapangan. Perjalanan dinas turun ke desa hanya sebatas seremoni yang tidak memiliki langkah strategis.

Apa yang terjadi seandainya petani tahu kalau harga bawang bisa mencapai harga diatas Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu? Tentu mereka akan bersemangat untuk menanam walau tantangan cukup berat. Budaya, iklim, musim dan lain-lain. Walau sesungguhnya petani adalah pejuang yang hebat. Namun hal ini sudah terjadi. Kreativitas pemerintah hanya sebatas mengamankan kebutuhan bawang dengan cara impor. Nanti saat panen raya bawang terjadi apa yang terjadi? Jika pemerintah peduli dengan pembangunan di sektor pertanian barangkali sudah menyiapkan strategi guna melindungi petani agar memperoleh harga yang layak dari jerih payahnya.
 
Mulai serius dan bersyukur atas nikmat kekayaan alam Indonesia dengan cara melakukan pembangunan di sektor pertanian dan mengembalikan kemandirian bangsa melalui sektor pertanian. Ingat bahwa nikmat kekayaan ini adalah titipan yang harus dijaga dengan amanah dalam pengelolaannya. Mari berkomitmen membangun pertanian Indonesia.
Share:

RAPUHNYA SEKTOR PERTANIAN DI INDONESIA

Secara keruangan Indonesia merupakan daerah agraris yang mempunyai iklim tropi yang sangat cocok di gunakan lahan pertanian pada umumnya, Indonesia di katakan mempunyai iklim tropis karena di lalui oleh garis katulistiwa dan mempunyai 2 musim yaitu musim penguhajan dan musim kemarau.
 
Pertama, saat ini Indonesia yang merupakan negara agraris dan menjadi lumbung hortikultura (sayur, buah-buahan dan bunga), namun anehnya malah mengalami kelangkaan. Masalah kelangkaan dan tingginya harga produk-produk hortikultura sesungguhnya tidak perlu terjadi di Indonesia.
Sebagai negara yang memiliki dua musim sebenarnya potensi Indonesia sebagai penghasil produk-produk unggulan hortikultura hampir saja tidak memiliki pesaing. Artinya bahwa potensi Indonesia sungguh besar, yatu memiliki kekayaan sumberdaya komoditas pertanian yang tinggi serta ketersediaan lahan pertanian yang lebih luas. Variasi topografi dan model demografi untuk menghasilkan produk yang bervariasi juga terbuka luas.

Kedua, dengan merujuk pada pendapat Sabiq Carebesth, Pemerhati masalah Ekonomi Politik Pangan Jurnal Sosial Agraria “Agricola”, dalam sebuah sistem, kegiatan kerja bertani tidak lagi semata-mata dilihat sebagai sebuah kebudayaan bercocok tanam, melainkan bisnis. Bisnis lalu menyangkut politik berupa lobi-lobi, patgulipat, kongkalikong, aturan pun diselenggarakan; siapa yang berhak memproduksi, mengedarkan, dan siapa yang masuk dalam “perencanaan” sebagai sasaran pengguna sekaligus disebut korban. Pengedarnya adalah pebisnis, yaitu mereka yang punya naluri, tenaga dan modal untuk menjadikan benih sebagai sumber keuntungan.

Keuntungan itu lalu diakumulasi. Akumulasi keuntungan itu lalu terkonsentrasi hanya di tangan segelintir para pebisnis yang menciptakan sistem monopoli. Monopoli lalu menjadikan sistem perbenihan dan pertanian khususnya membangun oligopoli, Lantas siapa target sasaran bisnisnya yang kemudian jadi korban?  Yang jadi korban adalah para Petani kecil yang pada dasarnya masuk golongan ekonomi lemah dan kecil.
Merekalah “target” dari eksploitasi sistematis pemiskinan yang akan berlangsung pelan-pelan melalui politik ketergantungan. Mula-mula benih, lama-lama pestisidanya, lalu yang paling parah adalah sistem bercocok tanamnya, lalu corak bermasyarakatnya.

Maka, monopoli tak terhindarkan, kartel menerapkan paham stelsel. Kartel domestik pada industri benih di dalam negeri telah diduga dilakukan World Economic Forum Partnership on Indonesian Sustainable Agriculture (WEFPISA) yang beranggotakan perusahaan-perusahaan multinasional yang telah lama mengincar pasar benih dan pangan di Indonesia.
Share:

Pertanian Monokultur

Sebagian besar rakyat Indonesia terdrir atas petani. Pertanian telah memberikan sumbangan devisa yang besar untuk Negara. Bahkan beberapa jenis hasil pertanian Indonesai telah dikenal dunia. Rangkain pulau di Nusantara telah banyak yang dirubah menjadi lahan atau kawasan pertanian. Bertani merupakan tata cara kehidupan orang Indonesia. Menurut perkiraan kasar pada tahun 1973, dari 45.000.000 tenaga kerja di Indonesia, kurang lebih terdapat 30.000.000 penduduk yang berprofesi sebagai petani (Soeriaatmadja, 1997).
Secara garis besar, orang Indonesia telah memanfaatkan alam untuk kegiatan pertanian. Umumnya penduduk Indonesia telah tergolong dalam golongan cara bertani berladang (membuka hutan). Sehingga menurut Tohir (1991), hanya berkisar 5,7% dari luas daratan seluruh Indonesia yang merupakan tanah persawahan. Seluruh tanah sawah yang ada di Indoenesia yaitu sekitar 4 juta hektar, 55% merupakan sawah irigasi, lebih kurang 37% adalah tnah sawah tadah hujan, 3% adalah sawah lebak dan sisanya merupakan sawah pasang surut (Tohir, 1991).
Pada lahan sawah terdapat ekosistem. Ekosistem sawah baik sawah pertanian di Indonesia maupun tempat lain merupakan ekosistem yang mencirikan ekosistem pertanian sederhana dan monokultur berdasarkan atas komunitas tanaman dan pemilihan vegetasinya. Selain itu ekosistem yang berada di sawah bukanlah ekosistem alami, akan tetapi sudah berubah sehingga akan sangat rentan terjadi ledakan suatu populasi di daerah tersebut.
Menurut Soeriaatmadja (1997), pertanain memiliki tujuan umum yaitu memperoleh produksi maksimum per unit luas tertentu dari luas tanah pertanian serta mencegah penurunan kapasitas produksi sistem pertanian. Dengan demikian sasaran strategi pertanian adalah dengan mengubah komunitas alam yang stabil dan keragaman hayati tinggi namun kurang bermanfaat bagi manusia menjadi kawasan yang kurang keragaman hayatinya (monokultur) namun bermanfaat bagi manusia. Strategi tersebut sering dikenal dengan sistem pertanian monokultur.
Definisi dari pertaian monokultur adalah pertanian yang memiliki penataan tanaman secara tunggal sepanjang umur tanaman tertentu pada suatu lahan. Ada beberapa penataan pertanaman secara tunggal (monokultur) pada lahan sawah, diantaranya adalah penataan bergiliran secara berurutan dan bergiliran secara berjajar. Untuk sistem bergiliran secara berurutan, sistem tersebut dilakukan pada musim hujan, yakni tanah sawah ditanami padi. Sedangkan pada musim kemarau lahan ditanami palawija atau bero tergantung pada keadaan tanah, pengairan, iklim, dan sebagainya. Untuk sistem bergiliran secara berjajar atau pararel, sistem tersebut dilakukan dengan mengelola sebidang tanah sawah yang luas dengan cara pada musim rendengan seluruh sawah ditanami padi, tetapi pada musim kemarau ada bagian yang terpaksa dikosongkan, ada yang ditanaman berbagai palawija. Cara penataan menggunakan sistem berjajar dibedakan menjadi dua, yaitu penataan pertanaman berladang dan penataan tanaman secara glebengan di atas tanah sawah tadah hujan (Soetriono et. al., 2006).
Share:

Hubungan Agroekologi dan Agrolanscape

Kegiatan pertanian selalu berhubungan dengan faktor-faktor agroekologi, yang meliputi komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi dalam agroekosistem. Warren (2008:17) mengatakan bahwa dalam banyak  sistem pertanian yang dikelola manusia,  Tanaman budidaya yang di tanam akan berinteraksi dengan ekologi disekitarnya. Mekanisme ekologi yang terjadi ditentukan  oleh komposisi tanaman  pertanian dan juga ditentukan oleh faktor abiotik seperti kimia tanah, iklim, dam manajemen atau pengolahan pertanian (Warren 2008:18).
Sedangkan Pokok bahasan utama dari ekologi landscape adalah untuk memahami pengaruh pola dari beragamnya spesies yang ada dan proses yang terjadi pada landscape tersebut (Warren 2008:164). Menurut Warren (2008:165),  spesies akan saling berinteraksi dengan landscape yang mereka tinggali, dan kemungkinan hubungan tersebut menjadi faktor penting bagi keberlangsungan hidup spesies tersebut.
Landscape mempunyai dua elemen penting, yaitu berhubungan dengan bagaimana lingkungan dapat berubah baik secara waktu maupun ruang, maupun apa dampak dari  perubahan  lingkungan tersebut dengan spesies tertentu (Warren, 2008:172).
Dalam  sebuah  ekosistem, ada berbagai  macam tipe spesies yang bisa  diklasifikasikan jika ditinjau  dari mobilitas dan tingkat kelahirannya. Spesies yang memiliki mobilitas tinggi lebih mudah terkolonisasi dari pada spesies yang tidak memiliki mobilitas tinggi. sedangkan spesies yang memiliki tingkat kelahiran yang rendah akan rentan terhadap landscape yang sering berubah-ubah, contohya adalah landscape pertanian. (Warren 2008:165).
Dalam dunia pertanian, hubungan antara spesies dengan landscapenya merupakan hal yang  penting. Hal ini dikarenakan landscape dari lahan pertanian merupakan yang paling dinamis dari semua jenis landscape. Hal tersebut ditambah fakta bahwa pertanian merupakan kegiatan yang berhubungan dengan mengatur populasi dari berbagai spesies, mendukung berberapa spesies  untuk tumbuh, dan mengeleminasi spesies yang tidak  diinginkan (Warren, 2008:169).
Namun demikian,beberapa spesies yang hidup di lingkungan pertanian dapat berkembang dengan baik  pada tempat tertentu,  namun tidak dapat berkembang baik pada tempat yang lain (Warren 2008:172). Maka dari itu, untuk memahami bagaimana hubungan antara populasi sebuah spesies baik yang dibutuhkan dalam pertanian maupun yang tidak dibutukan pada lahan pertanian (farmed environtment), maka diperlukan pemahaman mengenai  bagaimana lingkungan dapat berubah baik secara waktu maupun ruang, maupun apa dampak dari  perubahan  lingkungan tersebut dengan spesies tertentu (Warren 2008:172).
Sehingga jalas diketahui hubungan antara agroekologi terhadap agrolandscape
Dibidang pertanian, keuntungan dengan adanya model landscape adalah mengenai kebijakan dalam penggunaan lahan. Lebih lanjut,adanya ilmu mengenai landscape dapat mempredikisi dampak buruk lingkungan, seperti perubahan populasi burung dikarenakan bertambahnya lahan tanah untuk ladang (arable land). Lebih detailnya, keuntungan dari adanya landscape adalah dapat digunakan sebagai simulasi bagi para petani untuk menentukan lahan yang cocok untuk produksi pertaniannya (Warren, 2008:174).
Terlebih lagi, perkembangan landscape persawahan (farmed landscape), tidak hanya sebatas hubungan ekologi  sederhana antara komponen biotik dan abiotik semata, namun juga mencangkup hubungan holistik atau menyeluruh mengenai ekologi berupa suplai air murni, pencegahan banjir, penjagaan habitat alami, dan mendukung komunitas perkampungan. Pemahaman  yangbaru akan ilmu landscape khususnya dibidang ekologi  nantinya akan memberikan pandangan dan  kebijakan yang berbeda dalam penggunaan lahan (Warren dan Topping dalam Warren, 2008:174).
Dalam lingkup persawahan, terjadi proses ekologi mengenai hewan, tumbuhan, nutrisi, pestisida residu, dan  lain  lain. Spesies yang hidup dalam lahan pertanian cenderung untuk memiliki mobilitas  tinggi dan kurang memiliki habitat yang spesifik jika dibandingkan dengan spesise yang hidup di alam bebas.
Tipikal dari Agro-landscape (agricultural landscape) adalah dibangun  dari  beberapa   petak kecil habitat semi-alami.Lebih lanjut Warren (2008) mengatakan bahwa pada pada tatanan landscape ekologi pertanian (agricultural landscape), spesies yang mempunyai tingkat kelahiran  yang rendah  akan rentan terhadap  kepunahan dimana kegiatan pertanian secara umum mengganggu habitat spesies tertentu. Maka dari itu, kemampuan populasi untuk mengembalikan keadaan populasi seperti semula setelah gangguan dari kegiatan pertanian menjadi perang penting dalam kondisi landscape lahan pertanian yang dinamis.
Pertanian berswawasan agrolansclape diperlukan  beberapa spesies  dominan yang bertanggung  jawab  atas produksi biomassa dan kedatangan  spesies tambahan memeberikan  pengaruh  yang tidak signifikan untuk  stabilitas produksi dan  komunitas (Warren 2008:16)
Share:

Hubungan Antara Agroekologi dan Pertanian Berkelanjutan

Kegiatan pertanian selalu berhubungan dengan faktor-faktor agroekologi, yang meliputi komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi dalam agroekosistem. Warren (2008:17) mengatakan bahwa dalam banyak  sistem pertanian yang dikelola manusia,  Tanaman budidaya yang di tanam akan berinteraksi dengan ekologi disekitarnya. Mekanisme ekologi yang terjadi ditentukan  oleh komposisi tanaman  pertanian dan juga ditentukan oleh faktor abiotik seperti kimia tanah, iklim, dam manajemen atau pengolahan pertanian. Sehingga jelas terdapat keterkaitan antara Agroekologi dengan pertanian berkelanjutan, terlebih lagi pada pertanian modern.  Hal tersebut dikarenakan  prinsip prinsip Agroekologi berkaitan erat dengan masalah pertanian.
Lebih lanjut menurut (http://www.agroecology.org/), Agroekologi membahas tentang  “A whole-systems approach to agriculture and food systems development based on traditional knowledge, alternative agriculture, and local food system experiences, yang dapat diartikan sebagai kesatuan sistem yang berhubungan dengan pertanian dan berkembangan sistem pangan berdasarkan kearifan lokal, sistem pertanian  alternatif, dan pengalaman sistem pangan lokal.
Berdasarkan penjelasan sebelumnya telah diketahui bahwa masa depan pertanian bergantung pada konservasi lingkungan. Hal tersebut senada  dengan pernyataan dari (Warren 2008:63) bahwa masa depan pertanian bergantung pada konservasi lingkungan dan begitu  juga sebaliknya, maka diperlukan adanya pendekatan pertanian yang berkelanjutan. Sehingga  dapat disimpulkan bahwa dalam pertanian modern,  agroekologi pertanian sangat bergantung dan memiliki  hubungan dengan Sustainable Agriculture atau pertanian berkelanjutan. Pentingnya hubungan antara Agroekologi dan pertanian berkelanjutan (Sustainable Agriculture) juga diungkapkan oleh Warren (2008:16) bahwa pertanian modern yang bersifat monokultur dan berkeanekaragaman hayati rendah membutuhkan pendekatan rasional mengenai konservasi yang harus beretika dan berorientasi jangka panjang, ketimbang berorientasi pada kebutuhan sesaat.
Share:

AGROFORESTRI DI INDONESIA

Agroforestry merupaka ilmu baru  yang ditemukan tetapi merupakan teknik pertanian lama. Teknik ini bukan dari penelitian tetapi perilaku petani yang memanfaatkan lahannya dengan menanam banyak tanaman yang berbeda dan terdapat tanaman semusim dengan tanaman tahunan. Agroforestry merupakan gabungan dari ilmu kehutanan dan agronomi yang memadukan usaha kehutanan dengan usaha tanaman produksi untuk menciptakan keselarasan antara intesifikasi pertanian dan pelestarian hutan. Semua itu berjalan seiring waktu dan tidak pernah ada yang mencatat proses dan hasilnya teknik agroforestry ini.
  • Jenis agroforestry
    • Sistem agroforestry sederhana.
Suatu sistem pertanian dimana pepohonan ditanam secara tumpang sari dengan satu atau lebih jenis tanaman semusim tetapi kurang dari lima jenis. Sistem ini, dalam versi Indonesia, dikenal dengan “taungya” yang diwajibkan di areal hutan jati di Jawa dan dikembangkan dalam rangka program perhutanan sosial dari Perum Perhutani. Pada lahan tersebut petani diijinkan untuk menanam tanaman semusim di antara pohon-pohon jati muda. Hasil tanaman semusim diambil oleh petani, namun petani tidak diperbolehkan menebang atau merusak pohon jati dan semua pohon tetap menjadi milik Perum Perhutani. Bila pohon telah menjadi dewasa, tidak ada lagi pemaduan dengan tanaman semusim karena adanya masalah naungan dari pohon. Jenis pohon yang ditanam khusus untuk menghasilkan kayu bahan bangunan (timber) saja, sehingga akhirnya terjadi perubahan pola tanam dari sistem tumpangsari menjadi perkebunan jati monokultur.
  • Sistem agroforestry kompleks
Suatu sistem pertanian menetap yang melibatkan banyak jenis tanaman tahunan yang diselingi dengan tanaman semusim, tanaman tahunan ini berbasis pohon baik sengaja ditanam atau tumbuh alami. Jumlah spesies yang ada lebih dari 5 dan kondisinya menyerupai hutan.
  • Agroforestry tradisional
Agroforestry yang terbentuk tanpa mengadopsi teknk-teknik dari luar dan benih-benh dari luar untuk didatangkan mengisi agroforestry. Agroforestry tradisional ini hanya memanfaatkan apa yang ada disitu dan menggunakan teknik seadanya yang diketahui.
  • Agroforestry modern
Agroforestry yang terbentuk dengan mengadopsi teknik-teknik dari luar dan benih-benihnya diproduksi dari luar. Bertujuan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Karena teknik dan benihnya merupakan hasil dari penelitian dan pengembangan.

  • Keuntungan dari sistem agroforestry
Agroforest mempunyai fungsi ekonomi penting bagi masyarakat setempat. Peran utama agroforest bukanlah produksi bahan pangan, melainkan sebagai sumber penghasil pemasukan uang dan modal. Misalnya: kebun damar, kebun karet dan kebun kayu manis menjadi andalan pemasukan petani. Bahkan, agroforest seringkali menjadi satusatunya sumber uang tunai bagi keluarga petani. Agroforest mampu menyumbang 50 % hingga 80 % pemasukan dari pertanian di pedesaan melalui produksi langsungnya maupun tidak langsung yang berhubungan dengan pengumpulan, pemrosesan dan pemasaran hasilnya. Karena mereka bisa panen tiap waktu sebab tanaman yang ditanam berbeda-beda. Banyak manfaatnya dalam penggunaan sistem agroforestry seperti mengurangi efek rumah kaca, memperbaiki iklim mikro, tempat habitat musuh alami dan beberapa hewan, lapangan pekerjaan dan banyak lagi.
  • Tantangan agroforestry
    • Kebutuhan lahan meningkat seiringnya jumlah penduduk yang membutuhkan sandang dan pangan.
    • Jaminan penguasaan pohon dan lahan dengan perhutani sehingga  pengguna lahan yang menanam takut buat menanam tanaman tahunan.
    • Ketersediaan data terbatas karea hasil dan prosesnya tidak penah dicatat.
    • Kemungkinan untuk dilaksanakan ditempat lain belum tentu sama dengan ditempat yang mengalami keberhasilan atau kegagalan.
    • Agroforestry tidak mudah dikenali.
    • Agroforestry seperti rimba.
    • Produktifitasnya sulit diukur.
    • Agroforestry bukan sistem “modern”.
FUNGSI DAN PERAN AGROFORESTRY PADA SKALA LANDSCAPE
  • Alih guna lahan mengakinbatkan banyak masalah saat ini, semua karena ada penyebabnya. Penebangan liar yang semakin banyak di negeri ini tidak didampingi dengan penanaman dan pelestarian untuk menggantikannya. Di bawah ini alasan alih guna lahan :
1)    Perluasan lahan pertanian yang semakin tinggi karena kebutuhan pangan yang cukup tinggi.
2)    Nilai ekonomi kayu yang sangat tinggi dan permintaan pasar terhadap kayu juga tinggi.
3)    Progam perluasan pemukiman karena seiring bertambahnya penduduk.
4)    Tempat penampungan air yang dibutuhkan.
5)    Penggalian bahan tambang sangat bernilai tinggi karena di Indonesia penuh dengan SDA.
6)    Bencana alam yang kerap terjadi.
  • Akar masalah alih guna lahan
  1. Tekanan penduduk karena bertambahnya penduduk dan perubahan pola kebutuhan misalnya, menginginkan kayu dan rumah dipuncak
  2. Tekanan hutang dari luar negeri. Indonesia bisa mencari hutang di luar negeri dengan mudah karena SDA yang tinggi disini. Sehingga negara yang memberi pinjaman yakin Indonesia mampu membayarnya dengan SDA yang ada.
  • Fungsi agroforestry pada tingkat landscape
    • Fungsi biofisik dan lingkungan
1)    Emisi gas rumah kaca bisa turun.
2)    Keanekaragaman hayati meningkat.
3)    Sifat fisik permukaan tanah menjadi baik.
4)    Sistem hidrologi terjaga.
5)    Pelestarian musuh alami dan pengendalian hama penyakit.
  • Fungsi sosial ekonomi
1)    Sumber pendapatan dari aneka produk agroforestry.
2)    Lapangan kerja meningkat.
3)    Jasa lingkungan untuk petani dan daerah.

  • Sosial budaya
1)    AF dan aspek penguasaan lahan.
2)    AF sebagai pelestarian identitas kultural.
3)    AF dan kelembagaan lokal.
4)    AF sebagai pelestarian pengetahuan loka.
Biodiversitas
Biodiversitas sangat penting dengan begitu banyak manfaatnya yang akan didapatkan. Manfaat yang didapatkan dari segi biofisik, ekonomi dan sosial. Manfaat yang didapatkan :
  • Biofisik
1)    Emisi gas rumah kaca bisa turun.
2)    Keanekaragaman hayati meningkat.
3)    Sifat fisik permukaan tanah menjadi baik.
4)    Sistem hidrologi terjaga.
5)    Pelestarian musuh alami dan pengendalian hama penyakit.
6)    Kesuburan tanah terjaga.
  • Ekonomi
1)    Pendapatan petani meningkat dan produksi merata karena panennya yang berbeda-beda.
2)    Membuka lapangan pekerjaan.
3)    Kecilnya gagal panen.
4)    Input untuk pupuk berkurang.
  • Sosial
1)    Mendapatkan jasa lingkungan.
2)    Pelestarian identitas lokal seperti tanaman endemik dll.
3)    Kelembagaan yang berbeda dengan penggunaan tanaman semusim.
Saat ini begitu basarnya penggunaan hutan sebagai lahan persawahan dan pemukiman mengakibatkan biodiversitas menurun, diperlukan adanya konservasi untuk memperbaiki.

  • Konservasi yang ditawarkan tetap memperhatikan aspek sosial,ekonomi dam biofisik. Pertama yang dilakukan sosialisasi dengan masyarakat setempat agar tidak terjadi salah paham dan bertujuan untuk keberlanjutan program konservasi.
  • Menampung keinginan masyarakat setempat dan mencoba mengabulkan keinginan dan menggabungkan dengan konsepan dari pengkonservasi dengan memperhitungkan positif dan negatif dari setiap apa yang dilakukan.
  • Menganalisis akar masalah yang dihadapi masyarakat dalam pengembangan pertanian. Masalah-masalah yang didapatkan akan dicari solusinya. Solusi ydibahas dengan mendapatkan manfaat dari segi sosial, ekonomi dan lingkungan.
  • Semua itu melalui tahapan yang sistematik agar tidak terjadi kesalahan yang besar dan mengetahui perkembangannya. Tahapanya : perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi
Share:

HASIL ANALISI JURNAL PERTANIAN PENGOLAHAN LAHAN GAMBUT



Gambut adalah jenis tanah  yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang setengah membusuk, oleh sebab itu, kandungan bahan organiknya tinggi.
Indonesia memiliki lahan gambut terluas di antara negara tropis, yaitu sekitar 21 juta ha atau 10.8% dari luas daratan Indonesia. Lahan rawa gambut sebagian besar terdapat di empat pulau besar yaitu di Sumatera 35%, Kalimantan 32% Papua 30% dan sebagian kecil ada di Sulawesi, hal tersebut Indonesia adalah salah Negara yang memiliki lahan gambut sekitar 6 juta ha, dan nomor 3 terbesar di dunia.
Pengembangan lahan gambut sebagai lahan pertanian terdapat berbagai kendala baik fisik, kimia maupun biologis. Lahan gambut merupakan lahan yang sangat fragile dan produktivitasnya sangat rendah. Kendala sifat fisik gambut yang paling utama adalah sifat kering tidak balik (irriversible drying), sehingga gambut tidak dapat berfungsi lagi sebagai koloid organik. Maka sebab itu para petani di lahan gambut harus melakukan beberapa proses agar lahan gambut tersebut dapat di manfaatkan sebagaimana mestinya.
Beberapa sifat fisik yang perlu diperhatikan kaitannya dengan konservasi tanah gambut adalah kadar air serta kapasitas memegang air. Kadar air lahan gambut ini sangat tinggi oleh sebab itu pertanian yang cocok di terapkan di lahan gambut adalah pertanian sawit, atau jenis tanaman yang memerlukan banyak air.
Karakteristik kimia lahan gambut sangat ditentukan oleh kandungan , ketebalan,dan jenis mineral pada substratum (di dasar gambut), serta tingkat dekomposisi gambut. Kandungan mineral gambut di Indonesia umumnya kurang dari 5% dan sisanya adalah bahan organik. Maka dari itu lahan gambut di Indonesia memiliki sifat asam dan hal itu juga kurang baik di gunakan sebagai lahan pertanian sebelum terlebih dahulu di lakukan sebuah konservasi lahan.
Ada dua faktor penting yang membatasi tipe penggunaan lahan yaitu ketebalan gambut dan lapisan sulfidik (pirit) serta jenis bahan mineral yang ada dibawah gambut, yaitu liat marine atau pasir kuarsa. lahan gambut dangkal dengan kedalaman pirit > 50 cm tergolong sesuai untuk tanaman padi maupun palawija dengan syarat tetap memperhatikan persyaratan kualitas/karakteristik lahan lainnya yang diperlukan oleh tanaman tersebut. Sedangkan pada lahan gambut dalam untuk tanaman tanaman perkebunan, dengan catatan bukan pada bagian dome dari gambut tersebut.
Pemanfaatan lahan gambut untuk usaha pertanian, didahului dengan tindakan reklamasi, dilakukan dengan pembuatan saluran drainase untuk membuang air berlebih sehingga tercipta lingkungan tanah yang cocok untuk tanaman tertentu. Oleh sebab itu lahan gambut bisa di tanamani lahan untuk bercocok tanam padi dengan catatan di lakukan reklamasi terlebih dahulu.
KRITIK
Lahan gambut memang lahan yang susah untuk di buat lahan pertanian sehingga jika di gunakan sebagai lahan pertanian pangan seperti persawahan, maka hasilnyapun kurang bagus, dan hal tersebut perlu melakukan beberapa tahapan dan proses reklamasi lahan yang membutuhkan waktu yang relative lama untuk menjadikan lahan tersebut dapat di jadikan lahan pertanian pangan pada semestinya,
SARAN
Lahan gambut adalah lahan yang mempunyai salinitas kadar airnya tinggi sehingga menjadikan sifat dan karakteristiknya masam dan basah, maka dari itu kita perlu meninjau kembali tanaman apa yang paling cocok di terapkan atau di tanam di lahan gambut tersebut, salah satunya kelapa sawit, karena kelapa sawit adalah tanaman yang banyak memelukan air atau rakus terhadap air.
Share:

Wikipedia

Search results