.comments-page { background-color: #00BFFF;} #blogger-comments-page { padding: 0px 5px; display: none;} .comments-tab { float: left; padding: 5px; margin-right: 3px; cursor: pointer; background-color: #f2f2f2;} .comments-tab-icon { height: 14px; width: auto; margin-right: 3px;} .comments-tab:hover { background-color: #eeeeee;} .inactive-select-tab { background-color: #d1d1d1;} -->

Saturday, December 8, 2012

MAKALAH LAHAN BASAH


MAKALAH
GEOMORFOLOGI
BENTANG LAHAN DAERAH BASAH


Pembimbing:
Yuli Ifana Sari, S. Pd
Oleh:
DEDI IRAWAN


UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG
2012
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL..............................................................................................        i
KATA PENGANTAR............................................................................................       ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................      iii
BAB  I      PENDAHULIAN.................................................................................      1
A.    Latar Belakang.............................................................................................       1
B.     Permasalahah...............................................................................................       1
C.     Tujuan..........................................................................................................       2
BAB II     PEMBAHASAN...................................................................................       3
A.    Bentuk Lahan Basah....................................................................................       3
B.     Air Tanah.....................................................................................................       4
C.     Mata Air (spring).........................................................................................       5
D.    Sungai..........................................................................................................       6
E.     Pola Aliran Sungai.......................................................................................       7
F.      Topografi.....................................................................................................       8
BAB III PENUTUP................................................................................................     13
A.    Kesimpulan..................................................................................................     13








iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, berkat rahmat dan karunia-Nya, makalah ini bisa terselesaikan.
Sesuai dengan landasan, program, dan pengembangan dalam tujuan pengajaran Teknologi informasi dan komunikasi adalah agar memiliki pengetahuan, dan keterampilan untuk mengembangkan kemampuan tentang internet.
Adapun penyajian materi di dalam buku makalah ini diupayakan sederhana dan seefektif mungkin tanpa melupakan tujuan membina kemampuan berfikir analitis dan konstruktif untuk mengetahui pemahaman perkembangan dalam mempelajarinya.
Akhirnya, kami menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah membantu sehingga buku makalah ini dapat diselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memenuhi fungsinya.









Penulis
ii
BAB II
PENDAHULUAN

 A. Latar Belakang
Bumi bersifat dinamis karena dari waktu kewaktu bumi selalu mengalamiperubahan baik struktur, formasinya maupun bentang lahan(landscape).
Perubahanyang dapat kita rasakan dan lihat secara langsung adalah perubahan bentang lahan (landscape)
Banyak faktor yang dapat mengakibatkan perubahan bentuk lahan inibaik yang bersumber dari tenaga endogen maupun tenaga eksogen.Air merupakan salah satu dari sekian banyak faktor yang menyebabkanperubahan bentuk lahan khususnya terbentuknya bentang lahan basah (fluvial)
Selainmempunyai manfaat yang penting bagi kehidupan air juga mempunyai perananpenting bagi terbentuknya bentang lahan. Meskipun membutuhkan waktu yang lamauntuk mengubah bentang lahan, tetapi air bersifat konstan dalam mengubah bentanglahan. Bentuk-bentuk bentang lahan dipermukaan bumi terjadi oleh erosi ataupengendapan. Air yang berasal dari aliran hujan begerak turun melalui lereng-lereng, jika lereng tersebut terdiri dari lapisan yang tipis maka berubah menjadi alur alur yangmakin besar menjadi sungai. Jika gerakan alirannya cepat maka kekuatan pengikisnyaakan besar.Sehingga untuk lebih memperjelas bagaimana semua proses itu terjadi perludibahas bagaimana semua bentang lahan itu terjadi khususnya yang disebabkan olehfaktor air atau bentang lahan basah(fluvial).

B. Rumusan Masalah
1. Faktor apa sajakah yang mempengaruhi terbentuknya lahan fluvial?
2. Faktor apa sajakah yang mempengaruhi kecepatan aliran?
3. Bagaimana pengaruh pola aliran sungai terhadap terbentuknya lahan fluvial?
4. Bagaimanakah contoh bentuk lahan fluvial dan bagaimana proses terjadinya?







1
C. Tujuan
1. Mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi terbentuknya lahan fluvial.
2. Mengetahui faktor yang mempengaruhi kecepatan aliran sungai.
3. Mengetahui besarnya pengaruh pola aliran sungai terhadap terbentuknya lahafluvial.
4. Mengetahui jenis-jenis lahan fluvial dan proses terjadinya



























2
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Bentuk Lahan Basah
Bentuk lahan basah (fluvial) adalah bentuk lahan yang terjadi akibat pengaruhaktifitas aliran (streams).
Aliran air sangat penting baik didaerah humit maupun didaerah arid.Faktor-faktor yang mempengaruhi aktifitas aliran.
Worcoster membedakan faktor-faktor aktifitas aliran menjadi lima yaitu:
1.      curah hujan (presipitasi),makin tinggi aliran makin intensif dan cenderungpermanen, beada didaerah basah (humede).
2.      porositas dan permeabilitas bauan, makin besar aliran makin kecil karena air diserap kebawah permukaan permukaan, sehingga proses/aktifitas fluvial menjadilambat, hal ini semakin lambat apabila vegetasi penutup semakin banyak.
3.      daerah berbauan kapur, aktifitas aliran terjadi dibawah permukaan sebagai underground run off, sedangkan dipermukaan mengalami persaingan aliran, Peristiwa ini berlangsung karena air masuk melewati diaklas.
4.      Daerah kering (arid) dengan vegetasi kurang, didaerah ini aktivitas aliran besarsehingga menyebabkan intensitas graduasi juga tinggi.
5.      daerah impermeable, aktifitas aliran bertambah sebagai surface run ofkarena airtertahan oleh lapisan impermeable dibawah permukaan.

Dalam membahas sterean kita juga harus menguraikan tentang stadia/umursteream dengan karakteristiknya masing-masing stadia pada bentuk lahan asal flivial.Beberapa stadia tersebut adalah:
1.      Stadia muda
Berdasarkan prosesnya bentuk lahan ini belum banyak dipengaruhi oleh factor perusak, kenampakan masih asli. Struktur asli bentuk lahan ini masih jelas terlihat. Karakteristiknya adalah sistem aliran (steream) sedikit,gradient tiggi, mempunyai inggir-inggir pemisah yang tinggi dan lebar, dinding lembah terjal dan irisan melintang berbentuk huruf V, sepanjang aliran terdapat air terjun,dan aktivitas erosi sebagian besar vertikal.

3
2.      Stadia dewasa
Struktur bentuk lahan ini sudah mulai tidak nampak sebagai akibat faktorpe rusak yang bekerja lebih intensif. Karakter stadia ini adalah stream aliran makin banyak, kadang–kadang aliran induk (main streams) sudah menunjukkan stadia tua yang ditandai oleh genangan dibeberapa tempat, air terjun rendah, dan lembah melandai menyerupai huruf U sebagai akibat erosi lateral.
3.      Stadia tua
Pada stadia ini pengaruh tenaga eksogen sangat kuat, sehingga kadang kadangstruktur asli telah hilang. Karakteristiknya adalah: semua aliran rata, aliran sangat lambat sehingga daya angkut material kecil, ditemukan meander, danau apal kuda(oxbou lake), inggir pemisah hilang atau kalau ada rendah dan sempit karena erosi lateral, kadang-kadang dijumpai bukit-bukit sisi terpisah kalau batuannya resisten.

B.     Air tanah
Air tanah adalah air yang bergerak dalam tanah, dapat berupa air lapisan, yang mengisi ruang-ruang pada agregat tanah atau air celah yang mengisi retakan-retakan tanah/batuan.
Proses terjadinya air tanah adalah air yang ada dipermukaan (baik dari air hujan,singai, maupun danau/cekungan) yang terinfiltrasi kedalam tanah, setelah mencapai horizon tanah sebagian mengalir secara lateral menyusuri pelapisan horizon tanah(interflow/subsurface flow), sebagian yang lain akan tinggal didalam masa tanah sebagai moisture continent, dan sisanya mengalir kebawah secara vertikal(percolation), yang selanjutnya air ini menjadi air tanah.
Air permukaan (aliran airsungai,air danau/waduk, dan genagan air permukaan lainnya) dan air tanah pada prinsipnya mempunyai keterkaitan yang erat, serta keduanya mengalami proses pertukaran yang berlangsung terus menurus, selama musim kemarau kebanyakan air sungai masih mengalirkan air, air tersebut sebagian besar berasal dari dalam tanah(baseflow) terutama dari daerah hulu sungai yang umumnya merupakan daerah  resapan yang didominasi oleh daerah bervegetasi(hutan). Selain faktor-faktor diatas permukaan tanah, ada faktor yang tidak kalah pentingnya dalam mempengaruhi proses terbentuknya air tanah yaitu formasi geologi.
Formasi geologi adalah formasi batuan atau mineral yang berfungsi menyimpan air tanah dalam jumlah besar.

4
Dalam mempelajari proses terbentuknya air tanah, formasi geologi tersebut dikenal sebagai akifer (aquifer). Dengan demikian aquifer padadasarnya adalah bentang air yang ada didalam tanah.  Aquifer dibedakan menjadi dua yaitu:
1.      Aquifer bebas
Aquifer bebas yaitu lapisan lolos air yang hanya sebagian terisi oleh air, dan berada diatas lapisan kedap air. Permukaan air tanah pada aquifer ini disebut dengan water table yaitu permukaan air yang mempunyai tekanan hydrostatic sama dengan tekanan atmosfer. Aquifer bebas ini dapat terjadi ecara lokal yang disebut dengan perched aquifer yang terjadi apabila pada suatu formasi batuan yang lolos airterbentuk batuan padas lokal.
2.      Aquifer tertekan/terkekang
Aquifer tertekan yaitu aquifer yang seluruhnya jenuh air yang dibatasi oleh lapisan kedap air baik diatas maupun dibawah, serta mempunyai tekanan yang jauh lebih besar dari pada tekanan atmosfir. Keadaan demikian memungkinkan terjadinya permukaan air pada formal tertekan berada diatas water level, sehingga dapat membentuk macam-macam sumur yang dapat terbentuk yaitu:
a.       Artesis well
Yaitu sumur yang dibuat ampai mencapai aquifer tertekan sehingga permukaan airnya naik beada diatas water table.
b.      Flowing well
Yaitu sumur artesis yang mana permukaan tanahnya berada dibawah muka peisometric, sehingga air dapat mengalir atau memancar dengan sendirinya. Peisometric surface adalah permukaan air pada aquifer tertekan. Berdasarkan sifatnya batuan dibumi dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu:
1.      Batuan lolos air (permeable)
2.      Batuan setengah lolos air (semi permeable)
3.      Batuan tidak lolos air (impermeable)

C.    Mata Air (Spring)
Mata Air adalah tempat keluarnya air tanah di permukaan tanah. Ada lima jenis mata air, yaitu:
·         Mata Air Lapisan, terdapat pada lapisan batuan perangkap antara lapisanimpermiabel.
5
·         Mata Air Celah, terdapat pada batuan jenuh yang tersingkap.
·         Mata Air Sesar, terdapat pada lapisan tembus air yang menyesar sungkupterhadap batuan inpermiabel.
·         Mata Air Bendung, terdapat pada lapisan tembus air yang terbendung olehkisaran tektonik atau vulkanik.
·         Mata Air Kompleks Batuan Jenuh Air, terjadi karena membanjirnya kompleksbatuan.
D.    Sungai
Sungai adalah sistem aliran yang terdapat di permukaan bumi yang berasal darisumber air.
1.      Klasifikasi Sungai
Berdasarkan sifat khas yang dimilikinya sungai dibedakan menjadi:
a.       Sungai Permanen, yaitu sungai yang mengalir sepanjang tahun, karena pasokan airnya tetap.
b.      Sungai Intermitten, yaitu sungai yang mengalir secara periodik. Sungai ini dibedakan menjadi dua berdasarkan sumber airnya, yaitu:
1.      Spring Fed Intermittent River 
2.      Surface Fed Intermittent River 
c.       Sungai Epherical (Ephermal) yaitu sungai yang mengalir apabila mendapat respon air hujan dan tidak memperoleh dari sumber atau es yang mencair. Berdasarkan sifat genetiknya sungai dibedakan menjadi:
1.      Bentuk asal DAS:
Daerah Aliran Sungai (DAS) ialah istilah geografi mengenai sebatang sungai, anak sungai dan area tanah yang dipengaruhinya.
a.       Sungai Konsekuen, merupakan sungai yang alirannya mempunyai posisiseperti lereng aslinya pada waktu terbentuk. Terdapat pada daerah pengangkatan yang berstadia muda.
b.      Sungai Subsekuen, merupakan sungai yang mengalir pada zona yang terdiri dari batuan lunak dan mengalir berdasarkan arah formasi daerah itu (strike).


6
c.       Sungai Obsekuen, arah alirannya bertentangan dengan lerang formasi (dip) karena erosi yang hebat.
d.      Sungai Resekuen, yaitu sungai yang arah alirannya sama dengan sungaikonsekuen yang terbentuk karena adanya pengikisan Igir atau pegunungan.
e.       Sungai Insekuen, yaitu sungai yang arah alirannya tidak menentu dan mempunyai cabang atau anak sungai yang banyak.
2.      Berdasarkan Formasi Geologis Daerah Aliran
a.       Sungai Antecendent, yaitu sungai yang mengalir pada suatu daerah dan dapat mempertahankan alirannya setelah daerah tersebut mengalami pengangkatan.
b.      Sungai Superimposed (Superposed), merupakan sungai yang menembus dindingterjal didataran nyaris.
c.       Sungai Anaclinal, merupaka sungai antencendent yang terngkat miring karena pengangkatan.
d.      Sungai Reverse, merupakan sungai yang tidak dapat menahan aliran setelah terangkat miring.
e.       Sungai Resureted, merupakan sungai yang dapat mempertahankan aliran setelahterjadi pengangkatan.
f.       Sungai Compound, sungai yang mengalir di daerah aliran sungai dengan stadiayang berbeda-beda.
g.      Sungai Composite, sungai yang mengalir di daerah aliran sungai dengan strukturgeologi yang berbeda-beda.
3.      Pola Aliran Sungai ( Drainage Pattern)
aliran sungai tergantung pada:
a.       Letak atau bentuk lapisan batuan.
b.      Bentuk lapisan batuan.
c.       Kekerasan permukaan tanah.
d.      Keberadaan retakan, kekar, atau patahan.
e.       Struktur geologi suatu daerah.


7
Secara umum pola aliran sungai dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a.       Pola Dendritis, merupakan pola aliran sungai yang bercabang- cabang seperti bentuk cabang pohon.
b.      Pola Rectangular, merupakan pola aliran sungai yang membentuk sudut 90° atau menyiku terhadap induk sungai, biasanya terdapat didaerah patahan atau retakan batuan kristalin. 
c.       Pola Annular, merupakan sungai yang memiliki anak sungai yang membentuk sudut diagonal.
d.      Pola Radial, yaitu bentuk sungai yang mempunyai pola menjari. Pola aliran ini terbagi menjadi dua, yaitu:
Ø  Sentrifugal menjari menjauhi pusat.
Ø  Sentripetal menjari menuju pusat.
e.       Pola Trellis, merupakan pola aliran sungai yang memotong melintang fornmasi batuan dan terhubung kesungai utama, umumnya terdapat pada pegununganlipatan dengan stadia dewasa
.
E.     Topografi Hasil Deposisi Aliran atau Penimbunan
Topografi ini berhubungan dengan daerah-daerah penimbunan, seperti lembah-lembah sungai besar yang berstadia dewasa atau tua. Secara alami, proses yang disebabkan oleh kerja sungai yang mempunyai aktivitas yang erat hubungannya yaitu erosi, transportasi dan penimbunan.Adapun berbagai topografi sebagai hasil deposisi aliran/penimbunan adalah sebagai berikut:
1.      Kipas Alluvial (Alluvial Fan) Kipas alluvial merupakan kipas atau kerucut rendah dari akumulasi kerikil danpasir, terjadi pada mulut suatu jeram atau lembah dari suatu pegunungan yang berbatasan dengan dataran.Alur sungai dalam suatu kipas alluvial ditandai adanya sistem distribusi alur yang radial dan braided mulai dari kepala kipas (apex) dengan lembah yang sempit dan dalam pada kepala kipas serta berangsur-angsur ke bawah kipas tingkat braided sungainya bertambah besar. Kenampakan kipas alluvial dari foto udara mempunyai karakteristik sebagai berikut:
a.       Bentuknya seperti kipas dengan lembah yang sempit pada apex.

8
b.      Mempunyai topografi dengan permukaan kipas yang cembung dan lereng berkisar antara 1-12° tetapi di bagian apex dapat lebih besar sudut lerengnya.
c.       Terutama di daerah kering (aride) mempunyai aliran braided yang radial.
d.      Vegetasi, biasanya jarang sebab aliran sungai bersifat intermitten, kelembabantanah rendah.
e.       Rona kelabu cerah hingga putih dengan bercak hitam dari vegetasi.
2.      Crevasse-splays Ketika banjir besar jumlah air dan sedimen yang melimpah ke dataran banjir sekitar sungai juga besar. Sebagian besar luapan terjadi pada bagian tanggul alam yang rendah (cekung). Akibat dari kuatnya aliran maka tanggul alam terpotong danmembentuk celah (crevasse). Dengan adanya crevasse tersebut maka banyak sedimenyang terangkut melalui celah dan terendapkan pada dataran banjir membentuk lidahsedimen. Crevasse-splays ini umumnya terjadi pada lengkung luar (outer band)suatu alur sungai.
3.      Tanggul Alam (Natural levee)
Tanggul Alam merupakan akumulasi sedimen berupa igir/tanggul memanjang dan membatasi alur sungai. Tinggi maksimum suatu tanggul alam terdapat padabagian tepi dalam tanggul yang berbatasan dengan alur sungai, dengan lereng yang curam.
Tanggul alam mempunyai struktur berlapis karena terbentuk oleh seserien dapan sedimen pada saat banjir meluap melampaui tanggul sungai. Akibatkecepatan aliran yang menurun maka terjadilah pengendapan sedimen. Materialsedimen yang kasar diendapkan dekat alur sungai sedang yang lebih halus terangkut jauh ke arah dataran banjir.
4.      Point BarPoint Bar merupakan kenampakan morfologis yang umumpada sungai yangsedang mengalami meandering dan pada saat yang bersamaan pengendapan pointbar merupakan proses sedimentasi yang dominan di dalam alur sungai tersebut.Bentuk dan ukuran point bar bervariasi tergantung pada besarnya alur sungai sertaberkembang pada bagian lengkung dalam (inner band) alur sungai.
5.      Di dalam point bar terdapat igir-igir (scroll) yang diselingi oleh alur (swales) dengan kedudukan hampir sejajar satu sama lain. Masing-masing scroll dan swales menunjukkan terjadinya migrasi alur secara lateral pada masing-masing banjir yang terjadi.
9
Pada swales sering terisi material halus, tetapi secara keseluruhan tekstur darimaterial point bar tergantung pada keadaan sedimen yang terangkut pada saat terjadi banjir. Kelerengan umumnya miring ke arah aliran menuju lengkung luar.
6.      Dataran banjir (flood plain) Tersusun dari timbunan material lepas yang yang berasal dari sedimen yang diangkut sungai didekatnya. Mempunyai topografi datar dan merupakan daerah yang sering tergenang air banjir dengan periode ulang antara 1-2 tahun. Karakteristik dataran banjir:
Ø  Tersusun dari timbunan material lepas yang diangkut dari sungai di dekatnya yang kasar didekat aliran sungai.
Ø  Topografi rendah dengan elevasi rendah.
Ø  Terletak di kanan kiri sungai atau dekat pantai.
Ø  Belum terjadi perkembangan tanah karena sering secara mendadak mendapattambahan material baru.
7.      Cekungan fluvial (fluvial flood basin)Tersusun dari material sangat halus dari muatan suspensi, dengan tebal sekitar1-12 cm untuk setiap periode banjir.
Ciri-cirinya:
Ø  Ukuran dan bentuk cekungan fluvial pada umumnya memanjang dan sejajardengan arah alur sungai.
Ø  Di daerah tropis selalu tergenang air.
Ø  Dicirikan oleh tumbuhan air, seperti welingi, enceng gondok, kangkungan,teratai.
Ø  Merupakan bagian terendah dari dataran banjir.
8.      Teras alluvial (alluvial terraces) Teras alluvial adalah suatu bentuk lahan yang dibatasi oleh dinding berlerengcuram di suatu sisi dan lereng yang landai di sisi lain.
Karakteristik teras alluvial:
Ø  Terjadi pada endapan alluvium yang mengisi dasar lembah.
Ø  Pada dasar lembah yang lebar terjadi pemotongan ke bawah (down cutting) olehsungai (degradasi).
Ø  Pada saat yang sama terjadi pemotongan ke samping sehingga terjadi pemindahan(shifted) alur sungai ke arah lateral pada dataran banjir, akibatnya terjadi satu pasang teras.
10
Ø  Pendalaman lembah dan perpindahan ke samping berulang-ulang, terbentuk beberapa pasang teras sungai.
Ø  Kadang-kadang bentuk teras sungai disebabkan karena komposisi batuan(struktur batuan), disebut scabland dan scab rock 
9.      Delta Terjadi apabila material yang dihanyutkan sungai sempat mengendap di muara sungai dengan aliran yang tenang tanpa adanya pengaruh gelombang atau arus, dapat terjadi di laut atau di danau. Syarat-syarat untuk perkembangan delta:
Ø  Daerah aliran sungai luas
Ø  Debit sungai tinggi
Ø  Sedimen yang terangkat banyak 
Ø  Daerah tropis basah
Ø  Dasar laut dangkal
Ø  Arus dan gelombang lemah
Ø  Topografi pantai landai
Bentuk-bentuk delta:
a.       Delta berbentuk kipas (arcuate delta)
Terjadi dari endapan sungai yang membawa berbagai jenis dan kualitas material(kasar, halus, koloid dan larutan). Delta yang terbentik bersifat porous, sehingga mempunyai ciri khas terdapat kanal-kanal tidak beraturan (braided channel). Alirannya akan menjadi lebih hebat jika terdapat di daerah aride/semi aride.
b.      Delta pengisian estuarium (estuarine fiiling delta)
Delta ini terdapat di muara-muara sungai sungai yang berbentuk corong (eustarium), terjadi sebagai akibat  perubahan pasang-surut dengan perbedaan yang cukup besar. Pada saat pasang materi kasar-halus seluruhnya terangkat arus laut danarus sungai, saat surut materi diendapkan, materi halus dihanyutkan ke arah laut. Padasaat pasang berikutnya material yang sudah mengendap diikat oleh materi halus.
c.       Delta berbentuk kaki burung (bird’s foot delta)
Terjadi dari endapan material homogen halus ditambah dengan material larutan kapur.
11
Kanal yang berbentuk tunggal dan dalam, bercabang apabila suatu titik tertentu aliran air dapat meluap karena letaknya yang rendah atau lemah. Cabang ini sekaligus membentuk kanal-kanal sekunder atau tersier.
d.      Sungai mati dan danau tapal kuda (oxbow lake)
Sungai mati adalah dasar sungai yang sudah tidak aktif lagi karena ditinggalkanalur sungai oleh aliran sungai dan pindah ketempat lain (proses meandering). Danau berbentuk tapal kuda (oxbow lake), terjadi karena ada pemotongan aliran sehingga yang tertinggal berupa genangan yang bentuknya melengkung seperti tapalkuda.
Ada tiga cara pemotongan sungai:
Ø  Chut cut off  sungai memotong sisi terluar meander karena adanya fluktuasi arus yang sangat kuat.
Ø  Neck cut off  sungai memotong meander stadia tua pada bagian leher karena arus terhalang oleh endapan pada meander tersebut, sehingga arus sungai cenderung mencari jalan pintas.
Ø  Avulsi cabang sunagi braided tidak memperoleh aliran karena terhalang endapan pada pertemuan antara cabang dengan sungai aktif.












12
BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Bentuk lahan basah (fluvial) adalah bentuk lahan yang terjadi akibat pengaruh aktifitas aliran (streams).
Topografi yang terbentuk dari proses fluvial dicirikan dengan daerah-daerah penimbunan, seperti lembah-lembah sungai besar yang berstadia dewasa atau tua. Secara alami, topografi ini merupakan hasil dari proses yang disebabkan oleh kerja sungai yang mempunyai aktivitas yang erat hubungannya yaitu erosi, transportasi dan penimbunan.






















13

Artikel Terkait

Artikel Terkait

Bagikan