.comments-page { background-color: #00BFFF;} #blogger-comments-page { padding: 0px 5px; display: none;} .comments-tab { float: left; padding: 5px; margin-right: 3px; cursor: pointer; background-color: #f2f2f2;} .comments-tab-icon { height: 14px; width: auto; margin-right: 3px;} .comments-tab:hover { background-color: #eeeeee;} .inactive-select-tab { background-color: #d1d1d1;} -->

Sunday, December 9, 2012

FAKTOR PEMBENTUK TANAH


1.      FAKTOR PEMBENTUK TANAH
a.      Iklim
Merupakan gejala cuaca pada jangka panjang, minimal permusim atau pe periodik atau per tahun dst. Iklim merupakan faktor yang amat penting dalam proses pembentuk tanah serta yang mempengarui tekstur tanah. Suhu dan curah hujan pun sangat berpengaruh terhadap itensitas reaksi kimia dan fisik didalam tanah. Adanya curah hujan dan suhu yang tinggi di daerah tropika menyebabkan reaksi kimia berjalan cepat sehingga pembentukan tanah dan tekstur tanah menjadi kompleks. (Hardjowigono, 2003)
b.      Bahan Induk
Jenis bahan induk akan menentukan sifat fisik maupun kimiawi tanah yang berbentuk secara endodinamomorf, tetapi pengaruhnya menjadi tidak jelas terhadap tanah-tanah yang terbentuk secara ektodinamomorf. Pengaruh bahan ini sangat jelas terlihat  pada tanah-tanah muda-dewasa, termasuk teksturnya. (Hanifiah, 2005)
c.       Topografi (Relief)
Kemiringan suatu wilayah mempengarui cepat lambatnya iklim, mempengarui jumlah air hujan yang meresap dalam tanah sehingga dapat mempengarui kandungan air, warna tanah, perkembangan horizon, reaksi tanah, dan kandungan garam. Sifat-sifat tanah yang umumnya berhubungan dengan relief/topografi adalah tebal solum, tebal dan kandungan BOT horizon A, warna tanah, kandungan air tanah, reaksi tanah, pH dll. (Hardjowigono, 2003)
d.      Organisme
Organisme atau jasad, hidup bersama dengan vegetasi atau mikrofora merupakan faktor yang paling berperan dalammempengarui proses genesis dalam perkembangan profil tanah, karena merupakan sumber utama biomasa atau bahan organik tanh (BOT).
(Hanifiah, 2005).
 Organisme dapat berupa bakteri, jamur, gangngang, protozoa, serangga maupun cacing memiliki banyak peranan bagi pembentukan tanah dan tekstur tanah, yaiu dapat melapukan bahan-bahan organik, menggemburkan tanah, memperkaya kandungan bahan organik dalam tanah dan udara bersih. (Sutedjo, 2005)
e.        Waktu
Proses pembentukan tanah berjalan dari batuan besar yang melapuk sehingga membentuk suatu horizon-horizon dan lapisan baru yang membutuhkan waktu yang sangat lama. Waktu merupakan faktor pasif, suatu jenis tanah yang sama tetapi berasal dari bahan induk dan iklim berbeda dapat mempunyai umur yang tidak sama atau sebaliknya. Maka kematangan suatu jenis tanah tidak saja bergantung umurnya tetapi lebih bergantung pada kelengkapan horizonnya. (Hanifiah, 2005)
2.      PENGERTIAN DARI:
a.       Tekstur Tanah yaitu  perbandingan antara fraksi pasir, debu dan liat dalam suatu massa tanah.
b.      Struktur Tanah  yaitu  susunan butiran tanah dalam suatu agregat yang dibatasi oleh batas alami dan dalam agregat terdapat pori – pori (mikrodan makro) yang dapat diisi oleh udara atau air.
c.       Warna Tanah yaitu sifat morfologi tanah yang mudah dilihat.Warna tanah tersusun dari “ hue”, yaitu warna – warna dasar yang terdiri dari warna merah, kuning, dan merah kuning.
d.      Konsistensi Tanah yaitu Konsistensi merupakan ketahanan tanah terhadap tekanan gaya-gaya dari luar, yang merupakan indikator derajat manifestasi kekuatan dan corak gaya-gaya fisik (kohesi dan adhesi) yang bekerja pada tanah selaras dengan tingkat kejenuhan airnya. Konsistensi ditetapkan dalamtiga kadar air tanah yaitu konsistensi basah, lemab, dan kering.
e.       Porositas Tanah yaitu proposi ruang pori total (ruang kosong) yang terdapat pada satuan volume tanah yang dapat itempati oleh air udara, sehingga merupakan indikator kondisi draenase dan aerasi tanah. Tanah yang poreus berarti tanah yang cukup mempunyai ruang pori untuk pergerakan air di udara, masuk keluar tanah secara leluasa. Sebaliknya, jika tanah tidak poreus komposisi tanah yang ideal adaah berasal dari kombinasi fraksi pasir, debu, dan liat dalam koposisi yang ideal, yaitu pada tanah berstruktur lempung, agar ketersediaan air, udara dan nutrisinya optimum.
f.       Permeabilitas Tanah yaitu kecepatan bergeraknya suatu cairan pada suatu media berpori dalam kondisi jenuh dinyatakan dalam cm/jam, mulai dari sangat lambat < 0,25 cm/jam sampai sangat cepat > 25 cm /jam.
g.      Horizon Tanah yaitu lapisan tanah yang kurang lebih sejajar dengan permukaan tanah, dengan sifat – sifat dan karakteritik yang dihasilkan oleh proses pembentukan tanah.
3.      MACAM – MACAM BENTUK STRUKTUR TANAH, SEBAGAI BERIKUT :
a.       Tipe Lempeng yaitu bentuknya sumbu horizontal lebih panjang dari sumbu vertikalnya. Biasanya terjadi pada tanah liat yang baru terjadi secara deposisi (deposited). Ciri-cirinya:
·         Sangat tipis < 1 mm
·         Tipis tebalnya antara 1-2 mm
·         Sedang antara 2-5 mm
·         Sangat tebal > 10 mm
·         Tedapat pada lapisan padas liat.
b.      Tipe Tiang
·         Sangat halus  panjangnya < 10 mm
·         Halus panjangnya antara 10 - 20 mm
·         Sedang antara 20 – 50  mm
·         Kasar antara  50 – 100 mm
·         Sangat kasar > 100 mm
·         Tanah pada daerah beriklim kering
c.       Tipe Gumpal
·         Sangat halus < 5 mm
·         Sedang 10 – 20 mm
·         Halus 5 – 10 mm
·         Kasar > 50 mm
·         Tanah ini terdapat pada daerah beriklim basah
d.      Tipe Remah
·         Sangat halus, diameter butir < 1 mm
·         Halus 1- 2 mm
·         Sedang 2 – 5 mm
·         Kasar 5 – 10 mm
·         Sangat kasar > 10 mm
·         Berbentuk bulat sangat porous
e.       Tipe Granuler yaitu Agregat yang membulat, biasanya diameternya tidak lebih dari 2 mm. Umumnya terdapat pada horizon A yang dalam keadaan lepas disebut “Crumbs” atau Spherical. Memiliki ciri-ciri berbentuk butir lepas – lepas dibedakan lagi atas kelas – kelas seperti pada tipe remah.
f.       Tipe Kubus (Bloky): Berbentuk jika sumber horizontal sama dengan sumbu vertikal. Jika sudutnya tajam disebut kubus (angular blocky) dan jika sudutnya membulat maka disebut kubus membulat (sub angular blocky). Ukurannya dapat mencapai 10 mm.
g.      Tipe Prisma yaitu bentuknya jika sumbu vertikal lebih panjang dari pada sumbu horizontal. Jadi agregat terarah pada sumbu vertikal. Seringkali mempunyai 6 sisi dan diameternya mencapai 16 mm. Banyak terdapat pada horizon B tanah berliat. Jika bentuk puncaknya datar disebut prismatik dan membulat disebut kolumner.
h.      Tipe Berbutir Tunggal sebenarnya bukan struktur, melainkan campuran butir  butir tunggal yang kasar tanpa bahan pengikat agregat umumnya dijumpai pada tanah-tanah pasir, pasir berlempung, pasir berdebu.
i.        Tipe Pejal, ini juga bukan struktur, tetapi disini kohesinya sangat besar sehingga jadi pejal biasanya dijumpai pada horizon yang lebih dalam atau gumpalan tanah pejal hasil pembajakan.
Gambar struktur tanah seperti dibawah ini:
IMG_0009
IMG_0004
IMG
4.      CARA MENENTUKAN HORISON TANAH DI LAPANG
Horison ditentukan di lapang dengan jalan membuat profil atau penampang tanah. Profil tanah adalah lubang yang digali pada tanah dengan ukuran panjang, lebar dan dalam berturut – turut 100,150, dan 250 cm. Dalamnya agak bervariasi, pada prinsipnya sampai bahan induk tanah. Ukuran profil dapat lebih sempit dan dangkal pada tanah – tanah yang dangkal. Salah satu bidang tegak profil lurus profil, yang terkena sinar matahari, diambil sebagai bidang tempat deskripsi profil. Dengan sebuah pisau dan meteran, horison atau lapisan profil dicukil – cukil dilihat waran, tekstur, struktur, dan konsistensinya. Kemudian ditentukan tebal, batas peralihan dan bentuk batas peralihan dengan patokan sebagai berikut :
·         Tebal, ditentukan dengan sentimeter
·         Batas peralihan horizon,  ditentukan dengan patokan 4 batas lapisan yakin, nyata, jelas, berangsur dan baur
·         Bentuk dari batas peralihan ditentukan dengan patokan bentuk batas yakni, rata, berombak, tidak teratur dan terputus.
5.      TIGA JENIS TANAH:
a.      Tanah Latosol
Tanah latosol yaitu tanah yang banyak mengandung zat besi dan aluminium. Tanah ini sudah sangat tua, sehingga kesuburannya rendah. Tanah  latosol memiliki pH 4,5-6,5. Warna tanahnya merah hingga kuning, sehingga sering disebut tanah merah. Tanah latosol yang mempunyai sifat cepat mengeras bila tersingkap atau berada di udara terbuka disebut tanah laterit. Tanah latosol tersebar di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, JawaTimur, Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua. Tumbuhan yang dapat hidup di tanah latosol adalah padi, palawija, sayuran, buah-buahan, karet, sisal, cengkih, kakao, kopi, dan kelapa sawit.
Latosol tersebar di daerah beriklim basah, curah hujan lebih dari 300 mm/tahun, dan ketinggian tempat berkisar 300–1.000 meter. Tanah ini terbentuk dari batuan gunung api kemudian mengalami proses pelapukan lanjut.
Ciri-cirinya tanah latosol :
v  terbentuk akibat pelapukan induk batuan tufa vulkanik
v  terbentuk di wilayah beriklim basah dengan curah hujan antara 2000-7000 mm per tahun
v  tahan terhadap erosi
v  memiliki produktifitas sedang hingga tinggi
v  Mempunyai sifat cepat mengeras bila tersingkap atau berada di udara terbuka
Tanah latosol di bedakan atas dua jenis, yaitu:
Tanah Latosol Berdasarkan Warna
  1. Latosol merah; terdapat di Pasekaran Pekalongan Jateng
  2. Latosol merah kekuningan; terdapat di Cibinong
  3. Latosol coklat kemerahan; terdapat di Citajam Bogor
  4. Latosol coklat; terdapat di Kanjana Bogor
  5. Latosol coklat kekuningan; terdapat di Sukamahi Bogor
  6. Latosol merah ungu; terdapat di Pleihari Kalsel
Tanah Latosol Berdasarkan Sifat Humus
  1. Low Humic Latosol; dengan horizon A1 sangat lemah, pH 6-7, terdapat di tempat tinggi < 2.000 feet, curah hujan < 40 inci/th, bulan kering nyata, vegetasi rumput pendek, kaktus dan algaroba
  2. Humic Latosol; horizon A1 mengandung banyak bahan organik, pH < 5, terdapat di tempat tinggi hingga 2.500 feet, curah hujan 40-100 inci/th, vegetasi hutan lebat yang pendek
  3. Ferruginous Humic Latosol; di horizon A terkumpul mineral resisten seperti magnetit, ilmenit yang cenderung membentuk kerak dengan pH asam hingga pH 6
  4. Hydrol Humic Latosol; horizon A1 kelabu, terdapat di daerah tinggi, curah hujan 150-350 inci/th tanpa bulan kering, vegetasi hutan lebat.
gambar tanah latosol seperti gambar di samping ini,
      Tanaman yang dapat diper-gunakan atau di tanam di daerah ini  adalah padi (persawahan), sayur-sayuran, dan buah-buahan, palawija, kelapa sawit, karet, cengkeh, kopi, lada, dll. Secara keseluruhan tanah ini mempunyai sifat-sifat fisik yang baik akan tetapi sifat-sifat kimianya kurang baik.
b.      Tanah Aluvial
Tanah aluvial adalah tanah yang terbentuk dari material halus hasil pengendapan aliran sungai di dataran rendah atau lembah. Tanah aluvial ini terdapat di pantai timur Sumatra, pantai utara Jawa, dan di sepanjang Sungai Barito, Mahakam, Musi, Citarum, Batanghari, dan Bengawan Solo.
Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami perkembangan. Bahannya berasal dari material halus yang diendapkan oleh aliran sungai. Oleh karena itu, tanah jenis ini banyak terdapat di daerah datar sepanjang aliran sungai. Tanah Alluvial pada proses pembentukannya sangat tergantung dari bahan induk asal tanah dan topografi, punya tingkat kesuburan yang bervariasi dari rendah sampai tinggi, tekstur dari sedang hingga kasar, serta kandungan bahan organic dari rendah sampai tinggi dan pH tanah berkisar masam, netral, sampai alkalin, kejenuhan basa dan kapasitas tukar kation juga bervariasi karena tergantung dari bahan induk (Hardjowigeno, 1985). Alluvial atau Inceptisol memiliki pH yang sangat rendah yaitu kurang dari 4, sehingga sulit untuk dibudidayakan. Alluvial atau Inceptisol yang bermasalah adalah sulfaquepts yang mengandung horizon sulfuric ( cat clay ) yang sangat masam (Munir, 1996). Tanah Alluvial memperlihatkan awal perkembangan biasanya lembab atau basa selama 90 hari berturut-turut. Umumnya mempunyai lapisan kambik, karena tanah ini belum berkembang lanjut dan kebanyakan tanah ini cukup subur. Alluvial atau Inceptisol merupakan tanah-tanah yang memiliki epipedon dan okrik, horizon albik (Hardjowigeno, 1995). Akumulasi besi sulfide dan oksidanya penting pada sejumlah besar tanah Alluvial. Bakteri memerlukan bahan organic dan merupakan obligat anaerob. Bakteri ini aktif mulai dari 0-700 C, pH hingga 5 sampai 9 dan konsentrasi NaCl 12% (Lopulisa, 2004).
Ciri-ciri tanah aluvial :
v  Sifatnya tergantung dari asalnya yang dibawa oleh sungai.
v  Tanah aluvial yang berasal dari gunung api umumnya subur karena banyak mengandung mineral. Tanah ini sangat cocok untuk persawahan.
v  Penyebarannya di lembah-lembah sungai dan dataran pantai, seperti misalnya, di Kerawang, Indramayu, Delta Brantas.

Gambar tanah aluvial :

c.       Tanah Pedzolik

Tanah podzolit adalah tanah yang terjadi dari pelapukan batuanyang mengandung kuarsa pada iklim basah dengan curah hujan 2500-3500 mm/tahun. Sifat  tanah podzolik ini basah, jenis tanah ini banyak terdapat di pegunungan dan seperti di Nusa Tenggara. Tanah ini sangat baik untuk lahan perladangan, kebun karet, teh dan kopi. Tanah podzolik memiliki kesuburan hingga sedang, warna merah atau kuning, memiliki tekstur yang lempung atau berpasir, memiliki pH rendah, serta memiliki kandungan unsur alumunium dan besi yang tinggi. Tingkat permeabilitas, infiltrasi dan perkolasinya adalah sedang hingga lambat, pada lapisan permukaan umunya sedang dan makin ke bawah makin lambat. Penyebaran tanah podzolik terutama di sepanjang sungai-sungai besar yang terdapat di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya dan di pelembahan-pelembahan serta dataran tinggi.






Gambar tanah podzolik seperti gambar di bawah ini :
Karakteristik tanah podzolik, antara lain :
a.       Daya simpan unsur hara sangan rendah karena sifat lempungnya yang beraktivitas rendah.
b.      Kejenuhan unsur basah seperti K, Ca, dan Mg, rendah sehingga tidak memadai untuk tanaman semusim.
c.       Kadar bahan-bahan organik rendah dan hanya terdapat di permukaan tanah.
d.      Daya simpan air sangat rendah, sehingga mudah mengalami kekeringan.



















NOMER 6
JURNAL
GEOGRAFI TANAH















DAFTAR PUSTAKA

http://bbsdlp.litbang.deptan.go.id/sistem-klasifikasi-tanah-nasional/index.
Munir, Moch. 1995. Tanah-Tanah Utama di Indonesia Karakteristik, Klasifikasi dan pemanfaatannya. Pustaka Jaya. Jakarta.
Nugraha, J.R. 1984. Diktat Ilmu Tanah. Direktorat Program Diploma, Institut Pertanian Bogor. Bogor.Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 2000. Sumber Daya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.
Sanchez, P. 1976. Propreties and Management of Soil in the tropics. John Willey & Sons. Inc. 411p.
Soepraptohardjo, M. dkk. 198?. Pedoman Pengmatan Tanah di Lapang. Lembaga Penelitian Tanah, Departemen Pertanian. Bogor
Modul matakuliah Geografi tanah, Drs. Dwiyono Hari Utomo,MSi.


Artikel Terkait

Bagikan